Abiwodo

Penulis adalah Praktisi Perbankan
Ekonomi

Speed of Organization dan Ketahanan Perbankan

Speed of Organization dan Ketahanan Perbankan
Ilustrasi uang (ISTIMEWA)

AKURAT.CO Pandemi Covid-19 telah mendorong organisasi meniadakan batasan dan menghancurkan silo melalui cara yang belum terpikir oleh siapa pun. Mereka telah merampingkan keputusan dan proses, memberdayakan para CEO garis depan, dan menangguhkan hierarki dan birokrasi yang bergerak lambat atau sering disebut sebagai step-up execution excellence.

Sebuah organisasi saat ini dirancang untuk kecepatan akan melihat hasil yang lebih kuat, termasuk respon pelanggan yang lebih besar, kemampuan yang ditingkatkan, dan kinerja yang lebih baik, dalam hal efisiensi biaya, pendapatan, dan pengembalian modal. Asa organisasi yang cepat mungkin juga memiliki tujuan yang lebih tinggi dan kesehatan organisasi yang lebih baik.

Mungkinkah kita bisa menghindarinya? Keberhasilan organisasi yang ditempa apalagi dengan situasi kontraksi ekonomi yang terjadi, perlu ditanamkan ke dalam model operasi baru; dan para CEO harus memastikan organisasi mereka tidak kembali ke perilaku dan proses usang. Itu membutuhkan dan membuat perubahan struktural permanen yang dapat mempertahankan kecepatan dengan cara yang akan menginspirasi dan melibatkan karyawan.

baca juga:

Saatnya organisasi bergerak cepat. Ya, speed of organization sudah menjadi tuntutan. Benarkah? Saat perusahaan mengadopsi cara baru untuk bekerja dengan cepat, para eksekutif juga tertarik untuk pindah ke struktur non-hierarki yang lebih datar, mengambil pendekatan yang lebih radikal dalam pengambilan keputusan dan cara kerja. Lewatlah sudah hari-hari menunggu praktik terbaik muncul. Para CEO menyadari kebutuhan untuk beralih dari kecepatan berbasis adrenalin selama Covid-19 ke kecepatan yang dirancang untuk jangka panjang.

Lalu Bagaimana dengan Perbankan?

Baiklah di sini akan kita bahas satu persatu. Kita belum lepas dari pandemi Covid-19 yang nyaris melumpuhkan ekonomi negara karena segalanya sempat terasa bergerak begitu lambat. Sehingga untuk bangkit kembali segala sektor bisnis harus bergerak cepat terutama bank-bank umum yang ada di Indonesia. Bank harus meningkatkan kecepatannya dalam bergerak untuk menunjukkan performa terbaiknya. Lantas, apa speed of organization itu dan bagaimana speed of organization mempengaruhi institusi bisnis seperti bank? Dan bagaimana peran akhlak BUMN pada speed of organization?

Speed of organization secara umum dipahami sebagai salah satu esensi dari karakter bisnis yang dibutuhkan untuk berkembangnya suatu bisnis dengan cepat tanpa jeda.

Agar lebih mudah untuk memahami, mari kita umpamakan sebuah institusi bisnis ini sebagai pelari marathon. Seorang pelari yang ingin memberikan hasil terbaik harus bisa berada pada level kesehatan fisik yang prima, dengan meningkatkan enduran dan kecepatan. Sang pelari marathon ini juga perlu meningkatkan ketangguhan mentalnya sehingga selama perlombaan mereka dapat memanfaatkan cadangan kekuatan mental mereka untuk terus berjalan meskipun tubuh mereka memberi sinyal untuk berhenti.

Namun, pencapaian yang ekstrim ini tidak sebatas butuh ketangguhan tubuh dan pikiran saja, tapi si pelari marathon melihat lari jarak jauh ini sebagai perjalanan spiritual dan untuk mencapainya sang pelari ini perlu menggabungkan tubuh dan pikiran yang kuat dengan motivasi intrinsik yang mendalam yang berasal dari tujuan dan pelajaran makna hidup.

Dari sini maka bisa kita lihat bahwa speed of organization itu harus bisa menyentuh segala aspek-aspek penting dalam sebuah institusi bisnis. Aspek-aspek penting itu antara lain; tujuan dan semangat sebagai wujud motivasi yang mampu mendorong awak organisasi untuk bergerak, proses dan platform sebagai pendukung nyata yang mampu membuat organisasi menyelesaikan masalah dengan cepat. Aspek-aspek ini membuka peluang sebuah organisasi atau institusi bisnis untuk bisa berlari lebih cepat dari pesaing mereka.

Kecepatan dalam organisasi dapat diukur berdasarkan seberapa cepat keputusan yang diambil, waktu yang dibutuhkan untuk memasarkan produk dan layanan baru, kecepatan respon pelanggan, dan kecepatan proses. sebuah institusi bisnis mampu mengidentifikasi perlunya perubahan besar dalam mengatasi masalah yang terjadi di sekitarnya.

Sehingga di sini lah pentingnya kecepatan kolaboratif antar karyawan dari teman atau divisi yang berbeda-beda untuk menumbuhkan inovasi baru agar masalah yang sedang dihadapi bisa teratasi.

Sejatinya dalam hal bisnis, langkah ini perlu ditempuh jika institusi bisnis seperti bank ingin terus bertahan dan mendominasi pasar. Semua komponen bisnis harus bergerak bersama dan dengan kecepatan yang sesuai dengan pesaing perusahaan.

Sebagaimana pihak yang cepat akan mampu mendominasi pihak yang lambat. Sehingga inilah yang menjadi alasan kenapa speed of organization itu diperlukan dalam perbankan. Kecepatan dalam sebuah institusi bisnis dapat membuat badan usaha itu mampu menembus setiap aspek organisasi untuk saling terkoneksi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa internet sebagai instrumen bisnis telah berhasil menjawab tantangan ‘kebutuhan akan kecepatan’ di era digitalisasi ini. Benar-benar on the market melalui penetrasi yang dalam dan digital based network.

Namun, komponen yang memungkinkan adanya ‘speed’ dalam perusahaan masih harus didukung dengan kompetensi karyawan. Maka, hal yang perlu dipertanyakan di sini adalah, sudahkah bank umum di Indonesia atau insan BUMN ini memiliki sifat agile dalam konteks development? khususnya di era serba digital atau berbasis teknologi ini?

Dua tahun belakangan, Kementerian BUMN membentuk sebuah core values BUMN yang menjadi pilar dasar dengan sebutan AKHLAK. Core Values AKHLAK melahirkan budaya agile di BUMN. Sejumlah BUMN di Indonesia wajib menerapkan core values AKHLAK sebagaimana zaman kini menuntut bank untuk lebih lincah dalam bergerak dan menyesuaikan diri, mampu menguasai sisi konvensional dan digital agar bisa bertahan.

Pendekatan agile yang bersumber dari core values AKHLAK memungkinkan bank sebagai institusi bisnis untuk merekonstruksi DNA organisasinya agar dapat berpusat pada pelanggan dan pasar. Sebagai contoh, salah satu langkah yang Bank coba lakukan yaitu memperbesar pangsa pasarnya namun dengan cara yang berbeda. Men-digitalisasi bank atau bahkan Bank Digital menjadi sebuah capaian saat ini.

Selain itu bank juga dituntut untuk terus menekan biaya operasional demi memberi pelayanan yang lebih efisien. Dengan demikian, Bank harus mulai melakukan perencanaan strategis untuk menekan biaya operasional namun tetap menjaga kestabilan laba dalam level aman. Sehingga bank bisa memastikan keberlanjutan operasional untuk kedepannya tetap terjaga. Bank juga lebih fokus untuk berinvestasi pada teknologi sebagai bentuk antisipasi kondisi saat ini memasuki dunia digital melalui transformasi.

Dari contoh ini, maka bisa dikatakan kalau institusi perbankan sudah menerapkan ‘budaya agile’, meskipun masih butuh evaluasi lagi untuk bisa lebih baik kedepannya. Institusi perbankan sudah mampu beradaptasi dengan cepat menghadapi perubahan industri perbankan modern saat ini.

Apa lagi, dengan kini menjadikan AKHLAK sebagai dasar fundamental, maka ketahanan perbankan dalam era disrupsi teknologi bisa dikatakan telah teruji dengan baik, sebagaimana industri perbankan sudah melakukan akselerasi transformasi digital sebagai upaya membangun ketahanan perbankan.

Kalo sudah begitu, takkan rapuh lagi...eaa.