News

Soroti Sistem Pendidikan selama Pandemi Covid-19, Peneliti BPS Beberkan Pentingnya Pemanfaatan Data

"Tak semua guru punya kesiapan yang sama, tak semua siswa punya lingkungan pendukung yang sama di rumah," catat Sri Hartini Rachmad, MPS, MA.


Soroti Sistem Pendidikan selama Pandemi Covid-19, Peneliti BPS Beberkan Pentingnya Pemanfaatan Data
Tiga siswi di desa Kenalan, Magelang, Jawa Tengah, terpaksa duduk di bahu jalan demi mendapatkan sinyal yang stabil untuk belajar daring. (New York Times)

AKURAT.CO, Pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini telah sangat mengubah cara manusia bekerja, menghadapi bencana, dan kerasnya kehidupan. Semakin banyak orang yang sadar bahwa kita harus hidup di tengah kecepatan dan beradaptasi dengan baik. Sayangnya, percepatan transformasi dan pengembangan sosial tampaknya masih jauh untuk merumuskan pendekatan dan model yang baru diadaptasi.

Menurut sejumlah temuan penelitian, seperti Schuler (1996) dan Comptia (2020), teknologi informasi dapat berkontribusi pada keberhasilan pengembangan layanan sosial yang efektif yang memiliki jangkauan luas di bidang jasa manusia. Hal ini terlihat terutama dalam penggunaan kumpulan statistik dan basis data komunitas. Meski begitu, banyak komunitas yang terlibat dengan literasi informasi belum sepenuhnya siap, sehingga layanan tersebut dapat menjadi kontraproduktif sampai masalah tersebut diselesaikan.

Untuk itu, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram berinisiatif untuk memanfaatkan ide-ide segar, peralatan, dan metode masyarakat tertentu dan keterampilan digital guna memanfaatkan peluang dan perkembangan di era penuh tantangan. Inisiatif ini diwadahi melalui webinar internasional pada 22 dan 23 September bertajuk 'Keterampilan Pasca-pandemi Apa yang Kita Butuhkan untuk Maju? Perspektif Kesejahteraan Masyarakat'.

Salah satu topik penting yang dibahas dalam webinar ini adalah 'Pemanfaatan Kumpulan Statistik dan Basis Data Komunitas untuk Kesejahteraan Masyarakat' yang disampaikan oleh Sri Hartini Rachmad, MPS, MA, peneliti dari Badan Pusat Statistik Indonesia dan Politeknik Statistika STIS. Menurutnya, demi mewujudkan sistem pendidikan berkelanjutan di era penuh tantangan dan krisis, diperlukan kesiapan semua pemangku kepentingan yang terlibat di dalamnya. Jumlah kesempatan kerja dengan pasokan tenaga kerja terampil pun harus sesuai.

Soroti Sistem Pendidikan selama Pandemi Covid-19, Peneliti BPS Beberkan Pentingnya Pemanfaatan Data - Foto 1
Sri Hartini Rachmad, MPS, MA

Namun, kesempatan kerja saat ini tergeser otomatisasi dan pekerjaan kreatif. Pergeseran pekerjaan di pasar tenaga kerja digital pun tak kalah luar biasa. Sementara itu, terjadi lonjakan permintaan terhadap analisis prediksi di masa depan dan pengubahan kurikulum yang dinamis terhadap target penyerapan pekerjaan.

"Semua ini membutuhkan manajemen dan komunikasi yang hebat yang mengandalkan basis data individu yang diperbarui serta memelihara jaringan, baik selama maupun setelah proses pendidikan dalam hal pengawasan dan evaluasi, termasuk melacak alumni di komunitas," tulis Hartini.

Namun, ia menyayangkan para pengambil keputusan jarang memiliki data yang berguna tentang ada tidaknya peningkatan hasil belajar. Bahkan, jika data dikumpulkan, jarang ditindaklanjuti, misalnya evaluasi kinerja guru tahunan. Meski begitu, evaluasi ini tidak mempengaruhi keputusan tentang manajemen dan peningkatan tenaga kerja.

"Di sisi lain, kerangka kerja data ini akan memungkinkan pengelola sistem untuk belajar dari pengalaman, membandingkan intervensi, dan menetapkan kriteria standar untuk sukses, meingkatkan kemampuan mereka untuk memahami sistem mereka, dan mengimplementasikan solusi pada skala proyeksi," imbuhnya.

Hartini juga menyoroti sistem pendidikan yang dialihkan secara daring selama Covid-19. Dengan demikian, para siswa membutuhkan komputer dan akses internet. Sayangnya, hampir seluruh (87 persen) sistem pendidikan yang disurvei UNESCO selama penutupan sekolah mengeluhkan pembelajarannya terhambat akibat tidak meratanya akses ke infrastruktur digital.

Banyak negara lantas cepat-cepat berinvestasi untuk meningkatkan infrastruktur digital. Namun, mereka berfokus pada konektivitas, alih-alih perangkat keras untuk para murid.

"Program seperti 'Satu Laptop Satu Anak' pun tak berdampak banyak pada nilai matematika atau membaca. Mereka juga gagal meningkatkan sistem pembelajaran akibat berbagai sebab, mulai dari kurangnya listrik hingga kurangnya keterampilan atau ketidaktertarikan di kalangan para guru," ungkapnya.

Ia mengutip tulisan Pritchett pada 2015 yang menyebut pembelajaran adalah produk dari sistem pendidikan dengan segala kerumitannya, bukan dari buku teks atau komputer saja.

Hartini lantas merekomendasikan untuk memberdayakan semua sumber data guna melakukan peramalan dan analisis masa depan, kebijakan pendidikan tentang basis bukti data, meningkatkan keterampilan pengetahuan digital sebagai kebutuhan dasar bagi semua pendidik untuk sejalan dengan tantangan di era digital 4.0.

Kompetensi untuk bertransformasi dalam pembelajaran jarak jauh pun harus dimiliki semua pendidik. Selain itu, para penentu kebijakan harus memastikan pembelajaran masyarakat bersifat inklusif. Pasalnya, sistem pendidikan ditetapkan untuk melayani semua. Dengan teknologi digital saat ini, sistem inklusif akhirnya dapat menjadi kenyataan.

"Ketidaksetaraan melekat pada sistem pendidikan. Tak semua sekolah punya sumber daya yang sama, tak semua guru punya kesiapan yang sama, tak semua siswa punya lingkungan pendukung yang sama di rumah. Penggunaan data dapat mengidentifikasi kesenjangan ini secara real time, sehingga para pembuat kebijakan dapat secara proaktif menargetkan alokasi sumber daya," tuturnya.

Soroti Sistem Pendidikan selama Pandemi Covid-19, Peneliti BPS Beberkan Pentingnya Pemanfaatan Data - Foto 1
New York Times

Tak hanya itu, data dapat membantu mengidentifikasi tak hanya sekolah atau siswa mana yang tertinggal, tetapi juga pada mata pelajaran mana dan topik spesifik mana.

"Perangkat lunak semacam itu sudah dikantongi. Aplikasi ini menilai level siswa saat ini pada berbagai topik dan memberikan target pembelajaran," tambahnya.

Kesimpulannya, menurut Hartini, solusi teknologi baru perlu dirancang untuk menjangkau seluruh warga negara, bukan hanya mereka yang berpenghasilan tinggi yang mampu menikmati komputer pribadi, melek bahasa Inggris, dan akases internet berkecepatan tinggi. Pemanfaatan data dalam sistem pendidikan pun dapat memperkuat pembelajaran masyarakat dan membawa harapan untuk inklusi, asalkan disampaikan dengan baik.

Selain itu, diperlukan upaya khusus untuk menjangkau kelompok-kelompok yang terpinggirkan. Teknologi pendidikan juga tidak secara otomatis membuat siswa belajar, bahkan dapat meningkatkan ketidaksetaraan pendidikan, alih-alih menjembatani jurangnya.

"Sama seperti norma sosial yang melarang anak perempuan melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah, terbatasnya akses atas teknologi seluler menyebabkan ketidaksetaraan tak kunjung hilang, bahkan memperburuknya," terangnya.

Kesimpulan di atas mengindikasikan dibutuhkannya fasilitas negara, keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, kemitraan, dan perlindungan. Selain itu, diperlukan transparansi, keterbukaan, dan keamanan.

"Untuk memaksimalkan manfaat dari transformasi digital, pemerintah perlu melakukan upaya eksplisit untuk terlibat dan membangun solusi bagi orang-orang yang biasanya tertingga serta penyediaan infrastruktur dan suprastruktur. Inklusi seluruhnya juga tak boleh diabaikan dalam konteks pembangunan pendidikan," pungkasnya. []