News

Soroti IPK Rendah, Jaksa Agung: Cara Pikir Berantas Korupsi Harus Diubah

Kerja keras yang dilakukan aparat penegak hukum dinilai belum mampu mendongkrak IPK secara signifikan.


Soroti IPK Rendah, Jaksa Agung: Cara Pikir Berantas Korupsi Harus Diubah
Jaksa Agung ST Burhanuddin (Dok. Puspenkum)

AKURAT.CO, Jaksa Agung Republik Indonesia Burhanuddin menyoroti rangking Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia tahun 2020 sebesar 37, turun dari sebelumnya IPK Tahun 2019 sebesar 40. Berbagai kerja keras yang dilakukan aparat penegak hukum dinilai belum mampu mendongkrak IPK secara signifikan.

Jaksa Agung mengatakan, Kejaksaan sebagai Aparat Penegak Hukum sangat berkepentingan terhadap tinggi-rendahnya IPK. Sebab IPK merupakan potret dari kinerja kejaksaan dalam pemberantasan korupsi.

"Salah satu kekeliruan kita dalam menyikapi rendahnya IPK adalah dengan mengejar penanganan korupsi sebesar-besarnya, namun melupakan perbaikan sistem yang mengarah pada terwujudnya ekosistem yang berorientasi pada transparansi, akuntabilitas, dan persaingan usaha yang sehat," kata Jaksa Agung saat memberikan arahan kepada Kepala Kejaksaan Tinggi beserta jajarannya serta para Kepala Kejaksaan Negeri se-Sumatera Selatan, Sabtu (27/11/2021).

Untuk itu, Jaksa Agung RI mengajak Kajati dan Kajari untuk mengubah cara berpikir dalam memberantas korupsi dengan turut berorientasi pada perbaikan sistem. Salah satu langkah yang bisa dilakukam dengan memperhatikan beberapa indikator dalam IPK.

Indikator itu antara lain, penilaian tentang kaitan kebijakan politik dengan persaingan usaha yang sehat; penilaian tentang keberadaan suap di antara dunia usaha dengan pelayanan publik;  penilaian tentang resiko individu/perusahaan melakukan suap untuk menjalankan usahanya; penilaian tentang pandangan para pelaku usaha terhadap permasalahan korupsi di Indonesia.

Lalu, penilaian tentang tindak pidana korupsi beserta tingkat eselon tertinggi yang melakukan korupsi pada lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif;  Penilaian tentang kebiasaan pelaku usaha melakukan pembayaran kepada oknum untuk keuntungan pelaku usaha.

Kemudian penilaian tentang efektivitas pemidanaan korupsi terhadap pejabat publik, efektivitas penerapan penegakan integritas pada lembaga publik, serta tingkat keberhasilan dalam mencegah korupsi; penilaian tentang ketersediaan prosedur atau peraturan mengenai alokasi dan penggunaan dana publik yang transparan dan berakuntabilitas pada lembaga atau instansi yang menerima; penilaian tentang tindak pidana korupsi pada Lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, maupun polisi atau militer.

Maka untuk menaikkan IPK tersebut, Jaksa Agung meminta seluruh bidang untuk mendorong pemerintah setempat melakukan beberapa hal. Di antaranya legal audit guna memperbaiki sistem, mengutamakan pelayanan digital, baik melalui aplikasi maupun situs resmi yang aktual dan mudah diakses. Juga memberikan pelayanan prima yang cepat, mudah dan transparan, menunjukan akuntabilitas kinerja kepada masyarakat, menerbitkan standar operasional prosedur dan akuntabilitas penggunaan dana publik, membangun zona integritas dan meraih predikat wilayah bebas korupsi (WBK) - Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM).

"Jika hal ini dilakukan secara simultan dan penuh integritas, saya yakin akan mempersempit celah bagi para oknum untuk melakukan perilaku koruptif, sehingga akan menciptakan iklim usaha yang sehat dan kompetitif," terang Jaksa Agung. []