News

SOKSI dan CSIS Bahas Isu Kebangsaan

SOKSI berposisi menjaga konsistensi perjuangan untuk membangun kemajuan peradaban yang lebih baik dan bermartabat


SOKSI dan CSIS Bahas Isu Kebangsaan
Pengurus SOKSI berfoto bersama pendiri dan pengurus CSIS (Soksi)

AKURAT.CO Pimpinan Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) mendatangi kantor CSIS di Jakarta, Senin (11/10/2021). Kehadiran pimpinan SOKSI disambut para pendiri dan pengurus CSIS di antaranya Harry Tjan Silalahi, Jusuf Wanandi, dan J Kristiadi. Pertemuan tersebut berlangsung hangat. 

Ketua Umum SOKSI Ahmadi Noor Supit dalam sambutannya mengatakan, kerjasama yang dibangun dua lembaga telah terjalin sejak lama. Kerjasama diharapkan dapat menghasilkan solusi kebangsaan berdasar data dan forecasting dengan melandaskan pada prinsip idealisme

"SOKSI berposisi menjaga konsistensi perjuangan untuk membangun kemajuan peradaban yang lebih baik dan bermartabat," katanya Ahmadi. 

Dia mengatakan, persolan-persoalan bangsa yang muncul telah menjadi bagian dari tanggungjawab semua pihak tak terkecuali SOKSI dan CSIS. Baik persoalan politik transaksional, distrust kepemimpinan, oligarki dan dinasti politik, hilangnya jati diri dan budaya bangsa, separatisme, maupun korupsi. 

Sementara itu, Ketua Dewan Kehormatan SOKSI, Oetojo Oesman mengingatkan pentingnya melihat masa lalu untuk bisa meramal masa depan. 

Di sisi lain, peneliti CSIS, Jose Rizal optimis perekonomian Indonesia masih dalam kondisi baik dan mamupu bersaing, bahkan pasca pandemi. Masa Sukarno, kata dia, Indonesia pernah mengalami inflasi hingga 600 persen tetapi kemudian, hanya dalam setahun bs revovery lagi. 

"Strategi menjadi kunci. Kondisi Pandemi ini ekonomi masih terkontrol dan bisa berjalan, meskipun ada tiga permasalahan besar di tingkat global: inflasi tinggi (produksi tidak sejalan dengan permintaan), ledakan bubble di properti, dan suku bunga internasional terlalu tinggi sehingga perekonomian tersendat dan berpotensi menimbulkan dampak ekonomi yang serius. 

"Selain itu kewaspadaan akan krisis energi perlu dipertimbangkan, karena akan membuat pertumbuhan tersendat," ungkapnya. 

Dia mengatakan, Indonesia memiliki keunggulan SDA yang melimpah, kondisi ekonomi stabil, posisi suku bunga domestik dan hutang saat ini masih bagus, namun diperlukan membangun kerjasama ekonomi global dan internasional agar harmonisasi tercapai. 

Peneliti CSIS, Philip Vermontte justru mempertanyakan arah idealnya pembangunan Indonesia 2045 di tengah kondisi yang tidak stagnan, mempersiapkan diri berkompetisi dengan negara-negara lain sehingga effort kita harus ekstra dan bersifat strategis

Ketua Dewan Pakar CSIS, Bomer Pasaribu mengingatkan kondisi anomali Indonesia yang memiliki populasi terbesar tetapi kondisi ekonomi, kesenjangan dan produktivitas sangat rendah. 

"Indonesia masih dalam posisi revolusi 4.0 sementara dunia atau Eropa sudah beradaptasi dg revolusi 5.0; Bonus demografi, daya saing merosot, growth happiness rendah, korupsi kuat, gini ratio meningkat tajam, deindustrialisasi dll mjd kelemahan serius Indonesia," ungkapnya.[]