News

Soal Tugu Sepeda, Gembong: Kerja Ujug-ujug, Malam Mimpi Mau Bikin Patung, Besok Dibangun

Pembangunan tugu sepeda sebesar Rp800 juta merupakan pemborosan anggaran, meskipun bukan dana dari APBD


Soal Tugu Sepeda, Gembong: Kerja Ujug-ujug, Malam Mimpi Mau Bikin Patung, Besok Dibangun
Ketua Fraksi PDIP Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta Gembong Warsono. (AKURAT.CO/Yohanes Antonius)

AKURAT.CO, Ketua Fraksi PDIP DPRD  DKI Jakarta Gembong Warsono  mengkritik keras pembangunan tugu sepeda senilai Rp800 juta yang digagas  Gubernur Anies Baswedan. Menurutnya pembangunan tugu sepeda di atas  trotoar di kawasan  Sudirman  Jakarta Pusat itu adalah contoh proyek tanpa perencanaan yang matang. 

"Kerja kalau tidak menggunakan perencanaan ya begitu. kan kerja ujug-ujug. tiba-tiba tadi malam mimpi mau bikin patung, besok dibangun," kata Gembong ketika dikonfirmasi, Jumat (16/4/2021).

Gembong mengatakan, pemerintah seharusnya mampu menggagas suatu ide dengan melihat sisi manfaatnya, menurut dia, tugu tersebut sama sekali tidak bermanfaat bagi warga  Jakarta atau bisa membetot minat warga menggunakan kendaraan gowes itu sebagai salah satu transportasi alternatif. 

Adapun pembangunan tugu sepeda itu merupakan bagian dari pembangunan jalur sepeda permanen yang membentang sepanjang Jalan Sudirman, total anggarannya mencapai Rp28 miliar dengan anggaran tugu sepeda sendiri mencapai Rp800 juta. Sumber dana yang dipakai dari pihak swasta. 

"Soal sumber anggaran, itu kan salah satu sisi pendapatan yang sah dari APBD kita. dan itu sah-sah saja. Namun apapun, kan harus melihat  sisi manfaat bagi warga Jakarta. Apakah itu tidak bermanfaat? Melihat situasi yang sekarang belum menjadi hal yang sangat urgen, belum menjadi hal yang sangat prioritas. maka bekerja jangan berdasarkan mimpi," tegasnya. 

Senada dengan Gembong, Pengamat Tata Kota, Nirwono Joga menilai pembangunan tugu sepeda tidak berpengaruh sama sekali pada minat masyarakat Ibu Kota untuk beralih menggunakan sepeda sebagai alternatif alat transportasi untuk menempuh jarak pendek. 

"Pembangunan tugu sepeda sebesar Rp800 juta merupakan pemborosan anggaran, meskipun bukan dana dari APBD, tidak ada pengaruhnya untuk mendorong warga beralih bersepeda," kata Nirwono.

Menurut Nirwono, besaran anggaran Rp800 juta itu seharusnya dipakai untuk menggarap infrastruktur pendukung bagi para pesepeda, selain untuk menambah jalur permanen di wilayah lain di Jakarta, anggaran itu juga bisa dipakai membangun sarana prasarana pendukung seperti kelengkapan marka  jalan  hingga pembangunan tempat parkir sepeda. 

Dengan memadainya sarana prasarana pendukung, lanjut Nirwono, masyarakat bakal dengan sendirinya beralih menggunakan sepeda untuk menempuh perjalanan jarak pendek. Jadi tugu sepeda kata, hanya menjadi ornamen pelengkap yang sama sekali bukan menjadi prioritas. 

"Dana dari swasta sebesar Rp28 M dimana Rp800 juta  digunakan untuk tugu, seharusnya dapat digunakan untuk membangun infrastruktur pesepeda yang merata ke seluruh wilayah DKI, seperti pembangunan jalur sepeda sederhana, pemasangan rambu dan marka untuk rute sepeda, parkir sepeda di stasiun, mal, atau perkantoran," tandasnya.[]