Ekonomi

Jokowi Marah Akibat Impor LPG Rp80 Triliun, Said Didu: Kaset Kusut!

Mantan Sekretaris Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Muhammad Said Didu mengomentari sebuah unggahan di Twitter.


Jokowi Marah Akibat Impor LPG Rp80 Triliun, Said Didu: Kaset Kusut!
Mantan Sekretaris Kementrian BUMN Muhammad Said Didu mengkritik tegas pernyataan Jokowi terkait impor liquified petroleum gas (LPG). Ia menyebutkan pertanyaan Kepala Negara itu layaknya kaset kusut. (AKURAT.CO/Atikah Umiyani)

AKURAT.CO, Mantan Sekretaris Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Muhammad Said Didu mengomentari sebuah unggahan di Twitter.

Diketahui, postingan tersebut milik akun @BossTemlen yang memperlihatkan potongan video berisi pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait impor liquified petroleum gas (LPG). Adapun nilai impor tersebut mencapai Rp80 triliun.

“Enggak perlu impor, itu enggak perlu sebetulnya LPG itu. Karena bisa dibuat dari batu bara. Kita ini sangat melimpah, ya kok kita impor?”

baca juga:

“Lah ini yang senang impor ini yang, bukan saya cari, sudah ketemu lah siapa yang senang impor, sudah ngerti saya,” ujar Presiden Jokowi dalam potongan video tersebut, dikutip Rabu (26/1/2022).

Selain potongan video, akun @BossTemlen juga mengunggah tautan media online yang berisi berita terkait impor LPG tersebut.

“Terus Presiden ngomongnya kek gini? ni yang gila siapa coba?” cuit @BossTemlen di akun Twitternya.

Sontak unggahan itu menimbulkan berbagai reaksi dari warganet. Mayoritas komentar heran akan pernyataan Kepala Negara dalam video tersebut. Salah satunya Said Didu yang mengkritik dengan tegas bahwa pernyataan Jokowi itu layaknya sebuah kaset kusut.

“Kaset kusut. Ucapan 2014 di ulang lagi. Biasanya ini ‘kode’ kepada importir,” cuit akun @msaid_didu seperti dikutip Akurat.co, Rabu (26/1/2022).

Hingga Rabu siang pukul 13.00 WIB, unggahan akun @BossTemlen sudah di retweet sebanyak 524 kali dan mendapatkan 1.231 likes. Unggahan itu juga telah di quote tweet sebanyak 68 kali.

Sedangkan quote tweet Said Didu telah mendapatkan 81 komentar dan 191 retweet. Unggahan itu juga telah disukai sebanyak 663 kali.

Selain Said Didu, akun @budiwidagdo2 juga menuliskan “Modus umum penipu itu obral janji waktu belum dapat untuk yakinkan korbannya dan banyak berdaih, pura-pura marah dan pura-pura gak salah waktu sudah dapat karena takut ditagih janjinya,”

“Dari dulu kalau statement “udah saya cari! Udah ketemu siapa yang sering impor!” Ya sebutin aja pak punya siapa itu perusahaan,” sahut akun @tarakankita.

Seperti diberitakan sebelumnya, Presiden Jokowi mengungkapkan pemerintah dapat menghemat anggaran subsidi sebesar Rp60 triliun hingga Rp70 triliun di APBN apabila impor Liquid Petroleum Gas (LPG) dihentikan dan beralih ke penggunaan dimetil eter (DME).

“Kalau LPG nanti disetop semuanya, pindah ke DME, duit-nya gede sekali, Rp60 triliun - Rp70 triliun itu akan bisa dikurangi subsidinya dari APBN,” kata Presiden Jokowi saat meresmikan dimulainya pembangunan (groundbreaking) proyek hilirisasi batu bara menjadi produk dimetil eter (DME) di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Senin (24/1/2022).

Kepala Negara menambahkan, khusus dari proyek hilirisasi batu bara menjadi DME di Muara Enim, Sumatera Selatan yang dikembangkan PT Bukit Asam Tbk, PT Pertamina (Persero) dan Air Products & Chemical, dapat menghemat subsidi dari APBN sebesar Rp7 triliun.

Oleh sebab itu, Jokowi mendorong dilakukannya hilirisasi dan industrialisasi bahan mentah dari sumber daya alam. Artinya, batu bara berbentuk bahan mentah tidak langsung diekspor, namun melalui proses hilirisasi untuk menjadi produk setengah jadi atau jadi, yang bisa bernilai tambah dan dimanfaatkan untuk kebutuhan dalam negeri.

Dengan begitu, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, Indonesia tak perlu impor, dan bisa memperbaiki neraca transaksi berjalan yang merupakan salah satu penopang fundamental perekonomian.

“Ini yang terus kita kejar. Selain bisa memperbaiki neraca perdagangan kita karena tidak impor, memperbaiki neraca transaksi berjalan kita karena tidak impor,” jelasnya.[]