Rahmah

Soal Gelar Habib, Prof Quraish: Jangan Dianggap Istimewa yang Melebihi Kewajaran

Istilah Habib atau orang yang memiliki garis keturunan dengan Rasulullah SAW, ramai diperbincangkan masyarakat Muslim di Indonesia belakangan ini.


Soal Gelar Habib, Prof Quraish: Jangan Dianggap Istimewa yang Melebihi Kewajaran
Cendekiawan Muslim Indonesia Prof Muhammad Quraish Shihab (Tangkapan Layar YouTube Najwa Shihab)

AKURAT.CO  Istilah Habib atau orang yang memiliki garis keturunan dengan Rasulullah SAW, ramai diperbincangkan masyarakat Muslim di Indonesia belakangan ini. Bahkan dari perbincangan tersebut, tak sedikit yang menimbulkan pro dan kontra.

Menanggapi hal itu, Cendekiawan Muslim Indonesia Prof Muhammad Quraish Shihab menegaskan bahwa sebagaian masyarakat memberikan perhatian besar menyangkut dengan geris keturunan.

"Kita berkata sekarang, ratu-ratu Inggris itu ada garis keturunannya. Demikian juga halnya dengan nabi itu ada garis keturunannya," ujar Prof Quraish dikutip AKURAT.CO dari kanal YouTube Najwa Shihab yang diunggah pada 25 Januari 2022.

baca juga:

Lebih spesifik, Prof Quraish menjelaskan bahwa yang termasuk memiliki garis keturunan Nabi adalah anak cucu beliau melalui Sayyidah Fatimah dan Ali Bin Abi Thalib.

"Hanya memang ada beberapa istilah seperti Ahlal Bait ada istilah kerabat dan lain-lain sebagainya, tetapi secara umum dapat dikatakan bahwa garis keturunan keturunan nabi itu adalah anak cucu beliau melalui Sayyidah Fatimah dan Ali Bin Abi Thalib,"  urai tokoh kelahiran 16 Februari 1944 itu.

Selain itu, Prof Quraish menjelaskan bahwa sejarah adalah bukti yang paling kongkrit mengenai keturunan Nabi. Seperti di Iran, kata Prof Quraish, orang dapat diketahui garis keturunannya, bisa dengan cara melihat pakaiannya.

Meskipun begitu, menurut Prof Quraish, jangan sampai garis keturunan dianggap sebagai suatu keistimewaan yang melebihi batas kewajaran.

Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur'an Surah An-Nisa ayat 33:

وَلِكُلٍّ جَعَلْنَا مَوَالِيَ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدٰنِ وَالْاَقْرَبُوْنَ ۗ وَالَّذِيْنَ عَقَدَتْ اَيْمَانُكُمْ فَاٰتُوْهُمْ نَصِيْبَهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدًا ࣖ

Artinya: "Dan untuk masing-masing (laki-laki dan perempuan) Kami telah menetapkan para ahli waris atas apa yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya dan karib kerabatnya. Dan orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, maka berikanlah kepada mereka bagiannya. Sungguh, Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu," (QS An-Nisa: 33).

Dengan demikian, Prof Quraish menjelaskan bahwa keistimewaan pada garis keturunan sesungguhnya memiliki kewajiban.

"Tetapi karena setiap keistimewaan punya kewajiban," jelas Prof Quraish.

"Kalau kewajiban itu tidak terpenuhi maka garis keturunan yang dimilikinya tidak akan ada artinya," tandas penulis Tafsir Al Misbah tersebut. []