News

Soal Figur Biseksual dalam Komik DC, Politisi Demokrat: Masyarakat Harus Kritis  

Baru-baru ini media sosial dihebohkan oleh bocoran komik baru dari Superman yang bernuansa Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT).


Soal Figur Biseksual dalam Komik DC, Politisi Demokrat: Masyarakat Harus Kritis  
Rizki Aulia Rahman Natakusumah, Anggota Komisi 1 DPR RI Fraksi Demokrat (Fraksi Demokrat)

AKURAT.CO, Baru-baru ini media sosial dihebohkan oleh bocoran komik baru dari Superman yang bernuansa Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT).

Diketahui, komik berjudul 'Superman: Son of Kal-El' yang akan dirilis pada 9 November 2021 mendatang ini, menceritakan kisah putra dari Superman atau Clark Kent, yaitu Jon Kent.

Dalam poster yang dirilis komik DC dan beredar di media sosial itu, terlihat sosok Jon Kent ini tampak hendak mencium reporter pria bernama Jay Nakamura.

Menanggapi polemik seputar komik DC terbaru itu, Fraksi Partai Demokrat (FPD) mengajak masyarakat bersikap kritis.

Menurut Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Rizki Aulia Rahman Natakusumah, komik merupakan salah satu media modern yang turut memengaruhi corak budaya dan tingkah laku masyarakat, terutama anak muda.

‘’Maka ketika ada komik luar negeri yang membawa cerita yang bersinggungan dengan norma yang hidup di masyarakat Indonesia, nalar pembaca generasi sekarang harus kritis,’’ kata Rizki dalam keterangannya, Jumat (15/10/2021).

Anggota DPR RI dari Dapil Banten I itu juga menyatakan, sudah menjadi rahasia umum bahwa kreativitas DC menciptakan figur-figur pahlawan telah menjadi patokan industri komik populer dunia. Namun di sisi lain, Indonesia sendiri sebenarnya kaya akan budaya heroik legendaris yang keren untuk menjadi bahan pembuatan komik.

Rizki menambahkan, dalam kasus munculnya tokoh fiksi yang memiliki sifat yang tidak sesuai dengan norma lokal, kita harus mempertanyakan kesiapan pembaca Indonesia.

‘’Apakah cerita tersebut bisa diterima masyarakat yang sudah memiliki karakter kepercayaan tersendiri? Kami percaya pembaca Indonesia memiliki filter sensorship mandiri tentang objek bacaan yang pantas mereka konsumsi,’’ paparnya.

Bagi Rizki, spektrum kreativitas juga sangat luas sehingga tidak perlu menabrakkan kreativitas dan norma masyarakat.

‘’Mengapa harus menabrakkan kreativitas dan norma masyarakat? Bukankah karakter kreativitas yang fleksibel seharusnya bisa terus tumbuh dalam koridor tata krama serta kesantunan sosial?,’’ ucapnya retoris.

Terakhir, ia mengajak semua pihak untuk melihat isu ini dengan objektif dan proporsional.[]