News

Soal Blokade Ekspor, PM Polandia: Putin Manfaatkan Hasil Bumi Ukraina untuk Memeras Dunia

Soal Blokade Ekspor, PM Polandia: Putin Manfaatkan Hasil Bumi Ukraina untuk Memeras Dunia
Perdana Menteri Polandia Mateusz Morawiecki (BBC)

AKURAT.CO Vladimir Putin memanfaatkan hasil bumi Ukraina sebagai senjata untuk memeras seluruh dunia, menurut Perdana Menteri Polandia Mateusz Morawiecki di Forum Ekonomi Dunia di Davos. Ia mengatakan, hal itu seperti yang dilakukan Stalin pada 1933. Morawiecki juga memperingatkan perang dagang Inggris-Uni Eropa atas kesepakatan Brexit untuk Irlandia Utara hanya akan menguntungkan Putin.

Dilansir dari BBC, Ukraina tak lagi bisa mengekspor biji-bijiannya, sehingga harga pangan global melonjak. Hal ini juga meningkatkan prospek kelaparan di negara-negara yang bergantung pada ekspornya.

"Ini bagian dari strategi Putin untuk menciptakan efek 'ombak' di Afrika Utara dan gelombang migrasi besar," tuduh Morawiecki.

baca juga:

Peringatannya digaungkan oleh Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen di hadapan para delegasi di Davos. Ia mengatakan kalau Rusia memanfaatkan lapar dan gandum demi kekuasaan.

"Kerja sama global menjadi penangkal pemerasan Rusia," serunya.

Kekhawatiran pun meningkat atas blokade Laut Hitam yang berpotensi menyebabkan krisis pangan global. Pada Senin (23/5), Wakil Perdana Menteri Ukraina Yulia Svyrydenko mendesak masyarakat internasional untuk membuat 'jalan aman' guna mengeluarkan jutaan ton biji-bijian yang terjebak di Ukraina meninggalkan negara tersebut.

Seorang juru bicara pemerintah Inggris mengaku negaranya bekerja keras dengan para mitra untuk menemukan cara agar ekspor biji-bijian dapat dilanjutkan. Namun, saat ini tak ada rencana mengerahkan kapal perang Inggris untuk membantu memecahkan blokade Rusia.

Sementara itu, Morawiecki mengharapkan embargo minyak Uni Eropa yang disepakati di Rusia dalam beberapa hari atau minggu. Ia juga meminta pipa gas Nordstream One dari Rusia ke Jerman ditutup tahun ini.

"Rusia berada di bawah tekanan nyata dari sanksi yang ada, tetapi ini baru berdampak dalam jangka menengah dan panjang," tuturnya.