Ekonomi

Skema Baru Perumahan, Beri Dampak Negatif Pinjaman Sektor Properti di China


Skema Baru Perumahan, Beri Dampak Negatif Pinjaman Sektor Properti di China
Di tengah pembatasan pembelian yang sulit, pinjaman ke sektor property China meningkat di kecepatan yang lebih lambat pada 2017. (99.CO)

AKURAT.CO, China merupakan negara yang pertumbuhan ekonominya terbesar di dunia, yakni mencapai 6,9 persen pada tahun 2017. Angka ini lebih tinggi dari perkiraan pada kuartal IV tahun 2017.

“Ekonomi China pada tahun 2017 tumbuh melebih ekspetasi pasar,’ kata ekonom KP Morgan Chase, Shaoyu Guo dikutip dari kantor berita AFP, pekan kemarin.

Kenaikan ini tentunya didorong oleh pasar property yang tangguh, rebound di sektor industri, serta pertumbuhan ekspor yang kuat.

Lembaga Societe Generale memperkirakan pertumbuhan angka ekspor yang cukup tinggi akan berlanjut. Tumbuhnya permintaan dari pasar-pasar utama China pun diharapkan mendukung proyeksi itu. Meskipun demikian sejumlah analisa menilai, pertumbuhan permintaan sektor property akan melambat. Itu terkait dengan adanya pemberlakuan pajak di sektor itu oleh pemerintah setempat.

Hal itu terbukti, di tengah pembatasan pembelian yang sulit, pinjaman ke sektor property China meningkat di kecepatan yang lebih lambat pada 2017.

Menurut sebuah laporan dari People’s Bank Of China pada akhir tahun 2017, outstanding pinjaman ke sektor property China mencapai 32,2 triliun yuan (sekitar USD5 triliun), atau mengalami kenaikan 20,9 persen secara years-of-years (YoY).

Dikutip dari Xinhuanet, Sabtu (20/1), pertumbuhan itu 6,1 poin persentase lebih lambat dari ekspansi yang terlihat pada akhir 2016. Pinjaman ke sektor ini meningkat 5,6 triliun yuan pada 2017, 108,7 miliar yuan kurang dari kenaikan yang tercatat pada 2016.

Sedangkan pada akhir tahun pinjaman yang beredar untuk pembelian individu mencapai 21,9 triliun, naik 22,2 secara YoY dan lebih lambat dari pertumbuhan 36,7 persen pada 2016. Moderasi tersebut terjadi setelah diintensifkan upaya pemerintah tahun lalu untuk mengekang spekulasi pasar perumahan.

Pasar perumahan China mengalami awal yang panas mulai 2017 dengan kenaikan harga di beberapa kota besar, namun berakhir dengan sedikit perlambatan setelah pemerintah daerah menggulirkan serangkaian tindakan pembatasan yang menggemakan seruan pemerintah pusat bahwa perumahan adalah untuk ditempati, bukan untuk spekulasi.

Menurut Centaline Property, terdapat sekitar 110 kota dan instansi pemerintah memperkenalkan lebih dari 270 pembatasan untuk menjinakkan pasar perumahan, dengan Beijing yang menerapkan lebih dari 30 kebijakan.

Melalui peraturan baru tersebut Pemerintah China ingin membantu memperbaiki kondisi kehidupan masyarakat kelas bawahnya. Beijing ingin penduduknya dapat memperoleh akses pada perumahan secara adil sebab seperti yang diketahui pasar perumahan di China juga sangat kental dengan permainan para spekulan. Untuk itu pemerintah Beijing berjanji untuk terus mengambil langkah tegas dalam mengurangi aksi pembelian spekulatif.

Data terakhir dari Biro Statistik Nasional menunjukkan bahwa harga rumah residensial baru turun pada Desember secara tahunan di sembilan kota dari 15 kota besar, yang dianggap sebagai ‘pasar terpanas’.

Pemerintah China juga akan mempercepat pengembangan konsep sewa property di kota-kota besar dan menengah serta mendirikan perusahaan leasing milik negara. Pasalnya di kawasan ini, pasar perumahan sangat ketat dan harga yang terlanjur melambung tinggi.

Data Jum’at (19/01) menunjukkan bahwa outstanding pinjaman untuk usaha kecil dan mikro mencapai 24,3 triliun yuan pada akhir tahun lalu, menyumbang 33 persen dari keseluruhan pinjaman usaha. []