News

Skandal Seks demi Nilai Bagus Coreng Universitas Maroko, Jerat 5 Dosen yang Peras Mahasiswinya

Lima profesor di Universitas Hassan I Settat dituduh memeras seks pada mahasiswinya jika korban ingin nilai yang bagus.


Skandal Seks demi Nilai Bagus Coreng Universitas Maroko, Jerat 5 Dosen yang Peras Mahasiswinya
Akibat skandal kekerasan seksual di Universitas Hassan I Settat, dekan Fakultas Hukum dan Ekonomi Settat mengundurkan diri pada akhir November, sedangkan rektornya terancam dikenai sanksi. (Foto: Middle East Online) ()

AKURAT.CO, Empat profesor di universitas terkemuka Maroko menjalani persidangan pada Selasa (7/12). Mereka dituduh melakukan pemerasan seksual terhadap mahasiswinya jika korban ingin nilai yang bagus.

Dilansir dari Middle East Online, skandal yang dijuluki 'seks demi nilai bagus' ini diungkap oleh media lokal pada bulan September setelah viralnya pesan-pesan yang bersifat seksual antara salah satu profesor yang diadili dan para mahasiswinya. Total ada 5 akademisi yang terlibat dalam skandal tersebut. Tiga di antaranya ditahan, sedangkan 2 lainnya dibebaskan dengan jaminan.

Mereka adalah dosen di Universitas Hassan I di Settat, sebuah kota dekat Casablanca. Empat di antaranya menghadapi dakwaan berat 'hasutan untuk melacur', 'diskriminasi gender', dan 'kekerasan terhadap perempuan'. Persidangannya telah ditunda hingga 14 Desember. Sementara itu, dosen kelima diadili atas serangan tak senonoh dengan kekerasan, tuduhan yang lebih serius.

Sejak terkuaknya skandal ini, dekan Fakultas Hukum dan Ekonomi Settat mengundurkan diri pada akhir November. Sementara itu, rektor universitas tersebut terancam dikenai sanksi.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kasus pelecehan seksual yang dialami oleh mahasiswi dari profesor mereka di perguruan tinggi Maroko telah dipublikasikan. Namun, jarang ada gugatan yang diajukan. Ketika gugatan diajukan, sebagian besar tak terselesaikan.

Pengajuan gugatan terhadap pelaku kejahatan seksual merupakan proses yang sangat langka dalam masyarakat konservatif. Mereka seringkali mendesak korban kekerasan seksual agar tetap diam karena takut akan pembalasan atau demi melindungi nama baik keluarga.

Asosiasi HAM dan media rutin mengangkat isu kekerasan yang dialami perempuan Maroko. Pada tahun 2018, setelah melalui perdebatan sengit selama bertahun-tahun, ditetapkan sebuah undang-undang. Untuk pertama kalinya, diberlakukan undang-undang yang mengancam hukuman penjara terhadap bentuk pelecehan, penyerangan, eksploitasi seksuai, atau perlakuan buruk.

Namun, teksnya dinilai tak cukup oleh gerakan hak-hak perempuan yang menyerukan kekerasan yang lebih besar dalam menghadapi momok ini. []