Rahmah

Situ Lengkong Ciamis, Berziarah Sambil Menikmati Keindahan Alam yang Mempesona

Di dalam Situ, terdapat makam Prabu Hariang atau Borosngora atau Sayid Ali Bin Muhammad bin Umar, seorang ulama penyebar agama Islam di wilayah Ciamis.


Situ Lengkong Ciamis, Berziarah Sambil Menikmati Keindahan Alam yang Mempesona
Situ Lengkong Ciamis (ISTIMEWA)

AKURAT.CO  Ciamis merupakan salah satu kota yang memegang peran penting dalam mensyiarkan Islam. Sehingga daerah ini meninggalkan tempat-tempat religi yang wajib dikunjungi bagi kalian yang sedang berada di Kota Galendo ini. Diantaranya yaitu Situ Lengkong, salah satu destinasi wisata religi yang memiliki nilai-nilai sejarah Islam yang menarik. 

Situ Lengkong merupakan suatu tempat wisata yang letaknya berada di Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Di dalam Situ, terdapat makam Prabu Hariang atau Borosngora atau Sayid Ali Bin Muhammad bin Umar, seorang ulama penyebar agama Islam di wilayah Ciamis.

Wisata ini menjadi populer lantaran pernah dikunjungi mantan Presiden Indonesia, Almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Sehingga banyak wisatawan yang datang dari berbagai penjuru untuk berziarah sambil menikmati keindahan alam yang indah dan sejuk ini.

Salah satu daya tarik pengunjung adalah karena posisi makam berada di suatu pulau kecil atau yang letaknya berada di tengah-tengah danau Situ Lengkong. Adapun nama pulau tempat makam ini adalah Nusa Gede atau Nusa Larang. 

Untuk bisa sampai ke lokasi makam, pengunjung harus menyeberang danau terlebih dahulu. Karena akses menuju makam hanya bisa ditempuh melalui jalur air ini.

Pengunjung tak perlu cemas karena terdapat fasilitas berupa perahu untuk membantu mereka sampai ke makam. Meski harga sewa perahu cukup mahal, akan tetapi bisa diminimalisir jika kita datang dengan rombongan. Sehingga bisa menghemat biaya sewa.

Untuk menjaga kelestarian lingkungan Situ Lengkong, Gubernur Jenderal Hindia Belanda menetapkan sebagai kawasan konservasi berupa cagar alam (Natuurmonument). Penetapan ini berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda (Besluit van den Gouverneur-Generaal van Nederlandsch Indie) Nomor 6 pada tanggal 21 Februari 1919 Masehi.

Selain sebagai tempat wisata alam, Situ Lengkong Panjalu juga merupakan Cagar Budaya. Wisatawan yang berkunjung ke Panjalu pada umumnya adalah para peziarah. Para peziarah ini biasanya mengunjungi Tokoh Raja Panjalu, terutama pemakaman Prabu Hariang Kancana di Nusa Situ Lengkong (Situ Istana Kerajaan) dan juga Museum Bumi Alit.

Di Museum Bumi Alit ini disimpan benda-benda peninggalan bersejarah berupa menhir, batu pengsucian, batu penobatan, naskah- naskah dan benda- benda perkakas peninggalan milik Raja-raja dan Bupati Panjalu masa lalu, terutama perkakas yang disebut benda pusaka Panjalu yang berupa Pedang, Cis dan Genta (lonceng kecil) peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora.

Di sekitar area tempat ziarah juga terdapat tempat penampungan air dan kran yang bisa mengucurkan air. Konon katanya, pengambilan itu disuling dengan penyaringan yang sederhana.

Peziarah meyakini bahwa air tersebut bisa membawa keberkahan. Kebanyakan peziarah datang untuk meminum atau menggunakan air untuk wudhu. Setelah itu, mereka melakukan tawasulan ke makam Prabu Hariang Kencana. Dengan begitu, mereka masuk ke makam dalam keadaan suci.[]