Lifestyle

Siti Fadilah Supari: Jangan Ada Laboratorium Asing di Indonesia

Mantan Menteri Kesehatan Indonesia, Siti Fadilah Supari mengatakan, berbahaya jika ada laboratorium milik asing di Indonesia


Siti Fadilah Supari: Jangan Ada Laboratorium Asing di Indonesia
Mantan Menteri Kesehatan Indonesia, Siti Fadilah Supari. (Tangkapan Layar AKURAT Talk)

AKURAT.CO Mantan Menteri Kesehatan Indonesia, Siti Fadilah Supari mengatakan, berbahaya jika ada laboratorium milik asing di Indonesia. 

Menurut Siti Fadilah, hal ini berkaca dari Wuhan, Tiongkok. Sebab, menurut beberapa dugaan, terdapat laboratorium miliki Amerika Serikat (AS) di Wuhan yang ditengarai sebagai penyebab tersebarnya virus Covid-19.

"Kita tahu bahwa di Wuhan, ada laboratorium AS, yang masih diduga sebagai tempat pembuatan virus Covid-19 sehingga menjadi pandemi," ujar Siti Fadilah saat diwawancarai AKURAT.CO di Akurat Talk, dikutip pada Selasa (10/5/2022).

baca juga:

"Dari Wuhan ini, kita harus belajar bahwa membangun laboratorium mili asing di Indonesia berbahaya," sambungnya. 

Tak hanya soal Wuhan, Siti Fadilah juga memberikan tanggapan soal pernyataan Presiden Rusia, Vladimir Putih mengenai banyaknya laboratorium milik AS di Ukraina, yang bisa membuat senjata biologi berupa virus, yang bisa menyerang masyarakat dunia.

"Ini mungkin Putin yang lebih tahu, tapi ini benar, laboratorium asing bisa membuat virus," jelasnya.

Seperti diketahui, Di Indonesia, sebenarnya pernah berdiri Laboratorium Namru milik Angkatan Laut Amerika Serikat (AS). 

Namun laboratorium riset ancaman biologi tersebut tidak memberikan manfaat sehingga dibubarkan Pemerintah RI pada tahun 2008 oleh Siti Fadilah.

Laboratorium Namru didirikan pada tahun 1968 dan diresmi kan pada 1970-an. Meski bercokol sekitar 30 tahun, keberadaan laboratorium di Jalan Percetakan Negara Jakarta Pusat dianggap belum memberikan sumbangan bagi Indonesia dalam menghadapi ancaman biologi.

Siti Fadilah Supari, menyatakan Indonesia tidak memperoleh banyak manfaat dari Laboratorium Namru tersebut.

"Laboratorium ini resmi didirikan di tahun 1970, dengan masa perizinan hingga 10 tahun, seharusnya tahun 80 an sudah tidak bisa beroperasi," katanya. 

"Tetapi, laboratorium masih beroperasi hingga saya menjadi Menteri Kesehatan di tanah Depkes, bayangkan ada laboratorium asing di ruang lingkup Depkes," sambungnya. 

Menurut Siti Fadilah, laboratorium namru tidak memberikan manfaat kepada Indonesia selama beroperasi. 

"Pendirian laboratorium asing ini untuk membantu Indonesia melakukan riset bioteknologi. Menurut saya, kurang kerjaan banget," ucapnya.

"Selama berdirinya laboratorium tersebut, buktinya tidak bisa menekan angka terpaparnya TBC dan kita masih di tiga besar negara dengan jumlah kasus terjangkitnya malaria," jelasnya.

Sementara itu, Siti Fadilah juga memberikan saran agar pemerintah Indonesia lebih memeperhatikan sektor kesehatan, dibandingkan dengan sektor ekonomi.

"Dulu sektor ekonomi menjadi perhatian pemerintah. Kini, belajar dari pendemi, sektor kesehatan bisa melumpuhkan beberapa sektor termasuk sektor ekonomi. Seperti, para pedagang yang tidak bisa berdagang karena ada PSBB," tuturnya.