News

Siswa SD DKI Jadi Bahan Uji Coba PTM, Epidemolog: Ini Berbahaya!

Siswa SD DKI Jadi Bahan Uji Coba PTM, Epidemolog: Ini Berbahaya!


Siswa SD DKI Jadi Bahan Uji Coba PTM, Epidemolog: Ini Berbahaya!
Suasana uji coba pembelajaran tatap muka hari pertama di SDN Kenari 08 pagi, Jakarta, Rabu (7/4/2021). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Epidemiolog Universitas Indonesia (UI) Tri Yunis Miko menyebut keterlibatan siswa Sekolah Dasar (SD) dalam uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) di dalam sekolah sangat berbahaya.

Menurutnya, mereka sangat rentan terpapar wabah Covid-19 lantaran siswa SD belum begitu paham penerapan protokol kesehatan untuk memproteksi diri dari paparan wabah mematikan itu.

"Jadi menurut saya justru SD paling berbahaya karena dia tidak mengerti diri sendiri untuk dijaga," kata Miko ketika dikonfirmasi Minggu (11/4/2021). 

Adapun uji coba kali ini digelar untuk menemukan metode pembelajaran yang tepat di tengah pandemi sekarang ini. Pemerintah Provinsi DKI melibatkan 85 sekolah di semua jenjang, uji coba itu digelar dua pekan  terhitung sejak 7 April 2021. 

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Pendidikan beralasan melibatkan siswa SD, karena bisa terpantau dengan baik sejak berangkat hingga pulang sekolah. Siswa SD disebut  selalu  diantar dan dijemput orang tua. 

Miko membantah hal ini kata dia, tidak semua siswa SD  bisa dipantau sebab tidak semua orang tua bisa mengantar anaknya setiap hari, khususnya siswa yang bermukim di sekitar sekolah,  dia menyebut risiko paling besar terjadi penularan corona adalah interaksi antar siswa ketika dalam perjalanan, baik saat datang maupun pulang  sekolah. 

"Itu kalau dia dianter jemput setiap hari emang ortunya pada nganggur? Ntar siapa yang nganter? Emang orang kaya semua murid punya pembantu? Yang antar pembantunya? itupun tetap berisiko," tegasnya.

Lebih dari itu, Miko mengatakan, kebijakan membuka sekolah tatap muka ini sebaiknya menunggu virus corona menjadi endemik.

Minimal menunggu temuan ilmiah yang menyatakan bahwa penularan wabah ini mulai mengalami  perlambatan penularan dengan positivity rate di bawah 5 persen sebagaimana standar aman yang telah ditetapkan oleh WHO.

Bayu Primanda

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu