Ahmad Ubaydi Hasbillah

News

Sisi Kemanusiaan Rasulullah


Sisi Kemanusiaan Rasulullah
Kaligrafi Nabi Muhammad (pinterest.com)

AKURAT.CO, Rasulullah Muhammad adalah teladan kita dalam menjadi manusia yang sesungguhnya dan seutuhnya. Manusia yang sesungguhnya adalah manusia yang menyadari kemanusiannya di hadapan Sang Penciptanya. Sedangkan menjadi manusia seutuhnya berarti manusia yang sadar akan posisinya terhadap segala hal yang melingkupinya.

Salah satunya adalah memanusiakan manusia. Itulah humanisme, itulah kemanusiaan. Humanisme yang diajarkan Rasulullah bukan hanya berdasarkan logika, melainkan juga ketuhanan, kebudayaan dan kemanusiaan. Realitas alam semesta secara makro yang ada didunia ini maupun secara mikro yang ada di sekelilingnya adalah basis pemikiran dan objek utamanya. Begitulah humanisme atau kemanusiaan yang rahmatan lil-‘alamin.

Kemanusiaan yang Berketuhanan

Belajar hadis bukan sekedar mempelajari teologi, keimanan dan tuntunan ajaran Islam yang berkenaan dengan keselamatan dan kebahagiaan akhirat semata. Jalan menuju ke sana pada saat di dunia juga menjadi kuncinya. Berbagai aspek kehidupan dapat dipelajari dari hadis Nabi yang merekam hampir seluruh jejak hidup Rasulullah di dunia. Sehingga, belajar hadis tidak boleh semata-mata untuk belajar ketuhanan, melainkan juga belajar bagaimana menjadi manusia yang sesungguhnya dan seutuhnya.

Sebelum mempelajari bagaimana cara memanusiakan manusia kepada Rasulullah saw, mari kita bedakan terlebih posisi sosok suri tauladan kita dari tiga aspeknya, yaitu sisi kemanusiaannya (sebagai orang Arab), sisi ketuhanannya (sisi kenabian) dan sisi kemasyarakatannya (rasulullah). Sebagai manusia, Allah membimbing Nabi Muhammad untuk menegaskan bahwa dirinya adalah manusia biasa, “Qul innama ana basyarun mitslukum.” (Qs.Al-Kahfi:110).

Namun, juga tidak boleh dilupakanbahwa beliau mendapatkan satu keistimewaan yang tidak dimiliki orang lain pada masanya dan setelahnya, yaitu diberi wahyu (yuha ilayya) yang berisi prinsip-prinsip dan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa (annama ilahukum ilahun wahid). Karena itu, siapapun yang ingin “bertemu” dengan Tuhannya, syaratnya adalah berbuat kebaikan (fal-ya’mal ‘amalan shalihan) serta senantiasa berketuhanan Yang Maha Esa (wa la yusyrik bi’ibadati Rabbihi ahada).

Dalam hal menjadi manusia yang mengidolakan Nabi, yaitu manusia yang memanusiakan manusia secara baik dan benar, ayat ini (QS.Al-Kahfi:110)secara tersirat mengajarkan tiga hal, yaitu menyadari kemanusiaan diri, memastikan ada nilai-nilai ketuhanan yang harus dijunjung tinggi, serta senantiasa beramal salih.

Penegasan pertama dalam ayat tersebut adalah aspek kemanusiaan, kealaman manusia. Sedangkan penegasan aspek ketuhanan adalah hal kedua yang menjadi nilai plus kemanusiaan manusia. Setelah itu, barulah penegasan ketiganya bahwa manusia yang sesungguhnya adalah manusia dekat dengan Tuhannya melalui amal-amal kebajikan. Ini artinya, tidak ada manusia yang baik “dari sananya”, semua manusia menjadi baik karena beramal salih. Sedangkan amal salih yang mendekatkan kepada Tuhan adalah amal yang tidak disertai kemusyrikan.

Prinsip-prinsip itulah yang harus dijadikan sebagai pedoman untuk berfikir dan memikirkan kandungan makna hadis-hadis Nabi. Apapun topiknya, prinsip tersebut penting untuk direnungkan sebelum kemudian hadis-hadis Nabi itu dipahami dan dipahamkan kepada khalayak publik. Hadis tentang akidah harus dipahami juga aspek kemanusiaannya. Bahwa meyakini ketuhanan Allah adalah untuk kemaslahatan manusia. Begitupula hadis-hadis hukum, hadis sosial, hadis tentang budaya, hingga hadis tentang perang sekalipun. Tidak ada yang lepas dari aspek kemanusiaan dan memanusiakan manusia. Itu pulalah yang menjadi salah satu poin penting risalah ketuhanan yang diajarkan oleh Rasulullah.