News

Singapura Tegaskan Buronan Kasus Korupsi Surya Darmadi Tak Berada di Negaranya

Kemenlu Singapura turut buka suara terkait adanya pernyataan dari Kejaksaan Agung (Kejagung) RI yang menyebut Surya Darmadi melarikan diri ke Singapura.


Singapura Tegaskan Buronan Kasus Korupsi Surya Darmadi Tak Berada di Negaranya
Merlion Park, Singapura (VISITSINGAPORE.COM)

AKURAT.CO Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Singapura turut buka suara terkait adanya pernyataan dari Kejaksaan Agung (Kejagung) RI yang menyebut Surya Darmadi melarikan diri ke Singapura.

Kemenlu Singapura menyatakan, tersangka kasus dugaan korupsi penyerobotan lahan di Riau, Surya Darmadi tak berada di negaranya tersebut. 

"Menurut catatan imigrasi kami, Surya Darmadi saat ini tidak berada di Singapura," demikian pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Singapura yang dilansir dari situs resminya, Sabtu (6/8/2022).

baca juga:

Dalam keterangan tersebut, Singapura menyatakan bersedia memberikan bantuan kepada Indonesia jika Indonesia mengajukan permintaan resmi ke Singapura. Hal itu bakal dilakukan sesuai dengan hukum dan kewajiban Internasional yang disepakati bersama antar Indonesia dan Singapura.

"Jika Indonesia mengajukan permintaan resmi ke Singapura dengan informasi pendukung yang diperlukan, Singapura akan memberikan bantuan yang diperlukan kepada Indonesia, dalam lingkup hukum dan kewajiban internasional kami," ujarnya.

Seperti diketahui, Korps Adhyaksa menetapkan bos produsen minyak goreng merek Palma itu sebagai tersangka kasus dugaan korupsi penyerobotan lahan di Riau seluas 37.095 hektare. 

Jaksa Agung ST Burhanuddin menyebut kerugian keuangan dan perekonomian negara akibat perbuatan dugaan korupsi Surya Darmadi mencapai Rp78 triliun.

"Menimbulkan kerugian keuangan negara dan perekonomian negara berdasarkan hasil perhitungan ahli dengan estimasi kerugian sebesar Rp78 triliun," kata Jaksa Agung ST Burhanuddin dalam keterangannya melalui video yang diterima redaksi, Senin (1/8/2022).

Burhanuddin mengatakan Surya Darmadi diduga melakukan kongkalikong dengan Thamsir Rachman yang juga ditetapkan Kejagung sebagai tersangka, terkait perizinan kegiatan pengolahan kelapa sawit.

Burhanuddin mengatakan Thamsir yang merupakan bupati Indragiri Hulu periode 1999-2008 diduga melakukan perbuatan melawan hukum dengan menerbitkan izin lokasi dan izin usaha perkebunan di kawasan Indragiri Hulu seluas 37.095 hektare kepada lima perusahaan milik Surya Darmadi. 

Kelima perusahaan tersebut yakni PT Banyu Bening Utama, PT Panca Agro Lestari, PT Seberida Subur, PT Palma Satu dan PT Kencana Amal Tani.

Izin itu, kata Burhanuddin, digunakan Surya Darmadi untuk membuka perkebunan dan produksi kelapa sawit tanpa izin pelepasan kawasan hutan dari Kementerian Kehutanan dan tanpa adanya hak guna usaha dari Badan Pertanahan Nasional.

"Izin usaha lokasi dan izin usaha perkebunan dipergunakan oleh SD dengan tanpa izin pelepasan kawasan hutan dari Kementerian Kehutanan serta tanpa adanya hak guna usaha dari Badan Pertanahan Nasional telah membuka dan memanfaatkan kawasan hutan dengan membuka perkebunan kelapa sawit dan memproduksi sawit," terang Burhanuddin.

Para tersangka dijerat dengan pasal berlapis. Surya dan Thamsir disangkakan dakwaan primair Pasal 2 ayat (1) Jo. Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Subsider Pasal 3 Jo. Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sementara tersangka Surya Darmadi juga disangkakan melanggar Pasal 3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang atau Pasal 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Thamsir saat ini sedang menjalani pidana di Lapas Pekanbaru atas vonis kasus korupsi dana kasbon APBD Indragiri Hulu 2005-2008. Sedangkan Surya Darmadi, masih menjadi buronan KPK.

"Terhadap para tersangka tidak dilakukan penahanan karena tersangka RTR sedang menjalani pidana untuk perkara lain di lapas Pekanbaru, sedangkan tersangka SD masih dalam status DPO," kata Burhanuddin. []