Ekonomi

Singapura Klaim Inflasi Masih Stabil, Sebut Ancaman Global Tetap Ada

Menteri Negara, Perdagangan dan Industri Singapura Alvin Tan: “Meskipun inflasi meningkat, aktivitas ekonomi di Singapura tetap bertahan sejauh ini,”


Singapura Klaim Inflasi Masih Stabil, Sebut Ancaman Global Tetap Ada
Pemerintah Singapura telah memperingatkan bahwa sistem perawatan kesehatannya berisiko 'kewalahan' oleh lonjakan infeksi virus corona (Roslan RAHMAN AFP)

AKURAT.CO, Singapura tidak mengharapkan negaranya masuk ke dalam resesi ekonomi yang berlarut-larut, walaupun secara global negara kota tersebut juga mengakui bahwa tantangan mengenai stagflasi tetap ada mengancam.

"Perkiraan pertumbuhan saat ini untuk tahun 2022 adalah ekonomi Singapura berkembang di ujung bawah kisaran 3 persen hingga 5 persen. Sedangkan untuk perkiraan tahun depan, pembuat kebijakan "mengharapkan pertumbuhan lebih moderat" tetapi "tidak mengharapkan resesi atau stagflasi" pada tahap ini," kata Menteri Negara, Perdagangan dan Industri Alvin Tan pada Senin (4/6/2022).

Sejauh tahun ini, kegiatan ekonomi Singapura masih bertahan ditengah inflasi yang meningkat, walaupun para anggota parlemen di DPR Singapura juga menyingkap prospek ekonomi negara tersebut.

baca juga:

Stagflasi, kombinasi stagnasi ekonomi dan inflasi, mengacu pada situasi di mana ekonomi menghadapi tantangan kembar pertumbuhan ekonomi yang lambat dan pengangguran di tengah kenaikan inflasi.

Meski demikian, Tan mencatat bahwa risiko ancaman yang signifikan tetap ada dalam ekonomi global, seperti eskalasi lebih lanjut dalam konflik Rusia-Ukraina, gangguan pasokan global yang lebih parah, pengetatan kebijakan moneter yang lebih cepat dari perkiraan di negara maju, dan COVID-19 pandemi.

Data terakhir menunjukkan inflasi naik menjadi 5,6 persen pada Mei, naik dari 5,4 persen pada April dan mencapai angka tertinggi sejak November 2011 ketika inflasi headline mencapai 5,7 persen.

Inflasi inti, yang tidak termasuk biaya transportasi dan akomodasi pribadi, naik dari 3,3 persen pada April menjadi 3,6 persen pada Mei – puncak indeks sejak Desember 2008 ketika inflasi inti mencapai 4,2 persen.

"Inflasi kemungkinan akan meningkat lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang tetapi akan mulai melambat menjelang akhir tahun jika tekanan inflasi eksternal mereda," kata Tan.

Perkiraan resmi untuk inflasi setahun penuh pada tahun 2022 tetap pada kisaran 4,5 hingga 5,5 persen untuk inflasi utama, sementara inflasi inti diperkirakan berada di antara 2,5 dan 3,5 persen.

Sumber: Channel News Asia