News

Singapura Catat Rekor Kasus Baru COVID-19 Capai 942 Pasien, Total Infeksi Lampaui Malaysia


Singapura Catat Rekor Kasus Baru COVID-19 Capai 942 Pasien, Total Infeksi Lampaui Malaysia
Singapura tercatat telah memecahkan rekor dengan jumlah kenaikan kasus baru infeksi mencapai hampir seribu warga. Meski begitu, hasil ini didapat setelah pemerintah setempat mengadakan tes besar-besaran khususnya di asrama-asrama para pekerja migran (SCMP)

AKURAT.CO, Berbanding terbalik dengan situasi Kamboja, Singapura kini justru mengalami lonjakan drastis dalam peningkatan kasus baru COVID-19. Laporan bahkan menyebutkan bagaimana Singapura telah mencapai rekor kenaikan kasus lantaran jumlah pasien baru disebutkan mencapai hingga 942 orang.

Dengan angka tambahan kasus baru tersebut, Singapura pun resmi melampaui Malaysia dalam hal jumlah kasus infeksi secara total.

Sebagaimana dilansir oleh South China Morning, hingga Sabtu (18/4), total infeksi di Singapura mencapai 5.992 orang. Sementara, kasus infeksi di negara tetangganya, Malaysia, disebutkan berjumlah 5.305 penderita.

Lebih detail, Kementerian Kesehatan Singapura menjelaskan bahwa dari hampir seribu kasus baru, 95 persen di antaranya ternyata berasal dari para pemegang izin kerja yang tinggal di asrama (mencapai 893 orang). Sementara, sisanya, yaitu 14 pasien baru lainnya adalah warga lokal Singapura.

Meski sangat mengejutkan, tetapi lonjakan infeksi di antara 323 ribu pekerja migran Singapura memang selama ini menjadi tantangan besar tersendiri bagi pemerintahan setempat. Pasalnya, para buruh asing ini disebutkan hidup dalam kondisi sempit yang pastinya makin meningkatkan potensi ancaman penularan COVID-19.

Bahkan, sebelumnya, yaitu pada Jumat (17/4), para pekerja migran ini dilaporkan telah menyumbang sekitar 65 persen dari total kasus infeksi di Singapura. Dalam keterangannya, Jeremy Lim, profesor dari Universitas Nasional Singapura serta Saw Swee Hock School of Public Health, juga menyebutkan bagaimana lonjakan drastis dalam kasus ini memang tidak mengejutkan.

"Peningkatan kasus-kasus (infeksi antarpekerja migran) memang sudah bisa diprediksi. Namun, perkiraan tentang besarnya jumlah kasus ini benar-benar tergantung pada seberapa banyak asrama yang diuji serta proporsi kasus positif dari total (warga) yang telah diuji.

"Kami (telah) mengidentifikasi lebih banyak kasus karena pengujian aktif. Tetapi lebih penting dari itu, virus telah menyebar dan kemungkinan masih menyebar di asrama. Langkah-langkah pemerintah untuk mengatasi wabah ini sudah tepat dan mudah-mudahan mereka bisa segera mengendalikan wabah di asrama," ucap Lim.

Singapura Catat Rekor Kasus Baru COVID-19 Capai 942 Pasien, Total Infeksi Lampaui Malaysia - Foto 1
The Star



Hampir senada dengan pernyataan Lim, Leong Hoe Nam, seorang ahli penyakit menular di Rumah Sakit Mount Elizabeth Novena Singapura, juga menjelaskan bahwa lonjakan kasus ini sebenarnya adalah hasil dari upaya menekan jumlah infeksi secara aktif oleh pemerintah, yakni melalui pengadaan tes massal.

Seperti diketahui, sebelum memperoleh angka kenaikan ini, Singapura setidaknya telah melakukan lebih dari 94 ribu tes atau sekitar 16.600 swab per 1 juta orang pada Selasa (14/4) lalu. Dibandingkan Malaysia, presentasi jumlah tes di Singapura jauh lebih besar lantaran negara ini memiliki populasi sekitar 5,6 juta orang.

Sementara, Malaysia disebutkan mempunyai setidaknya 31,5 juta warga. Dengan populasi yang jauh lebih padat ini, Malaysia pun memiliki jumlah pengujian yang relatif jauh lebih sedikit daripada Singapura (meski dalam laporan, Malaysia dikatakan menguji sekitar 11.500 orang per harinya, serta pada akhir Maret lalu, mereka telah menyediakan sekitar 1.000 tes per 1 juta orang).

"Dalam upaya untuk menyingkirkan kasus-kasus tersebut, kami mencoba untuk membersihkan dan mensterilkan Singapura lagi. Anda telah membayar harga sekarang untuk meredam epidemi nanti," terang Leong sembari menunjukkan bahwa puncak kasus di Singapura kemungkinan akan datang dalam 10 hingga 14 hari lagi.

Lebih lanjut, Leong juga menambahkan bahwa meski kasus baru tampak menakutkan, tetapi mayoritas kasus infeksi (pekerja migran) di Singapura telah 'dikunci' di asrama-asrama. Ini berarti risiko penularan lebih lanjut dari komunitas ini akan sangat kecil.

Sementara itu, meski sukses mendeteksi kasus tambahan infeksi di asrama-asrama, tetapi Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, memperingatkan warga untuk tetap siap menghadapi masa kritis yang mungkin akan datang beberapa hari ke depannya.

Namun, Lee juga menambahkan bahwa walaupun jumlah infeksi di asrama diperkirakan akan meningkat, ada beberapa tanda awal bahwa pemutus sirkuit kasus COVID-19 di masyarakat luas bisa segera tercapai.

"Tapi kami masih khawatir tentang kasus-kasus tersembunyi yang beredar di populasi kami, yang membuat wabah terus berlangsung. Beberapa hari ke depan akan menjadi kritis," ucap Lee.[]

baca juga: