News

Sindiran Menohok Denny Siregar ke Pendukung Habib Rizieq: Kalau Dipukul? Cengeng, Nangis-nangis Bilang Dizolimi!

Denny Siregar menyorot kerumunan yang terjadi di Pengadilan Negeri Jakarta Timur


Sindiran Menohok Denny Siregar ke Pendukung Habib Rizieq: Kalau Dipukul? Cengeng, Nangis-nangis Bilang Dizolimi!
Pegiat Media Sosial Denny Siregar (Twitter/@Dennysiregar7)

AKURAT.CO, Pegiat media sosial Denny Siregar menyorot kerumunan yang terjadi di Pengadilan Negeri Jakarta Timur saat sidang pembacaan vonis kasus tes swab RS UMMI Bogor dengan terdakwa Habib Rizieq Shihab pada Kamis (24/6/2021) kemarin.

Denny mengatakan bahwa massa yang hadir di kawasan PN Jaktim merupakan pendukung Habib Rizieq. Dia menduga pengerahan massa untuk mengintervensi vonis hakim.

"Pola kadrun diseluruh dunia, termasuk Indonesia, itu standar. Mereka main massa supaya orang takut. Begitu juga di sidang Riziek. Tekanan massa di depan PN itu cara supaya hakim ubah keputusan, sesuai keinginan," kata Denny sebagaimana dikutip AKURAT.CO dari Twitter @Dennysiregar7 pada Jumat (25/6/2021).

"Tapi liat kalo massa mereka dipukul? Cengeng. Nangis-nangis bilang dizolimi," kata dia.

Sebelumnya, Denny mengatakan kekuatan simpatisan Rizieq tidak akan berpengaruh. Sebab, kata dia, kelihatannya saja besar dan garang di jalan, tapi saat Pilpres justru kalah terus.

"Kekuatan massa kadrun itu semu. Kelihatannya aja besar dan garang di jalan. Teriak-teriak takbir sambil videokan untuk menambah semangat mereka sendiri. Sekaligus mencoba menebar ketakutan kalau mereka itu besar. Tapi pas di uji di Pilpres? Eh, kalah terus," ujar Denny.

Kasus hasil swab tes Rumah Sakit Ummi Bogor mendekati babak akhir. Rizieq Shihab pun dijatuhkan hukuman empat tahun penjara dalam sidang pembacaan vonis yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Timur.

Vonis tersebut lebih rendah dari tuntutan jaksa penuntup umum. Jaksa sebelumnya menuntut Rizieq Shihab enam tahun pejara.

Jaksa Agung mengatakan Rizieq terbukti memberi kabar bohong atas hasil tes swab dalam kasus RS Ummi hingga menimbulkan keonaran. Dia dijerat Pasal 14 ayat (1) UU RI Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.[]