News

Sindir SBY, Rustam: Seorang Presiden Seharusnya Tidak Mengkritik Presiden yang Menggantikannya


Sindir SBY, Rustam: Seorang Presiden Seharusnya Tidak Mengkritik Presiden yang Menggantikannya
Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penelitian Pendidikan Penerapan Ekonomi dan Sosial Rustam Ibrahim (TWITTER/@rustamibrahim)

AKURAT.CO, Pemerhati politik Rustam Ibrahim menyindir sikap Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang mengkritik rezim Joko Widodo.

SBY mengkrik upaya penegak hukum yang akan memidanakan penghina presiden dan pejabat negara dalam menangatasi pandemi virus corona atau Covid-19. Atas dasar itu, SBY memohon agar pemerintah yang dipimpin Presiden Jokowi tidak alergi terhadap pandangan dan saran dari pihak luar.

"Amat berbahaya jika ada pihak yang menyampaikan pandangan kritisnya, yang kebetulan pernah bertugas pada pemerintahan SBY atau sekarang tidak berada dalam koalisi pemerintahan Presiden Jokowi, lantas dianggap sebagai musuh pemerintah," jelas SBY dikutip dari akun Facebook resmi @SBYudhoyono, Kamis (9/4/2020).

baca juga:

"Menurut saya, pandangan dari pihak di luar pemerintah itu tetap ada gunanya jika pemerintah sudi untuk mendengarkannya," imbuhnya.

Menanggapi itu, Rustam menilai tidak elok presiden mengkritik presiden yang menggantikannya di ruang publik. Seharusnya, kata Rustam, seorang presiden memberikan pesan secara khusus.

"Seorang Presiden seharusnya tidak mengkritik Presiden yang menggantikannya. Tidak bicara kebijakan Presiden yang menggantikannya di ruang publik. Tradisi seharusnya dilakukan adalah ngopi bersama atau percakapan via telepon dimana pesan-pesan disampaikan. Mereka VVIP & sekarang tinggal 3 di Indonesia," kicau Rustam.

Di kicauan berbeda, Rustam menilai bahwa kemungkinan SBY belum siap untuk menjadi seorang resi pertapa. Hal ini dikatakannya untuk menyikapi kicauan Sosiolog Musni Umar yang menyebut 'SBY turun gunung'.

"Kalau saya memakmanai mungkin Pak SBY belum siap untuk menjadi seorang resi pertapa. Karena setahu saya ada tradisi, seorang Presiden tidak mengkritik Presiden yang menggantikannya. Seorang Presiden tidak ikut bicara tentang kebijakan Presiden yang menggantikannya," imbuhnya.[]