News

Sindir Oposisi, Fahri Hamzah: Yang Diberi Amanah Lalai dan Sibuk Pencitraan

Fahri Hamzah menyindir partai politik (parpol) oposisi yang hanya sibuk pencitraan.


Sindir Oposisi, Fahri Hamzah: Yang Diberi Amanah Lalai dan Sibuk Pencitraan
Wakil Ketua Partai Gelora Fahri Hamzah menerima karikatur yang diberikan oleh Pimpinan Redaksi Rizal Maulana Malik saat berkunjung di kantor Akurat.co, Jakarta, Jumat (14/8/2020). Kunjungan tersebut sebagai silahturahmi sekaligus mempromosikan produknya 'Kopi Revolusi'. (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah menyindir partai politik (parpol) oposisi yang hanya sibuk pencitraan. Akibatnya, rakyat sampai sekarang tidak istirahat mengurus politik.

"Mengapa rakyat yang sudah nyoblos dan mengorbankan biaya pemilu trilyunan lalu menggaji wakilnya masih harus kelimpungan bahkan menjadi korban? Mengapa rakyat tidak istirahat urus politik dan fokus cari kehidupan? Karena yang diberi amanah lalai dan sibuk pencitraan. #OPP #OGD," kicau Fahri Hamzah sebagaimana dikutip AKURAT.CO dari akun Twitter @Fahrihamzah, Rabu (1/9/2021).

Fahri menuturkan, rakyat seharusnya berhenti berpolitik dan bergesekan setelah pemilu. Dia mengatakan hingga kini rakyat tidak bisa hidup tenang.

"Tapi kenapa terus terjadi sampai rakyat gak bisa hidup tenang? Karena sistem perwakilan absen, kongresional yang tak dimengerti oleh parpol yang sudah duduk dapat fasilitas, gaji dan kekebalan. #OPP #OGD," imbuhnya di kicauan berbeda.

Fahri memang tidak secara jelas menyebut siapa oposisi yang dimaksudnya. Namun diketahui, oposisi pemerintah saat ini adalah PKS dan Partai Demokrat.

Mantan Pimpinan DPR RI itu dalam kicauan berbeda menceritakan pengalaman politiknya, di mana pernah bergabung parpol yang masuk kabinet di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Berikut ceritanya,

Zaman pak SBY partaiku masuk kabinet, aku tetap ribut karena mandatku dari rakyat untuk bicara. Pimpinanku maklum.

Tapi jaman pak Jokowi partaiku oposisi katanya, aku tambah ribut dong, wah pimpinanku gelisah. Inilah awal sengketaku 

“Tolonglah omongan agak dijaga, pimpinan ini kan pernah jadi bagian pemerintah, pasti ada salahnya, kalau ada apa2 kan partai juga kena”, kata bos ku dulu.

Kataku, “Kenapa kalian yg bermasalah aku harus diam mengatakan kebenaran sebagai wakil rakyat?”

Jadi oposisi, punya imunitas, tanpa keberanian berbeda secara subtantif dan tanpa keberanian menggunakan hak-hak yang melekat, hanyalah omong kosong.

Oposisi pencitraan seperti ini gak ada gunanya. Karena ujungnya selalu kompromi. Kita rakyat ditinggal sendiri.

Trus kita yang belum dapat mandat rakyat ini dipersalahkan karena gak oposisi, lah caranya gimana?

Pertama caranya gimana, kedua akibatnya siapa yg tanggung sementara kalian yang digaji besar-besar dengan kekebalan kok adem ayem?

Mana suara kalian? Mana gebrakan yang menggetarkan?

Oposisi gaya doang, andalannya media sosial, lah apa guna suara rakyat yg ada pada kalian? Nanti bilang “kami minoritas, kalah voting”, yah minta mayoritas mau berapa pemilu lagi?

Maunya besar tanpa ide akhirnya minta suara lagi. Sudah gak berani, gak ngerti, gak kreatif juga!

Oposisi itu berat sayang, kamu gak sanggup, biar aku aja.[]