News

Sindir Ketua MUI DKI, Jari 98: Beliau Perlu Bertaubat

Sindir Ketua MUI DKI, Jari 98: Beliau Perlu Bertaubat
Screenshot (YouTube/KH Munahar Muchtar)

AKURAT.CO, Jaringan Aktivis Reformasi Indonesia (Jari 98) prihatin penggunaan istilah ‘kecebong’ dan ‘kampret’ masih digunakan di media sosial.

Korwil Jari 98 Jakarta Utara Donny Fraga Wijaya menyayangkan bahwa pernyataan tersebut justru dilontarkan oleh ulama, yakni Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta Munahar Mukhtar. Dalam video yang beredar, Munahar pernah mendoakan agar kader partai-partai Islam di Indonesia tidak menjadi ‘kecebong’.

 “Apa yang disampaikannya dengan melabeli kata-kata 'cebong' menurut kami beliau perlu disadarkan kembali dan bertaubat. Ini sama saja tidak menghargai Tuhan yang telah menciptakan manusia,” ungkap Donny Fraga Wijaya dalam keterangan resminya, Kamis (17/1/2019).

baca juga:

Istilah ‘cebong’ dan ‘kampret’ populer di media sosial. Sebutan ‘cebong’ atau ‘kecebong’ merujuk pada para pendukung Jokowi. Sedangkan sebutan ‘kampret’ merujuk ke pendukung Prabowo Subianto.

Menurut Donny, ucapan itu sangat tidak pantas ditambah lagi dengan menggunakan istilah hewan untuk mendegradasi atau merendahkan manusia. Kata dia, Islam tidak mengajarkan demikian.

“Itu tidak sesuai dengan akhlak Islam. Siapa pun itu, baik pihak ini ke sana, pihak ini ke situ, apalagi ini sekelas ulama. Harusnya Ketua MUI DKI ini bisa berdiri ditengah-tengah, bagaimana bisa menyejukkan kalau bahasanya demikian,” ucapnya lagi.

Donny kembali menegaskan bahwa Islam menghormati semua manusia, termasuk kepada para nonmuslim. Jari 98 mengaku prihatin atas penyampaian pentolan MUI DKI ini yang dinilainya memunculkan benih permusuhan. Dia berpesan agar Munahar bisa menjaga silaturahmi meski berbeda pandangan, tidak menghina kelompok lain, dan berlomba dalam kebaikan.

“Manusia itu siapapun, adalah makhluk ciptaan Allah. Agama menyebutkan ‘karamna bani Adam, kami memuliakan bani Adam, bukan hanya muslim, bukan hanya mukmin’,” kata dia.

Donny mengingatkan agar ulama yang harusnya jadi publik figur bisa mencerminkan nilai dan keadaban Islam. Dalam konteks keadaban Islam harus punya tutur bahasa menyejukkan, bukan sebaliknya.

“Keadaban Islam itu mengharuskan kita untuk menyampaikan nasehat yang baik bukan dengan mengujat,” terangnya.

Dikatakannya, tutur kata santun seorang dai maupun ulama saat memberi nasihat merupakan hal yang wajib dalam agama, termasuk bila penyampaian itu bertujuan untuk mengkritik

“Bernasihat itu harus dengan cara yang baik, tidak hanya substansinya baik, tapi caranya pun harus baik, jangan ngawur. Mengayomi seluruh umat, bukan memusuhi,” kata dia.

Diketahui, dalam video yang diunggah di YouTube oleh akun KH Munahar Muchtar terdapat doa yang disampaikan Ketua MUI DKI Jakarta itu agar partai-partai Islam tidak jadi 'kecebong'. Kata 'kecebong' dilontarkan pada menit ke delapan.

"Atas nama MUI kami mengucapkan selamat kepada partai keadilan sejahtera, sekarang ini selaku motor utama pergerangan umat islam dari kalangan partai, mudah-mudahan partai islam lainnya, mudah-mudahan enggak jadi kecebong, mudah-mudahan kembali ke jalan yang benar," ujar Munahar Muchtar dikutip dari YouTube.[]

 

Ainurrahman

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu