News

Sindir Habib Rizieq Shihab, Denny Siregar: Sayang Banget Dia Sama Gua

Denny Siregar menyindir Habib Rizieq Shihab karena kerap menyebut namanya.


Sindir Habib Rizieq Shihab, Denny Siregar: Sayang Banget Dia Sama Gua
Pegiat Media Sosial Denny Siregar (Twitter/@Dennysiregar7)

AKURAT.CO, Pegiat media sosial Denny Siregar menyikapi pledoi Habib Rizieq Shihab (HRS) perkara kabar bohong hasil swab test (tes usap) Covid-19 di RS Ummi Bogor. Pasalnya, dalam pledoi HRS menyebut nama Denny.

Lewat Twitter, Denny menyindir HRS. Dia menilai HRS sangat sayang kepadanya sehingga namanya selalu disebut.

Nama gua disebut-disebut mulu sama Riziek. Bahkan di pengadilan. Sayang banget dia sama gua,” sindir Denny sebagaimana dikutip AKURAT.CO di Twitter @Dennysiregar7 pada Sabtu (12/6/2021).

Selain itu, Denny menyoroti penyebutan nama Diaz Hendropriono dalam pledoi HRS. Di mana Diaz dituding terlibat dalam pembantaian enam laskar FPI.

"Wkwkkw.. makin lucu aja ente, ziek," ujar Denny dengan emoji tertawa.

Sebagaimana diketahui, terdakwa kasus kabar bohong hasil swab test (tes usap) Covid-19 di RS Ummi Bogor, Habib Rizieq Syihab (HRS) blak-blakan menceritakan pertemuan rahasia antara dirinya dengan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan dan Kapolri saat itu, Tito Karnavian, saat dirinya tertahan di Arab Saudi. Pertemuan rahasia itu terjadi di sebuah hotel mewah di Kota Jeddah, Arab Saudi pada medio 2017-2018.

Pertemuan itu, kata dia, menghasilkan beberapa kesepakatan. Di antaranya adalah janji BG untuk menyetop semua kasus hukum yang menjerat bersama rekan-rekannya yang lain.

Rizieq mengajukan tiga syarat untuk mengabulkan kesepakatan tersebut. Permintaan pertama, Habib Rizieq meminta agar para penista agama seperti Abu Janda, Ade Armando, Denny Siregar, dan semua yang menista agama untuk diproses hukum.

"Mereka yang sering menodai Agama dan menista Ulama juga harus diproses hukum, sesuai dengan prinsip equality before the law sebagaimana dimanatkan UUD 1945," kata dia .

Permintaan kedua, yakni untuk menyetop kebangkitan PKI di Indonesia. Ia meminta kepada Tito agar Amanat TAP MPRS RI No XXV Tahun 1966 tentang Pembubaran dan Pelarangan PKI harus dijalankan dengan tegas.[]