News

Sindir Anies, Politisi PDIP: Jargon Maju Kotanya, Bahagia Warganya Sekedar Rangkaian Kata

Gilbert Simanjuntak mengkritik jargon Gubernur Anies Baswedan ketika kampanye Pilkada 2017 silam, yakni 'Maju Kotanya, Bahagia Warganya'.


Sindir Anies, Politisi PDIP: Jargon Maju Kotanya, Bahagia Warganya Sekedar Rangkaian Kata
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat mendatangi Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (17/11/2020). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi PDIP Gilbert Simanjuntak mengkritik jargon Gubernur Anies Baswedan ketika kampanye Pilkada 2017 silam, yakni 'Maju Kotanya, Bahagia Warganya'.

Menurut Gilbert, jargon tersebut hanya sekadar kata-kata manis untuk menarik simpati publik. Buktinya, kini Jakarta dinobatkan menjadi salah satu kota termahal di dunia versi Bank Julies Baer's Global Wealth and Lifestyle Report 2021.

"Jargon Maju Kotanya, Bahagia Warganya sekedar rangkaian kata-kata," kata Gilbert ketika dikonfirmasi AKURAT.CO, Sabtu (17/4/2021).

Indikator yang dipakai Bank Julies Baer's Global Wealth and Lifestyle mengukur predikat kota termahal adalah harga barang pendukung gaya hidup, seperti elektronik, mobil, pakaian, hingga minuman beralkohol.

Harga barang paling mahal di DKI Jakarta dalam laporan Bank Julies Baer's Global Wealth and Lifestyle adalah teknologi, sepeda, properti, alat olahraga, jam tangan, hingga jasa pengacara.

"Jakarta kota termahal, berarti sudah tidak layak untuk ditinggali orang miskin. Indikator yang digunakan survei tersebut antara lain adalah sepeda yang dinilai sebagai barang mahal. Bisa dimaklumi kalau Jakarta masuk karena sepeda laku keras dan habis di pasaran termasuk sepeda harga Rp80juta-an," tegasnya.

Hasil survei  tersebut kata Gilbert juga  mengkonfirmasi  bahwa tidak ada keberpihakan Pemerintahan Anies Baswedan terhadap warga miskin kota. Faktanya mayoritas  warga Jakarta  adalah masyarakat miskin, sedangkan masyarakat  kelas menengah ke atas jumlahnya lebih sedikit.

"Hasil ini menunjukkan bahwa koefisien Gini ratio (kesenjangan) DKI 0.4 yang meningkat dari tahun lalu memang sesuai kenyataan dan sesuai dengan hasil survei karena sebenarnya, lebih banyak warga miskin daripada kaya di DKI, tetapi mereka tidak terpotret atau mengalami dilusi (pengenceran) karena belanja orang kaya ini," katanya lagi.

Gilbert melanjutkan, ketidakpedulian Pemerintah  Provinsi DKI terhadap masyarakat miskin juga tercermin dari sejumlah program yang digagas Anies. Anies dinilai lebih mementingkan proyek - proyek besar ketimbang menggagas program yang langsung menyentuh hidup masyarakat miskin.

Arief Munandar

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu