News

Simulasi Pilpres versi Indikator: Ganjar-Erick Libas Anies-Sandiaga

Dari survei tersebut, nama Sandiaga Uno ternyata dijauhi mayoritas pendukung Jokowi dalam Pilpres sebelumnya.


Simulasi Pilpres versi Indikator: Ganjar-Erick Libas Anies-Sandiaga
Calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 02 Prabowo-Sandi Uno saat memberikan keterangan kepada sejumlah media mengenai hasil akhir perhitungan pemilu 2019 di Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (21/5/2019). Prabowo-Sandi menyatakan menolak hasil Pilpres 2019 yang dimenangi Jokowi-Ma'ruf Amin. Prabowo menyebut Pilpres 2019 penuh kecurangan. Prabowo didampingi sejumlah tokoh yang mendukung seperti Amien Rais, Titek Soeharto, Rachmawati Soekarnoputri dan yang lainnya. (AKRUAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Indikator Politik Indonesia mengeluarkan hasil survei atau temuannya bertajuk 'Kinerja Presiden, Pemulihan Ekonomi Pasca Pandemi dan Peta Elektoral Terkini', pada Minggu (5/12/2021). Dari survei tersebut, nama Sandiaga Uno ternyata dijauhi mayoritas pendukung Jokowi dalam Pilpres sebelumnya.

Survei Indikator menyebut, dalam hal pilihan Presiden, pemilih Joko Widodo (Jokowi) dalam Pilpres sebelumnya lebih memilih Prabowo Subianto dengan angka 26,9 persen di atas Ganjar Pranowo sebesar 23,2 persen. Sementara Sandiaga hanya meraih 4,5 persen.

Artinya, Sandi tidak mendapat dukungan dari pemilih Jokowi. Sandi juga meski sudah masuk kabinet tidak pernah dapat meraih hati pendukung Jokowi. Bahkan, dengan raihan angka 4,5 persen, pendukung Jokowi terkesan menjauhi Sandi.

Menanggapi survei itu, Pengamat Komunikasi Politik Cecep Handoko mengingatkan, faktor primodial sulit untuk dihilangkan di pemilihan presiden 2024. Ia menilai, efek sebelumnya di mana kental nuansa kampanye politik identitas jadi sisi negatif ke Sandi yang melekat.

"Pendukung Jokowi mungkin tak ingin hal itu kembali terjadi sehingga lebih memilih Ganjar atau Prabowo," kata Cecep dalam keterangannya kepada media, Rabu (8/12/2021).

Dengan suara pemilih Jokowi yang hanya 4,5 persen, Sandiaga tidak cukup pantas disebut favorit. Apalagi, hal itu akan bergantung dengan siapa dipasangkan.

Dukungan kecil terhadap Sandi, kata dia, boleh jadi karena belum ada rekam jejak keberhasilan di birokrasi. Ketika menjabat wakil gubernur tidak tuntas. Bahkan memilih maju menjadi cawapres. Setelah kalah di Pilpres 2019, ia justru masuk istana.

Rekam jejak seperti itu, kata Cecep, akan membuat publik merasa tidak ada konsistensi, sehingga sedikit banyaknya akan berpengaruh pada elektabilitasnya di 2024 nanti.

Ketika memutuskan bergabung ke kabinet, dua pihak kecewa, pendukungnya dan tentu saja ketidaksukaan dari pendukung Jokowi.