Ekonomi

Simbiosis Mutualisme Ala Ojol dan UMKM, Kala Corona Menyapa


Simbiosis Mutualisme Ala Ojol dan UMKM, Kala Corona Menyapa
Pengemudi ojek online menunggu orderan di kawasan Cibubur, Jakarta Timur, Selasa (24/3/2020). Merebaknya wabah virus covid-19 menyebabkan aktivitas di kawasan tersebut lesu sehingga berimbas pada berkurangnya pemesan ojek online hingga lima kali lipat dari biasanya. (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Covid-19 alias Corona begitulah wabah penyakit mematikan ini disapa hingga menjadi momok menakutkan bagi seluruh penduduk dunia, tanpa terkecuali Indonesia. Semenjak sang Corona menyapa tanah air, telah banyak masyarakat tanah air yang terpapar dihampiri virus ini.

Bahkan hingga sejauh ini, virus Corona telah menghilangkan nyawa sebagian masyarakat Indonesia. Tak ayal demi mencegah semakin brutalnya penyebaran Corona, Pemerintah pun harus berjibaku dengan mengeluarkan kebijakan Social Distancing kepada seluruh elemen masyarakat untuk bekerja, belajar dan beribadah dari rumah.

Banyaknya kantor yang menerapkan Work From Home (WFH) nyatanya menjadi cerita tersendiri bagi para pelaku sektor informal. Faktanya ketika banyak orang dapat melakukan pekerjaannya dari rumah, namun masih banyak pula segelintir pekerja harian lepas yang mau tak mau harus tetap menjalankan pekerjaan seperti biasanya di tengah ganasnya serangan wabah Corona.

baca juga:

Mereka diantaranya adalah para ojek online (Ojol) hingga para pelaku usaha UKM/UMKM yang justru sangat memberi peran dalam keadaan genting ini. Memang sih pada akhirnya hal tersebut hanya akan memunculkan dilema tersendiri bagi para pejuang rupiah, bagaikan 'dua sisi mata uang'. 

Di satu sisi, pemerintah menyuruh segala aktivitas sebaiknya dihentikan terlebih dahulu demi memutus rantai virus Covid-19. Namun disisi lainnya jika tidak bekerja dari mengaspal di jalanan hingga melayani para pelanggan disela-sela ancaman Corona, pasalnya para Ojol dan UMKM tak mampu mendapat pemasukan untuk tetap menjaga keberlangsungan kehidupannya.

Meski tak jarang, orderan atau pelanggan yang para Ojol dan UMKM dapatkan tak terlalu ramai dibandingkan hari biasanya.

Sebut saja Susi, salah satu pelaku usaha UMKM di daerah Ciledug menyatakan semenjak pemerintah mengeluarkan kebijakan Social Distancing dirinya mengakui jika perputaran ekonomi yang biasanya ramai, berubah 360° menjadi sepi pembeli.

"Semenjak hadirnya virus Corona di tengah masyarakat Indonesia menjadikan kita sepi pelanggan. Bahkan yang biasanya aktivitas jual-beli masyarakat sehari-hari kita temui, sekarang berubah sekejap mata menjadi sepi. Omzet yang biasanya untung malah berkurang hingga 80%," ucapnya ketika penulis temui.

Menurutnya sepinya omzet penjualannya dapat dipantau dari parkiran tempat usahanya. Bagaimana tidak, selama seminggu ini parkiran pun terlihat sunyi.

"Kalau di hari biasa sebelum wabah ini muncul parkiran pasti penuh, enggak pernah sepi. Namun sekarang kita lihat saat ini, sepi tak ada parkiran para pembeli ataupun pengunjung. Dapat satu pelanggan pun yang membeli dagangan kita, udah alhamdulillah banget," jelasnya.

Menurutnya langkah satu-satunya yang dapat membantu perputaran uang terus bergerak, yakni melalui penjualan online.

"Pembeli tinggal chat kita mau barang kayak gimana, nanti tinggal kita urus terus tinggal kirim lewat perantara ojek online, ya macam simbiosis mutualisme lah. Satu sisi kita para pelaku usaha kebantu. Ojol pun juga dapat pesanan, pembelipun bisa bahagia barang yang diinginkan akan segera datang," sebutnya. 

Senada dengan pernyataan Susi, Wahyu yang merupakan salah satu driver ojek online Grab mengungkapkan Social Distancing memang memberi sedikit keuntungan bagi para driver ojek online. Keuntungan itu khususnya bagi layanan pemesanan yang bergerak di bidang makanan dan pengiriman paket.

Bagaimana tidak, Wahyu mengakui arus pemesanan makanan dan pengiriman paket (Grab Express Same day) perharinya naik 6 hingga 7 kali dalam sehari.

"Kebanyakan lebih ke pengiriman paket sih, soalnya banyak masyarakat takut keluar kemana-mana gara-gara virus Corona ini. Jadi mereka lebih mesen lewat online," ucapnya ketika penulis hubungi.

Sedangkan untuk layanan grab food, kenaikannya tidak terlalu signifikan. Malah terbilang agak sedikit menurun dibandingkan hari biasanya.

"Kadang ada yang mesen makanan tapi ditujukannya ke kita-kita juga, itu sih yang membuat saya selalu bersyukur," jelasnya.

Meskipun begitu, dirinya juga tak memungkiri sebagai manusia biasa tetap khawatir untuk beraktivitas di tengah wabah virus Corona yang menyerang tanah air.

"Kalau dibilang takut mah, ya takut tapi mau digimanain lagi. Intinya sih kalau saya, tetap jaga kesehatan tubuh aja sih. Kalau udah mulai ngerasa enggak enak badan langsung ambil libur enggak pick barang, stay dirumah istirahat paling gitu sih," terangnya.

Jika berkaca dari krisis tahun 1998, memang sektor mikro seperti UMKM lah yang dianggap mampu menjadi penopang ekonomi rakyat kala itu. Sedangkan, seiring perkembangan zaman pekerja harian lepas sektor informal seperti para Ojek Online maupun driver ojol juga seakan turut memberikan peranan bagi perputaran aktivitas ekonomi saat ini.

Bagai 'simbiosis mutualisme', para UMKM dan Ojol pun saling bersinergi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pelaku UMKM menjual produk atau barang dagangannya melalui online, sedangkan Ojol yang mengantar pesanan para pelanggan UMKM.

Menatap fenomena ini, nampaknya pemerintah dinilai harus memberikan tunjangan sekaligus perlindungan bagi para UMKM maupun pekerja lepas harian sektor informal. Diantaranya melalui kebijakan stimulus.

Seperti diketahui, beberapa waktu lalu Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Rully Indrawan menekankan bahwa pemerintah perlu mengeluarkan skema program bagi koperasi yang benar-benar membantu anggotanya yang tidak mampu membayar pinjaman, lantaran benar-benar terdampak musibah wabah virus Covid-19.

Dimana dalam skema program itu, nantinya akan ada relaksasi dari perbankan dan LPDB KUMKM kepada pinjaman koperasi tersebut.

Kemudian, lanjutnya, skema pinjaman khusus kepada koperasi yang mengalami kesulitan likuiditas karena kebijakan relaksasi internal atau karena mengeluarkan kebijakan baru untuk membantu anggotanya yang usahanya terganggu musibah virus Covid-19. Ketiga, pembebasan pajak koperasi pada objek terkait.

"Lalu yang terakhir adalah mencegah keluarnya kebijakan sepihak dari pemerintah daerah yang merugikan kredibilitas dan keberlangsungan koperasi," ucap Rully melalui keterangan tertulis di Jakarta, Senin (30/3/2020).

Rully mengakui saat ini keadaan tidak normal yang kurang menguntungkan bagi siapapun, termasuk bagi pemerintah. Jadi jangan sekali-kali ingin mengambil keuntungan sendiri dari keadaan tersebut.

Maka dengan itu, pihaknya menunjuk Koperasi Simpan Pinjam (KSP), dimana pemilik dan nasabahnya sama. Maka nantinya, kebijakan relaksasi ataupun penangguhan pembayaran ditentukan melalui mekanisme rapat anggota.[]