Olahraga

Silat Oh Silat, Sampai Kapan Terus Begini?

Indonesia mendapat satu emas dari total 16 medali emas yang diperebutkan di cabang pencak silat SEA Games Hanoi 2021


Silat Oh Silat, Sampai Kapan Terus Begini?
Pesilat Indonesia Muhamad Yachser Arafa (kiri) menangkis serangan pesilat Singapura Muhammad Hazim Bin Mohamad Yusli (kanan) pada final kelas C 55-60 Kg Putra Pencak Silat SEA Games 2021 Vietnam di Bac Tu Liem Sport Center, Hanoi, Vietnam, Senin (16/5). (ANTARA/Zabur Karuru)

AKURAT.CO, Hanya mendapat satu emas dari total 16 medali emas yang diperebutkan di cabang pencak silat SEA Games Hanoi 2021 jelas tak bisa diterima untuk Indonesia. Sebagai negara asal pencak silat, situasi itu terlalu ironis karena SEA Games sejatinya adalah arena puncak olahraga beladiri yang memang khas Asia Tenggara tersebut.

Sudah sejak SEA Games Malaysia 2017, capaian terbaik Indonesia di cabang pencak silat paling banyak dua emas. Di Filipina pada 2019 juga sama di mana Indonesia ketika itu hanya mendapatkan dua emas, tiga perak, dan dua perunggu.

Dus, sejak 2017 kontingen pencak silat Indonesia selalu merasa bahwa mereka “dirugikan” dengan kecurangan. Tahun ini, Wakil Sekretaris Jenderal Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Bayu Syahjohan, menggunakan istilah “musuh bersama” untuk menggambarkan kolaborasi antar negara peserta melawan Indonesia.

baca juga:

“Ada wasit yang berbicara ke saya dan meminta saya untuk tenang karena mereka memastikan bersikap netral terhadap Indonesia. Ini artinya memang ada komunikasi itu untuk menjegal Indonesia,” kata Bayu sebagaimana dipetik dari Antara.

Kontingen Indonesia setidaknya mencatat lima kejanggalan yang merugikan Indonesia. Di antaranya adalah tindakan diskualifikasi terhadap Muhamad Yachser Arafa yang semestinya bertanding menghadapi wakil Singapura, Muhammad Hazim di laga final kelas C putra 50-60 kilogram.

Juga pengurangan angka terhadap M Khoiruddin Mustakim yang harus kalah tipis di final kelas B putra 50-55 kilogram menghadapi wakil Malaysia, Muhammad Hairi Adib Bin Azhar. Indonesia bahkan sudah melayangkan protes untuk kasus Mustakim namun penyelenggara bersikukuh dengan posisi mereka.

Jika dugaan tim Indonesia soal kecurangan di SEA Games Hanoi benar adanya, maka ini akan menyulitkan usaha Indonesia untuk membawa pencak silat ke olimpiade. Pasalnya, sebagai kawasan asal pencak silat, Asia Tenggara belum bisa menjamin kredibilitas kompetisinya.

Di sisi lain, keberadaan Indonesia sebagai negara terbesar di kawasan juga sebagai tanah asal pencak silat tak bisa dipungkiri menimbulkan ego dan sentimen khusus bagi negara-negara pesaing.

Asal ingat saja, Indonesia menjadi juara umum di Asian Games 2018 sebagai tuan rumah dengan menyapu 14 medali emas dan hanya menyisakan dua emas untuk negara lain yang ketika itu direbut oleh Vietnam.

Dan rasanya tidak mudah untuk membuktikan Indonesia melakukan kecurangan di Asian Games yang diprotes oleh kontingen Malaysia ketika itu sebagaimana juga yang dilakukan Indonesia di Vietnam tahun ini.[]