News

Sidik Kasus Maria Pauline, Polisi Periksa 12 Saksi Termasuk Pejabat Bank BNI 46


Sidik Kasus Maria Pauline, Polisi Periksa 12 Saksi Termasuk Pejabat Bank BNI 46
Karopenmas Mabes Polri, Brigjen Pol Awi Setyono saat menyampaikan perkembangan terbaru terkait kasus pembobolan Bank BNI sebesar Rp1,7 Triliun (ISTIMEWA)

AKURAT.CO, Penyidikan kasus pembobolan Bank BNI oleh Maria Pauline Lumowa terus digeber. Penyidik Direktorat Ekonomi Khusus Bareskrim Polri telah memeriksa pihak Bank BNI 46. 

Sayangnya Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Awi Setiyono tak mengungkap siapa identitas saksi dari pihak BNI. 

"Sudah ada 12 saksi yang diperiksa, baik dari rekan-rekan terpidana, maupun saksi dari pihak BNI 46," kata Awi di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Senin (13/7/2020).             

Awi juga tak merinci siapa saja nama-nama 12 saksi yang diperiksa. Namun ada terpidana yang sudah lebih dulu diproses secara hukum dalam kasus pembobolan Bank BNI yang terjadi pada periode Oktober 2002 hingga Juli 2003.               

Diketahui penangkapan Maria Pauline mengingatkan publik soal keterlibatan Adrian Herling Waworuntu dan 2 nama pensiunan jenderal polisi yang juga terlibat penyuapan. Dua jenderal polisi yang sampai akhirnya divonis bersalah oleh pengadilan.       

Dua pensiunan jenderal polisi, yaitu Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Kabareskrim) Mabes Polri (2004-2005) Komjen Pol (Purn) Suyitno Landung dan Direktur II Ekonomi Khusus Bareskrim Mabes Polri Brigjen Pol (Purn) Samuel Ismoko.         

Maria Pauline bersama Adrian ditetapkan menjadi tersangka oleh Bareskrim Mabes Polri berdasarkan Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) No. Pol: 86/X/2003/Dit II Eksus tertanggal 7 Oktober 2003. Sprindik itu ditandatangani Samuel Ismoko dengan Kabareskrim dijabat Suyitno Landung.               

Keduanya diduga melakukan korupsi, pencucian uang, perbankan, penipuan, dan pemalsuan dengan pembobolan bank BNI Cabang Kebayoran Baru senilai Rp1,7 triliun melalui Letter of Credit (L/C) fiktif.

Kemudian Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 30 Maret 2005 silam memvonis Adrian dengan hukuman seumur hidup. Adrian juga dijatuhi pidana denda Rp1 miliar subsider 1 tahun penjara, dan pidana tambahan membayar uang pengganti Rp 300 miliar.

Pada 10 Oktober 2006, purnawirawan jenderal polisi Suyitno Landung yang divonis bersalah, dipenjara selama 1 tahun 6 bulan dan pidana denda Rp50 juta subsider 6 bulan kurungan.                  

Suyitno Landung dinyatakan terbukti menerima suap berupa mobil Nissan X-Trail.                

Sebelumnya, Samuel Ismoko yang merupakan pensiunan jenderal polisi ini pada 26 September 2006 divonis 1 tahun 8 bulan dengan denda Rp50 juta subsider 1 bulan kurungan.           

Samuel dinyatakan terbukti menerima suap berupa travel cek Rp 200 juta dari BNI dan travel cek Rp50 juta dari atasannya.  

Selain Adrian dan Maria, ada 16 orang lainnya yang terlibat, termasuk pegawai dan dua pimpinan BNI Kantor Cabang Kebayoran Baru. []

Ainurrahman

https://akurat.co