News

Sidang Kasus Klitih: Saksi Ahli Tak Bisa Identifikasi Sosok di Rekaman CCTV

Sidang Kasus Klitih: Saksi Ahli Tak Bisa Identifikasi Sosok di Rekaman CCTV
Ilustrasi - Pembunuhan (AKURAT.CO/Candra Nawa)

AKURAT.CO, Saksi ahli digital forensik mengaku kesulitan mengidentifikasi sosok terekam dalam kamera pengawas sebagai para terdakwa kasus kejahatan jalanan alias klitih yang menewaskan Daffa Adzin Albazith (17), di Jalan Gedongkuning, Kotagede, Kota Yogyakarta, Minggu (3/4/2022) dini hari lalu.

Kepala Pusat Studi Forensik Digital UII Yudi Prayudi hari ini dihadirkan dalam sidang lanjutan kasus kejahatan jalanan yang mengadili lima orang terdakwa di Pengadilan Negeri Kota Yogyakarta, Kamis (6/10/2022). Ia dihadirkan oleh penasehat hukum terdakwa guna memaparkan hasil analisis atau pengamatan visual rekaman kamera pengawas sebagai salah satu berkas yang diajukan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Yudi menuturkan, ada total 9 file video rekaman yang sifatnya bukan primary source atau sumber utama. Melainkan hanya salinan bertipe mp4 dan 3gp yang kualitas gambarnya sudah tereduksi. 

baca juga:

"Ini kalau di dalam masalah digital forensik ini termasuk sumber utamanya tidak kita temukan. Jadi kita tidak mengenali dari sumber utama," kata Yudi usai jalannya sidang dengan agenda pemeriksaan saksi ahli.

Dijelaskan Yudi, dengan video berkualitas rendah tersebut pihaknya hanya bisa sebatas mengidentifikasi jumlah orang dan kendaraan yang tertangkap melalui kamera pengawas. Ia tidak bisa memastikan apakah sosok terekam merupakan kawanan terdakwa atau bukan.

"Dari proses ini kita hanya bisa menganalisis dari segi jumlah saja. Tetapi mengenai sosok, mengenai detail ya, orang ini siapa, wajahnya siapa, mengarah kepada siapa itu tidak bisa kita analisis apalagi di dalam keseluruhan objek video ini tidak ada segmen yang memang mengarah langsung ke wajah," paparnya.

Belum lagi, menurut Yudi, video tersebut merupakan hasil perekaman pada malam hari. Sehingga kian menyulitkan proses analisa gambar.

Sekalipun wajah sosok dalam video terekam jelas maka dalam identifikasinya dibutuhkan serangkaian proses komputasi dan pengolahan gambar. Sementara analisa gambar oleh Yudi disebut hanya sebatas pengamatan visual dengan segala keterbatasan.

Bahkan, lanjut Yudi, sangat sulit untuk mengidentifikasi jenis kendaraan yang ditumpangi sosok pada video. Kata dia, analisa objek bergerak dalam video seyogyanya memerlukan teknik dan teknologi yang lebih mutakhir.

"Kalau dari apa yang kita lakukan dengan keterbatasan yang ada itu kalau objek bergerak itu tadi kita sulit untuk mendeteksi. Itu sudah mencoba menggunakan frame yang paling maksimal dengan kualitas yang paling maksimal kita tetap tidak bisa mendeteksi dari sisi jenis tipe nomor tidak bisa kita deteksi," ungkapnya.

Sebelumnya diberitakan, lima orang terdakwa disidang dalam dugaan kasus kejahatan jalanan yang menewaskan Daffa Adzin Albazith (17). 

Lima orang berstatus pelajar yang diduga terlibat dalam kematian Daffa, yakni Ryan Nanda Saputra alias Botak (19), warga Mergangsan, Kota Yogyakarta yang diduga sebagai eksekutor, serta Fernandito Aldrian Saputra (18) dan M. Musyaffa Affandi (21). Keduanya merupakan warga Sewon, Bantul. Adapun dua terdakwa lain, yakni Hanif Aqil Amrulloh dan Andi Muhammad Husein Mazhahiri. 

Dalam sidang pembacaan dakwaan Juni 2022 lalu, terdakwa Ryan, Fernandito M. Musyaffa kompak menyangkal isi dakwaan dari JPU yang menyebut mereka terlibat dalam kematian Daffa.

Ryan bahkan bersumpah tak terlibat dalam aksi yang menewaskan pelajar SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta yang juga putra dari anggota DPRD Kebumen ini. Atas dakwaan ini, Penasehat Hukum terdakwa Ryan dan Musyaffa pun sempat menyatakan keberatan dan mengajukan eksepsi.

Penasehat hukum Ryan menyebut bahwa berdasarkan analisa pihaknya, kliennya adalah korban salah tangkap. Ryan diklaim tak tahu menahu soal peristiwa di Gedongkuning. Sementara barang bukti senjata tajam berupa gir yang ditemukan polisi juga disebut bukan milik kliennya.

Sedangkan Polda DIY menyatakan pembuktian bahwa para terdakwa kasus kekerasan jalanan atau klitih di Gedongkuning, Kotagede, sebagai korban salah tangkap akan berlangsung di persidangan. []