News

Sidang Kasus Klitih di Yogya, Terdakwa: Demi Allah Bukan Saya Pelakunya

Sidang Kasus Klitih di Yogya, Terdakwa: Demi Allah Bukan Saya Pelakunya


Sidang Kasus Klitih di Yogya, Terdakwa: Demi Allah Bukan Saya Pelakunya
Sidang kasus kejahatan jalanan yang menewaskan Daffa Adzin Albazith di Pengadilan Negeri Kota Yogyakarta, Selasa (28/6/2022). (AKURAT/Kumoro Damarjati)

AKURAT.CO Sidang perdana kasus kejahatan jalanan atau klitih yang menewaskan Daffa Adzin Albazith (17), di Jalan Gedongkuning, Kotagede, Kota Yogyakarta, Minggu (3/4/2022) dini hari lalu digelar di Pengadilan Negeri Kota Yogyakarta, Selasa (28/6/2022).

Dalam sidang yang dipimpin Suparman selaku Ketua Majelis Hakim ini, para terdakwa mengaku telah menjadi korban salah tangkap oleh kepolisian.

Persidangan untuk total lima orang terdakwa yang seluruhnya masih berstatus pelajar ini digelar secara daring dan terpisah sesuai nomor perkara.

baca juga:

Terdakwa Ryan Nanda Saputra alias Botak (19) yang diduga sebagai eksekutor dalam kasus ini disidang bersama dengan dua pelaku lain, yakni Fernandito Aldrian Saputra (18) dan M. Musyaffa Affandi (21).

Dua terdakwa lain, yakni Hanif Aqil Amrulloh (20) dan Andi Muhammad Husein Mazhahiri (19) menjalani sidang sebelumnya.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ariyani Widayati mengenakan kelima terdakwa dengan dakwaan alternatif. Yakni, Pasal 170 Ayat (2) ke-3 KUHP. Atau kedua, Pasal 353 Ayat (3) KUHP Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP. Atau ketiga, Pasal 351 Ayat (3) KUHP Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP. 

Dalam dakwaan JPU, disebutkan bahwa kasus bermula ketika belasan anggota Geng Morenza, termasuk Ryan dan empat terdakwa lainnya mendapatkan tantangan perang sarung dari Geng Voster, Sabtu (2/4/2022) malam. Rombongan berangkat ke lokasi yang ditentukan dengan cara berboncengan menaiki sepeda motor usai Ryan mengambil senjatanya berupa gir bertali.

Perang sarung dengan geng Voster hanya terjadi selama 5 menit di Simpang Empat Ringroad Druwo, Bantul karena keburu dibubarkan patroli polisi. Saat kabur, Ryan cs melihat Daffa bersama beberapa rekannya kebut-kebutah di jalur cepat daerah Kotagede, Minggu dini hari.

"Terdakwa Ryan mengatakan dioyak wae (dikejar saja)," kata JPU.

Ryan yang berhasil mendekati rombongan korban di Imogiri Barat, lalu mengumpat ke arah Daffa cs. Rombongan korban lalu membalas dengan kata-kata 'wong endi kowe' atau 'orang mana kamu'. Setelahnya kejar mengejar terjadi.

Usai mendapati rombongan korban berhenti di sebuah warung makan, daerah Gedongkuning, terdakwa Fernandito dan Hanif memprovokasi dengan cara menggeber-geber motornya ke arah Daffa cs. Ryan dan Andi kala itu mengumpat, sementara Musyafa menantang lawan untuk mengejar.

"Terdakwa Musyafa Effendi yang berteriak 'ayo rene-rene' (ayo ke sini)," kata JPU.

Mendapati rombongan korban mengejar, kelompok pelaku lantas memutar balik kendaraannya dan Ryan turun dari motor untuk menghadang Daffa cs. Saat itu, Musyafa menyerang salah satu rekan korban memakai sarung yang diikat dan diisi batu, namun meleset.

Akhirnya, Ryan mengeluarkan senjatanya berupa gir bertalinya dan diayunkannya senjatanya itu ke arah Daffa yang tengah dalam posisi membonceng.

"Saksi (rekan Daffa) berhasil mengelak dengan menundukkan kepala, sedangkan korban Daffa tidak bisa mengelak kemudian terkena sabetan gir motor pada bagian kepala hingga tak sadarkan diri," urai JPU.

Ryan cs berniat mengejar korban lain. Akan tetapi hal itu urung dilakukan karena mereka melihat patroli polisi datang. Para pelaku kemudian melarikan diri. Ryan menyembunyikan senjatanya di sebuah kandang ayam samping rumah rekannya. Para pelaku selanjutnya berhasil diamankan tim gabungan Polda DIY dan Polresta Yogyakarta, Sabtu (9/4/2022) di kediaman masing-masing.

Sementara terdakwa Ryan, Fernandito M. Musyaffa kompak menyangkal materi dakwaan dari JPU.

"Nggak benar, Yang Mulia," kata Ryan kepada Hakim Ketua.

"Semuanya (tidak benar)," ujar Ryan.

Ryan bersumpah di depan hakim dia tak terlibat dalam peristiwa ini.

"Demi Allah bukan (pelaku), Yang Mulia," ujar dia.

Atas dakwaan ini, Kuasa Hukum terdakwa Ryan dan Musyaffa pun menyatakan keberatan dan mengajukan eksepsi. Sedangkan Kuasa Hukum Fernandito memilih tak mengajukan eksepsi demi mempercepat proses persidangan ke tahap pembuktian menimbang kondisi psikologis kliennya.

Kuasa Hukum Ryan, Arsiko Daniwidho Aldebaran menyimpulkan analisa sementara pihaknya dan mendapati indikasi kliennya adalah korban salah tangkap. 

"Kemungkinan besar salah tangkap, error in persona," ujar Arsiko selepas sidang.

Dia mengamini isi dakwaan yang menyebut kliennya terlibat dalam aksi perang sarung di Ringroad. Akan tetapi, menurutnya, Ryan selepas dibubarkan polisi langsung pulang.

Selain itu, barang bukti senjata tajam berupa gir yang ditemukan polisi, kata dia, juga bukan milik kliennya.

"Jadi tidak ngerti dengan peristiwa di Gedongkuning, tidak pernah ke sana juga," klaimnya.

Senada, Yogi Zul Fadhli, Kuasa Hukum Andi juga menyebut kliennya sebagai korban salah tangkap polisi. Yogi berujar, dakwaan JPU kabur karena Andi tak berada di Gedongkuning pada peristiwa dini hari itu.

"Dakwaan jaksa yang seperti itu tadi bisa dikatakan dakwaan yang mengada-ngada dan tidak sesuai fakta," tutur Yogi. []