Rahmah

Sibuk Bekerja, Apakah Boleh Menjamak Salat?

Manusia seringkali disibukkan dengan aktivitasnya, sehingga menjadi lalai terhadap perintah agama seperti ibadah salat.


Sibuk Bekerja, Apakah Boleh Menjamak Salat?
Ilustrasi orang sedang bekerja (Reshot)

AKURAT.CO  Ibadah salat merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang sudah baligh dan berakal, kapanpun dan di manapun. Dengan demikian, kewajiban salat tidak terpengaruh oleh ruang, waktu dan juga keadaan. Akan tetapi dalam kenyataannya, manusia seringkali disibukkan dengan aktivitasnya, sehingga menjadi lalai terhadap perintah agama tersebut.

Pada dasarnya terdapat banyak hal yang menjadikan seseorang bisa mendapatkan keringanan, seperti seorang musafir atau seseorang yang berpergian dengan tidak mempunyai tujuan maksiat. Atas dasar itulah dalam fikih mengajarkan salat jamak dan qashar.

Salat ini adalah melaksanakan dua macam salat yang berbeda dalam satu waktu, karena adanya satu alasan tertentu. Meski demikian para ulama fiqih berbeda pendapat terkait alasan diperbolehkannya jamak salat.

Sebagian ulama fiqih hanya membolehkan jamak shalat ketika seseorang dalam keadaan bepergian jauh (musafir). Namun sebagian ulama yang lain seperti Ibnu Sirrin, al-Qaffal dan Abu Ishaq al-Marwazy membolehkan menjamak salat walaupun ada di rumah dikarenakan keadaan yang amat sangat sibuknya dan jamak ini tidak menjadi kebiasaan.

Misalnya jamak shalat bagi pengantin baru yang sedang  menjalani walimatul arusy dan selalu menerima tamu. Begitu diterangkan dalam Syarah Muslim lin Nawawi:

وذهب جماعة من الأئمة الى جواز الجمع فى الحاضر للحاجة لمن لا يتخذه عادة وهو قول ابن سيرين وأشهب من أصحاب مالك وحكاه الخطابي عن القفال والشاشى الكبير من أصحاب الشافعى عن أبى إسحاق المروزى عن جماعة من أصحاب الحديث واختاره ابن المنذر

Artinya: "Sejumlah imam berpendapat tentang diperbolehkannya menjamak shalat di rumah karena ada keperluan bagi orang yang tidak menjadikannya sebagai kebiasaan,". Pendapat Ibnu Sirrin, Asyhab pengikut Imam Malik, al-Qaffal. As-Syasyi al-Kabir dari kalangan as-Syafi’I dan Abu Ishaq al-Marwazi dari kalangan ahlul hadits. Sebagaimana dipilih oleh Ibnu Mundzir. 

Sebaiknya seseorang melaksanakan ibadah salat secara tepat waktu. Jika dalam ranah pekerjaan, seseorang bisa meminta rekan kerjanya untuk bertukar waktu. Namun jika tidak memungkinkan lantaran resiko pekerjaan yang tinggi, maka dapat mengikuti pendapat ulama yang memperbolehkan jamak sesuai dengan ketentuan-ketentuan dan tidak menjadi sebuah kebiasaan yang sengaja dilakukan secara terus-menerus. Wallahu A'lam.

Sumber: Jatim.nu.or.id