Olahraga

Siapakah Kevin Cordon, Pebulutangkis Guatemala yang Menembus Semifinal Olimpiade?

Olimpiade Tokyo 2020 adalah olimpiade keempat Kevin Cordon sejak Beijing 2008.


Siapakah Kevin Cordon, Pebulutangkis Guatemala yang Menembus Semifinal Olimpiade?
Pebulutangkis Guatemala, Kevin Cordon, sedang dalam jalur sejarah untuk memburu final Olimpiade Tokyo 2020. (OLIMPIADE TOKYO 2020)

AKURAT.CO, Ada bendera “asing” di partai semifinal nomor tunggal putra cabang bulutangkis Olimpiade Tokyo 2020. Ya, satu dari empat pebulutangkis yang akan bersaing untuk mendapatkan tiket final di Musashino Forest Sports Plaza, Tokyo, Minggu (1/8), berasal dari negara yang tak disangka-sangka: Guatemala.

Namanya adalah Kevin Cordon, lahir di La Union, Guatemala, 28 November 1986, dan sudah berkiprah di arena bulutangkis internasional sejak era legenda Indonesia, Taufik Hidayat. Tahun ini, Cordon bakal menghadapi mantan pebulutangkis ranking satu dunia asal Denmark, Viktor Axelsen, di semifinal.

Olimpiade Tokyo adalah yang keempat bagi Cordon sejak partisipasi pertama di Beijing 2008. Di Beijing, Cordon berakhir di babak kedua kalah dari wakil China, Bao Chunlai, di London 2012 ia kalah oleh wakil Jepang, Sho Sasaki, di babak 16 besar, sementara di Rio De Janeiro 2016 ia harus mundur karena cedera selepas pertandingan pertama.

Tokyo 2020 bukan saja bisa menjadi olimpiade terakhir bagi Cordon namun juga atlet ini berada di jalur undian yang cukup menguntungkan. Namun, kunci penampilannya adalah menjuarai penyisihan grup dengan menjadi juara grup C dengan menyingkirkan atlet ranking sembilan dunia asal Hong Kong, Ng Ka Long.

Cordon datang ke Tokyo dengan peringkat 56 dunia dan mengalahkan atlet ranking 29 dunia asal Belanda, Mark Caljouw, di perdelapan final, serta menyingkirkan wakil Korea Selatan ranking 43 dunia, Heo Kwang-Hee, di babak perempat final.

Berada di semifinal bukan saja impian tercapai bagi Cordon namun juga ia kini berpeluang menjadi atlet penyumbang medali olimpiade kedua bagi negaranya. Perjalanannya ibarat dongeng karena ia hampir putus asa karena cedera selepas London 2012 serta kehilangan saudaranya, Marvin.

“Saya merasa seperti orang paling beruntung di dunia karena saya kembali dari cedera parah dan kematian saudara saya. Kini saya adalah pribadi yang baru,” kata Cordon sebagaimana dipetik dari laman Olimpiade Tokyo.

“Ketika saya kali pertama lolos ke olimpiade untuk kali pertama, itu adalah impian bisa berada di sana dan bermain hanya satu pertandingan. Setelah itu, saya mulai memimpikan memenangi lebih banyak pertandingan. Kini saya sudah memenangi tiga pertandingan di sini (Tokyo), rasanya seperti tidak percaya.”[]