Olahraga

Siapa Nugroho Setiawan, Security Officer Indonesia yang Miliki Lisensi FIFA?

Siapa Nugroho Setiawan, Security Officer Indonesia yang Miliki Lisensi FIFA?
Seorang suporter dibopong keluar lapangan pasca insiden yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (01/10) lalu (ANTARAFOTO)

AKURAT.CO - Publik sepakbola dunia khususnya Indonesia tengah berduka menyusul adanya tragedi maut yang menewaskan 125 orang di Stadion Kanjuruhan, Malang, pada Sabtu (01/10) malam WIB.

Sejauh ini, tercatat korban mencapai 448 korban, di mana diantaranya 125 orang meninggal dunia, 302 orang luka-luka dan 21 orang luka berat.

Akibat insiden ini, PSSI langsung melakukan penghentian sementara kompetisi Liga 1 untuk melakukan investigasi terhadap Tragedi Kanjuruhan.

baca juga:

Pemerintah lewat Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Mahfud MD bahkan langsung membentuk tim gabungan independen pencari fakta atau TGIPF.

Lebih lanjut, Mahfud MD juga mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menyetujui pembentukan TGIPF ini, dan meminta segera bekerja.

"Sudah dilaporkan kepada Bapak Presiden dan disetujui, serta minta segera diumumkan dan segera bekerja," ujar Mahfud MD.

Selain Mahfud MD selaku ketua TGIPF, ada Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Zainudin Amali di posisi wakil ketua, serta sebagai sekretaris, mantan Jampidum, Nur Rochmad.

Sedangkan untuk anggotanya, terdiri dari beberapa ahli, pengamat, dan juga profesional yang berkompeten di bidang olahraga khususnya sepakbola.

Anggota:

1. Prof Rhenald Kasali (Akademisi UI)

2. Prof Sumaryanto (Rektor UNY)

3. Akmal Marhali (Pengamat Olahraga)

4. Anton Sanjoyo (Jurnalis Olahraga)

5. Nugroho Setiawan (Mantan Pengurus PSSI dengan lisensi FIFA)

6. Letjen TNI (Purn) Doni Monardo (Mantan Kepala BNPB)

7. Mayjen TNI (Purn) Suwarno (Wakil Ketum I KONI)

8. Irjen Pol (Purn) Sri Handayani (Mantan Wakapolda Kalimantan Barat)

9. Laode M Syarif (Mantan pimpinan KPK)

10. Kurniawan Dwi Yulianto (Mantan pemain sepakbola Tim Nasional/APPI)

Siapa Nugroho Setiawan ?

Dari beberapa nama anggota tim TGIPF, ada sosok yang saat ini menjadi buah bibir di kalangan pecinta sepakbola Tanah Air, dia adalah Nugroho Setiawan.

Ia adalah satu-satunya orang di Indonesia yang dianggap sebagai ahli di bidang keamanan pertandingan sepakbola atau security officer, yang bahkan sudah berlisensi FIFA dan AFC.

Karena latar belakang tersebut, Pak Nug -biasa disapa- menjadi orang yang dinilai tepat untuk menjadi narasumber dan memberikan tanggapannya atas kejadian tragedi maut di Stadion Kanjuruhan.

Sebagaimana dikutip dari situs resmi PSSI, debut Nugroho Setiawan di dunia keamanan olahraga khususnya sepakbola terjadi kala ia dipercaya menjadi 'security officer' Pelita Jaya tahun 2008.

Saat itu, Pelita Jaya jadi satu-satunya klub di Liga Super Indonesia (LSI) yang resmi memiliki ‘security officer’. Setelah satu tahun di Pelita Jaya, Nugroho Setiawan kemudian bergabung dengan pengelola kompetisi liga sebagai konsultan.

Dalam prosesnya, Nugroho Setiawan biasanya dilibatkan dalam pertandingan seremonial dan pertandingan berstatus 'high risk'. Selain itu, ia juga pernah menjabat Kepala Departemen Infrastruktur, Keamanan, dan Keselamatan PSSI.

Nugroho Setiawan juga memiliki pengalaman di Pertandingan-pertandingan timnas Indonesia, Asian Games 2018, Piala AFC U-16 dan U-19, serta masuk tim inti bidding dan persiapan Piala Dunia U-20 untuk Indonesia.

Tak hanya dilibatkan sebagai security officer pertandingan sepakbola, Pak Nug juga pernah jadi konsultan ahli manajemen pengamanan di beberapa perusahaan besar, di antaranya PLN hingga Sucofindo.

Karena keahliannya itu, ia menyebut keamanan pertandingan sepakbola di Indonesia ternyata masih jauh dari seharusnya. Sepakbola Indonesia masih belum bisa jadi rekreasi dan hiburan bagi keluarga, lantaran stadion masih sangat bahaya untuk dikunjungi wanita dan anak-anak.

"Sepakbola ini stakeholder-nya banyak. Mulai panitia penyelenggara, media, suporter, hingga aparat kepolisian. Semua harus benar-benar komitmen mengenai masalah keamanan," kata Nugroho dalam wawancara dengan PSSI pada April 2018 silam.

"Menyepelekan satu hal kecil tentang keamanan bisa berarti membuka celah untuk sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi dalam sebuah pertandingan."

Siapa Nugroho Setiawan, Security Officer Indonesia yang Miliki Lisensi FIFA - Foto 1
tragedi Kanjuruhan.jpg
3 Poin Penting Pengamanan di Stadion Sepakbola

Sedangkan untuk peristiwa tragedi di Stadion Kanjuruhan, pria lulusan sastra Rusia di Universitas Indonesia ini hanya bisa berkomentar secara normatif, karena tidak ada di tempat kejadian.

"Poin yang kesatu adalah kesamaan persepsi pengamanan di antara semua stakeholder. Yang kedua adalah kondisi infrastruktur, ini harus dilakukan assessment. Yang ketiga adalah supporter behaviour itu sendiri yang harus kita engineering," kata Nugroho.

"Ketiga aspek ini harus tersinkronisasi, dan ketika kita melakukan penilaian risiko atau risk assessment, kita akan menghasilkan sebuah rencana pengamanan yang disetujui bersama, jadi suatu agreed behaviour and procedure."

Nugroho Setiawan menduga ketiga hal itu tidak terjadi sinkronisasi di Stadion Kanjuruhan, sehingga tidak ada kesamaan persepsi antara aparat di lapangan dengan suporter.

Saat ini Nugroho Setiawan masuk dalam jajaran FIFA Hygiene Officer sebagai security officer AFC, dan juga pernah jadi pengajar sertifikasi untuk manajer keamanan.

Siapa Nugroho Setiawan, Security Officer Indonesia yang Miliki Lisensi FIFA - Foto 2
Tabur Bunga Tragedi Kanjuruhan Ultras Garuda bersama gabungan suporter klub di Indonesia melakukan aksi 1000 lilin dan tabur bunga di depan Kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (2/10/2022). Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk solidaritas dan bentuk rasa duka cita atas tragedi tewasnya ratusan suporter Arema usai menonton pertandingan antara Arema Malang vs Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang. AKURAT.CO/Endra Prakoso Endra Prakoso
Tragedi Kanjuruhan

Insiden tragis itu terjadi usai pertandingan pekan ke-11 Liga 1 Indonesia 2022-2023 antara Arema FC vs Persebaya Surabaya. Laga bertajuk Derby Jawa Timur itu berakhir dengan skor 2-3 untuk kemenangan Bajul Ijo.

Hasil itu juga sekaligus memutus rekor buruk Persebaya yang dalam 23 tahun terakhir, tak pernah menang atas Arema FC di Malang.

Sayang, kekalahan ini tampaknya tidak diterima oleh oknum pendukung tuan rumah, Aremania. Mereka pun langsung meluapkan kekecewaan, dengan melakukan protes turun ke lapangan.

Tidak lama kemudian, pihak keamanan Polri dan TNI yang berjaga memberikan sikap tegas, agar para suporter kembali ke tribun untuk menghindari aksi anarkis.

Akan tetapi jumlah suporter yang turun justru semakin bertambah hingga sulit dikendalikan, yang berujung dengan ditembakkannya gas air mata oleh aparat keamanan untuk mengendalikan massa. 

Sayangnya, gas air mata tidak hanya ditembakan ke lapangan untuk membubarkan massa yang turun, tapi juga di area tribun penonton.

Hal itu kemudian memicu kepanikan, dan membuat suporter berlarian ke arah pintu keluar. Alhasil, terjadi penumpukan massa. Desak-desakkan pun tak terelakkan hingga jatuh banyak korban jiwa.[]

Lihat Sumber Artikel di Indosport Disclaimer: Artikel ini adalah kerja sama antara AkuratCo dengan Indosport.com Hal yang berkaitan dengan tulisan, foto, video, grafis, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab dari Indosport.com