Ekonomi

Siap Digabung Oktober, Nilai Aset BUMN Pelabuhan Ditaksir Capai Rp112 Triliun

Wakil Erick Thohir menyatakan merger BUMN pelabuhan secara resmi akan dilakukan mulai 1 Oktober 2021


Siap Digabung Oktober, Nilai Aset BUMN Pelabuhan Ditaksir Capai Rp112 Triliun
Arus peti kemas BUMN Pelabuhan Pelindo III mencapai 5,08 juta TEUs selama pandemi covid-19 di tahun 2020 (Humas Pelindo III)

AKURAT.CO, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengumumkan rencana penggabungan atau merger empat perusahaan pelat merah sektor pelabuhan. 

Keempat BUMN itu diantaranya PT Pelindo I (Persero), PT Pelindo II (Persero), PT Pelindo III (Persero), dan PT Pelindo IV (Persero) yang akan digabungkan menjadi satu perusahaan bernama PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo. 

Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo mengatakan merger BUMN Pelabuhan sudah direncanakan sejak lama namun baru bisa direalisasikan pada periode ini. Rencananya merger secara resmi akan dilakukan pada 1 Oktober 2021. 

"Hari ini kami telah mengumumkan rancangan merger yang akan dilaksanakan pada 1 Oktober 2021 dan kami sedang menunggu PP (Peraturan Pemerintah) yang menjadi dasar hukum dari merger 4 pelabuhan milik BUMN ini," jelasnya, Rabu (1/9/2021). 

Pria yang akrab disapa Tiko itu menerangkan pada rancangan penggabungan, nantinya Pelindo II akan menjadi perusahaan penerima penggabungan dan Pelindo I, Pelindo III dan Pelindo IV akan bubar demi hukum tanpa proses likuidasi. 

Menurutnya, penunjukkan Pelindo II menjadi holding perusahaan dikarenakan memiliki penerapan service level aggrement (SLA) dan layanan yang terbilang lebih unggul. Ia pun berharap, ketiga BUMN pelabuhan lainnya bisa beradaptasi dan mengimbangi capaian Pelindo II.

"Pelindo II sekarang ini menjadi leading sector, dan diharapkan Pelindo lainnya menyesuaikan layanan dana efisiensinya untuk bisa mencapai benchmark yang ada di Pelindo II," sambungnya.

Kendati demikian Tiko menegaskan, bahwa setelah merger, Pelindo II akan berperan sebagai strategic holding bukan operating. Lantaran, yang akan mengoperasikan adalah masing-masing sub holding. Terdapat empat subholding yakni petikemas, non-petikemas, logistics & hinterland development, marine, serta equipment & port services. 

"Pelindo II akan menjadi strategic holding bukan operating, yang operasikan ada empat sub holding di bawahnya. Jadi ini akan muncul sebagai perusahaan baru yang mempunyai bisnis model lebih fokus dan diharapkan create value lebih besar," paparnya.

Lebih lanjut Tiko menuturkan bahwa dengan penggabungan empat BUMN tersebut maka total aset perusahaan akan sebesar Rp112 triliun dengan total pendapatan mencapai Rp28,6 triliun. Sehingga skala merger ini memang sudah masuk ke skala pelabuhan global.

Tiko menjelaskan integrasi Pelindo merupakan salah satu bagian dari program strategis pemerintah dan inisiatif Kementerian BUMN untuk melanjutkan proses konsolidasi BUMN dalam layanan kepelabuhanan, serta diusulkan masuk dalam program strategis nasional (PSN).

Katanya, berdasarkan kajian yang telah dilakukan atas opsi restrukturisasi BUMN Pelabuhan, penggabungan adalah opsi yang paling sesuai karena dapat memaksimalkan sinergi dan penciptaan nilai tambah.

Menurut Tiko, penggabungan ini dilakukan sebagai upaya mewujudkan industri kepelabuhanan nasional yang lebih kuat, dan meningkatkan konektivitas maritim di seluruh Indonesia, serta meningkatkan kinerja dan daya saing BUMN di bidang kepelabuhanan. 

"Dengan adanya pengembangan 4 pelabuhaan ini menjadi satu, diharapkan banyak multiplayer effect yang bisa dijadikan kontribusi kepada perekonomian nasional," imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Pelindo II Arif Suhartono berharap kedepannya dengan penggabungan itu Pelindo akan memiliki kontrol dan kendali strategis yang lebih baik. Ia menilai, perencanaan pun akan menjadi lebih holistik untuk jaringan pelabuhan yang akhirnya akan menurunkan biaya logistik.

"Pelindo yang terintegrasi selanjutnya tidak akan dikelola berdasarkan wilayah, melainkan berdasarkan lini bisnis sehingga dapat fokus untuk mengembangkan potensi bisnis ke depan," jelasnya.

Menurut Arif, pemfokusan klaster-klaster bisnis akan meningkatkan kapabilitas dan keahlian yang berdampak pada peningkatan kepuasan pelanggan, melalui kualitas layanan yang lebih baik dan peningkatan efisiensi dalam penggunaan sumber daya keuangan, aset, dan sumber daya manusia. 

Ia menambahkan, integrasi ini sekaligus akan meningkatkan posisi Pelindo menjadi operator terminal peti kemas terbesar ke-8 di dunia dengan total throughput peti kemas sebesar 16,7 juta TEUs,

“Terintegrasinya Pelindo memiliki banyak manfaat bagi perusahaan maupun bagi ekonomi nasional. Salah satunya ialah dengan membuka kesempatan perusahaan untuk go global," tukas Arif.[]