News

Siap Buka Dialog Nuklir, AS Hanya Diberi Harapan Palsu oleh Kim Jong-un

Kim Yo-jong mengklaim kalau Washington telah salah berharap dan akan menghadapi kekecewaan lebih besar.


Siap Buka Dialog Nuklir, AS Hanya Diberi Harapan Palsu oleh Kim Jong-un
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un (kiri) bersama adik sekaligus penasihatnya, Kim Yo-jong (kanan). (Foto: AFP)

AKURAT.CO, Media pemerintah Korea Utara melaporkan pada Jumat (18/6) bahwa Kim Jong-un mendesak persiapan dialog maupun konfrontasi dengan Amerika Serikat (AS). Pernyataan Kim pun dianggap AS sebagai sinyal positif. Namun, adik pemimpin Korea Utara itu, Kim Yo-jong, justru menyebut AS hanya 'gede rasa'.

Dilansir dari AFP, awalnya, pemerintahan Biden menjanjikan pendekatan praktis dan terkalibrasi, termasuk upaya diplomatik untuk membujuk Korea Utara agar menghentikan program senjata nuklir dan rudal balistiknya. Kim Jong-un lantas mengatakan Pyongyang harus bersiap untuk dialog dan konfrontasi.

Penasihat Keamanan Nasional AS Jake Sullivan pun menganggap komentar Kim Jong-un sebagai 'sinyal yang menarik'.

"Pemerintah akan menunggu untuk melihat apakah ada tindak lanjut dengan komunikasi langsung kepada kami tentang jalur potensial ke depan," ungkapnya kepada ABC News.

Baca Juga: 'PDKT' dengan Joe Biden, Kim Jong-un Bersiap-siap Adakan 'Dialog dan Konfrontasi'

Namun, Kim Yo-jong menampik prospek dimulainya kembali negosiasi dini itu. Pada Selasa (22/6), ia mengklaim kalau Washington telah salah berharap dan akan menghadapi kekecewaan lebih besar.

"AS tampaknya mencari kenyamanan untuk dirinya sendiri. Ia memendam harapan yang salah, yang akan menjebloskan mereka ke dalam kekecewaan yang lebih besar," kata Kim Yo-jong, adik sekaligus penasihat utama Kim Jong-un.

Komentar Kim Jong-un dilontarkan bersamaan dengan kunjungan 5 hari utusan khusus AS ke Seoul. Sung Kim bertanggung jawab atas negosiasi dengan Korea Utara. Dalam kunjungan itu pada Senin (21/6), ia menyatakan Washington siap bertemu dengan Pyongyang di mana saja, kapan saja, tanpa prasyarat.

Sementara itu, akhir pekan ini, Korea Utara mengakui sedang menangani krisis pangan. Negara itu membunyikan alarm akibat sektor pertaniannya terseok-seok.

Krisis ini disebabkan oleh isolasi yang dipaksakannya sendiri untuk melindungi diri dari pandemi virus corona. Perdagangannya dengan Beijing, jalur kehidupan ekonominya, juga telah melambat, sedangkan seluruh proyek bantuan internasional menghadapi pembatasan ketat.[]