News

Setiap Malam Jumat Ahli Kubur Pulang ke Rumah, Benarkah Demikian?


Setiap Malam Jumat Ahli Kubur Pulang ke Rumah, Benarkah Demikian?
Ilustrasi (pixabay.com)

AKURAT.CO, Sebuah syair yang sangat populer dikalangan masyarakat Jawa berbunyi:

Saben malem Jumat ahli kubur mulih nang umah

kanggo njaluk dungo wacan quran najan sak kalimat

baca juga:

Lamun ora dikirimi banjur bali mbrebes mili

Bali nang kuburan mangku tangan tetangisan

Artinya:

Setiap malam Jumat ahli kubur pulang ke rumah

Untuk meminta doa bacaan Al-Qur'an meskipun hanya satu kalimat

Apabila tidak dikirimi (doa) lalu pulang dengan air mata mengalir deras

Pulang ke kuburan memangku tangan sambil menangis

Syair di atas banyak yang menganggap hanya sebuah khayalan dari pengarangnya belaka tanpa ada dasar yang kuat.

Namun anggapan tersebut berseberangan dengan pendapat para ulama ahlus sunnah wal jamaah yang percaya bahwa manusia tidak benar-benar mati melainkan hanya berpindah tempat hidup (tidak di dunia lagi) atas ijin Allah.

Dalam Al-Qur'an Allah Swt berfirman:

ISTIMEWA


Wa laa tahsabannalladziina qutiluu fii sabiilillaahi amwaataa, bal ahyaa un 'inda rabbihim yurzaquun (169) Farihiina bimaa aataahumullaahu min fadlihii wa yastabsyiruuna billadziina lam yal-haquu bihim min khalfihim allaa khaufun 'alaihim wa laa hum yahzanuun

Artinya: "Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. (169) Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (QS. Ali Imran: 169-170)

Sementara itu Imam Al-Hakkari dalam kitabnya Hiddayyatul Ahya Ilal Amwat wa Maa Yashilu Ilaihim menuliskan sebuah riwayat hadis.

Dari Abu Hurairah, beliau berkata bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, "Berilah hadiah untuk keluargamu yang telah meninggal." Kemudian para sahabat bertanya, "Apa yang dapat kami hadiahkan untuk keluarga kami yang meninggal wahai Rasulullah?"

Maka Rasulullah saw menjawab, "Dengan bersedekah dan berdoa. Sesungguhnya ruh-ruh orang mukmin datang ke langit dunia pada setiap malam Jumat. Maka mereka berdiri di depan rumah-rumah mereka kemudian masing-masing dari mereka memanggil dengan suara yang penuh dengan iba, 'Wahai keluargaku, anak-anakku dan kerabat-kerabatku, belas kasihanilah kami dengan sesuatu, niscaya Allah akan menyayangi kalian. Ingatlah pada kami dan janganlah kami kalian lupakan. Belas kasihanilah kami dalam keterasingan ini, ketidak berdayaan kami dan segala sesuatu yang kami berada didalamnya.

Sesungguhnya kami berada ditempat yang jauh dan terpencil dengan kepiluan yang mendalam dan ketidakberdayaan yang teramat sangat. Sayangilah kami, niscaya Allah akan menyayangi kalian. Janganlah kalian kikir kepada kami dengan sekadar berdoa, bersedekah ataupun bertasbih. Semoga Allah memberikan rasa nyaman kepada kami sebelum kalian sama seperti kami. Duuh... sungguh kalian akan merugi, sungguh kalian akan menyesal wahai hamba-hamba Allah!

Dengarkanlah apa yang kami ucapkan dan janganlah kalian melupakan kami. Kalian juga tahu bahwa fadlilah dan keutamaan yang saat ini berada ditangan kalian adalah sebelumnya milik kami tetapi kami tidak membelanjakan untuk ketaatan kepada Allah, kami tidak menerima dan menolak kebenaran hingga ia menjadi bencana dan musibah bagi kami. Manis dan manfaatnya dinikmati oleh orang lain sedang pertanggungjawaban dan siksanya kami yang menanggung."

Terlepas dari benar tidaknya arwah-arwah pulang ke rumah setiap malam Jumat, kita sebagai muslim sudah sepantasnya tidak melupakan orang tua, keluarga, atau kerabat yang sudah meninggal dunia.

Sebab dengan mengingat orang yang sudah mendahului kita, terdapat hikmah di baliknya bahwa kelak kita juga akan menyusul mereka.

Oleh sebab itu, kita harus mempersiapkan diri dengan bekal amal saleh yang sebanyak-banyaknya agar kelak di alam barzakh diberi keluasan.

Wallahu a'lam. []