News

Setara Institute: Tak Semua Persoalan Tanah Dapat Dipersepsikan Kasus Permainan Mafia Tanah

Sehingga harus dihindari bila terjadi kekalahan dalam sengketa tanah, kemudian muncul stigma seolah ada mafia tanah di sana.


Setara Institute: Tak Semua Persoalan Tanah Dapat Dipersepsikan Kasus Permainan Mafia Tanah
Anggota Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) dalam kasus teror penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan, Hendardi, saat menyambangi Gedung KPK, Jakarta, Kamis (20/6/2019). (AKURAT.CO/Bayu Primanda)

AKURAT.CO, Ketua Badan Pengurus Setara Institute, Hendardi menilai bahwa tidak semua persoalan tanah atau sengketa tanah bisa dipersepsikan sebagai permainan mafia tanah.  

Sehingga harus dihindari bila terjadi kekalahan dalam sengketa tanah, kemudian muncul stigma seolah ada mafia tanah di sana.

Menurutnya, istilah mafia tanah adakalanya selalu disalahartikan. Padahal mafia tanah adalah kejahatan terorganisir dan memiliki ekpertis atau profesional, sehingga kadang tidak mudah mengungkapkannya.   

"Harus diingat bahwa secara umum salah satu ciri mafia tanah adalah menghindari mediasi dan mekanisme hukum,” kata Hendardi dalam keterangan tertulisnya, Minggu (7/3/2021).   

Ia mengatakan, sejauh ini Polri sudah bekerja cukup baik dan profesional dalam pengungkapan berbagai kasus pertanahan. Dan siapapun yang terlibat pasti akan dilakukan penindakan secara hukum. 

“Jadi sebetulnya tidak pernah ada kendala bagi Polri untuk menindak secara tegas semua yang terlibat tindak pidana mafia tanah," ucapnya. 

Namun, kata Hendardi, sesuai prinsip negara hukum yang non-diskriminatif, tudingan soal mafia tanah tidak bisa subyektif, dan tetap menjaga prinsip Rule Of Law.   

"Oleh karena itu, pola mekanisme hukum menjadi solusi utama dalam  menyelesaikan sengketa tanah," tuturnya. 

Sementara, lanjut dia, mafia tanah tidak menggunakan pola prosesual hukum. Maka tidaklah tepat dan menyesatkan jika semua sengketa hukum pertanahan digeneralisasi menjadi tindakan Mafia Tanah.