News

Setahun Usai Gempa dan Tsunami Palu, Media Asing Soroti Penanganan Para Korban


Setahun Usai Gempa dan Tsunami Palu, Media Asing Soroti Penanganan Para Korban

AKURAT.CO, Jumat, 28 September 2018 lalu, wilayah Donggala dan Palu diguncang gempa berkekuatan 7,4 skala magnitudo. Dahsyatnya kekuatan gempa pun langsung memicu terjadinya tsunami setinggi 2 meter di Kota Palu.

Setidaknya, karena bencana gempa dan tsunami tersebut, ribuan orang dinyatakan tewas, ratusan orang hilang, hingga puluhan ribu penduduk harus diungsikan. Bahkan, berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 10 Oktober 2018 lalu, korban tewas mencapai 2.025 jiwa.

Tidak hanya mengakibatkan ribuan orang tewas, gempa dan tsunami nyatanya turut membuat porak-poranda wajah Kota Palu dan sekitarnya. Dua wilayah utama, yaitu Kelurahan Petobo dan Perumnas Balaroa yang terletak di Kota Palu mengalami likuefaksi (amblas) akibat gempa. Karena bencana ini, sekitar 1.747 unit rumah tenggelam di Perumnas Balaroa, sementara di Kelurahan Petobo sekitar 744 unit rumah ambles.

Mimpi buruk yang menimpa Palu pun hampir setahun berlalu. Palu dan beberapa wilayah lain yang terkena dampak bencana berangsur-angsur memulihkan diri. Namun, proses pemulihan diri Kota Palu agaknya masih menjadi PR tersendiri bagi pemerintahan Indonesia. Pasalnya, ribuan orang terpaksa mencoba membuka lembaran baru di tenda-tenda pengungsian. Kisah para pengungsi korban gempa dan tsunami Palu di pengungsian ini pun turut menyedot perhatian media Asia ternama, Channel News Asia.

Dalam artikelnya yang bertajuk "Some Palu Quake Victims Still Looking for A Place They Can Call Home" (Beberapa Korban Gempa Palu Masih Mencari Sebuah Tempat yang Mereka Bisa Sebut Rumahd), jurnalis Nivell Rayda mengangkat kisah beberapa korban gempa dan tsunami Palu yang masih hidup di bawah tenda darurat. Untuk menguatkan beritanya, Rayda pun mewawancarai salah satu pengungsi, Sauddin Lapojo serta menuliskan kisahnya selama hidup di pengungsian.

Setahun Usai Gempa dan Tsunami Palu, Media Asing Soroti Penanganan Para Korban - Foto 1
Channel News Asia

"Bapak Sauddin Lapojo tidak dapat mengingat kapan terakhir kali para pekerja bantuan datang ke tempat penampungan di Petobo yang terletak di pinggiran Palu. Sudah berbulan-bulan, katanya, sejak pasokan makanan terakhir dikirimkan. (Hal tersebut tentu saja) sangat mengecewakan bagi 1.630 keluarga yang tinggal di penampungan besar ini," tulis Rayda.

Selain mewawancarai Sauddin, Rayda juga dengan detail mengambarkan bagaimana kehidupan pengungsi serta rupa penampungan Petobo.

"Kondisi kehidupan di penampungan Petobo sangat sederhana, dengan struktur kayu seperti barak dengan atap seng. Dicat seragam dengan warna putih. Setiap bangunan dibagi menjadi sembilan kamar, dan setiap kamar dilengkapi dengan pintu dan jendela kecil untuk ventilasi. Para korban mengandalkan truk tangki untuk memberikan air minum bersih kepada mereka dua kali seminggu. Mereka telah mencoba menggali sumur tetapi menemukan kualitas air hanya cocok untuk mandi dan mencuci pakaian," tulis Rayda.

Tidak hanya itu, Rayda juga menuliskan gambaran situasi yang sempat dilihat oleh timnya di wilayah Petobo setelah dilanda likuefaksi. Jurnalis media Singapura ini lantas mendeskripsikan pemandangan yang sunyi serta keluhan penduduk lantaran bau busuk jenazah korban gempa dan tsunami yang masih bisa mereka hirup.

"Pemerintah baru-baru ini membuldoser reruntuhan dan menutupi area likuefaksi dengan tanah karena penduduk di dekatnya mengeluh tentang bau tidak sedap yang keluar dari mayat-mayat yang membusuk. Masih ada ratusan yang terkubur di bawah lapisan puing-puing dan lumpur," tulis Rayda saat melaporkan pengamatan timnya pada akhir Agustus lalu.

Setahun Usai Gempa dan Tsunami Palu, Media Asing Soroti Penanganan Para Korban - Foto 2
Channel News Asia

Dalam pemberitaannya, Rayda juga menuliskan bagaimana para pengungsi tengah bergulat dengan ketidakpastian tentang masa depan mereka. Pasalnya, berdasarkan pengakuan para pengungsi, janji pemerintah untuk memberikan rumah permanen masih jauh dari realisasi. Hingga kini pun, para pengungsi masih hidup di bawah tenda pengungsi tanpa adanya kepastian kapan mereka bisa memperoleh kehidupan layak mereka kembali.

Meski begitu, Channel News Asia turut menuliskan penjelasan yang mereka peroleh dari Sekretaris Provinsi Sulawesi Tengah, Mohamad Hidayat Lamakarate. Dalam beritanya, Rayda mencatat keterangan Lamakarate yang menyatakan bahwa saat ini pemerintah tengah berusaha menyiapkan rumah permanen bagi para pengungsi.

"Lamakarate mengatakan dari 10.000 rumah yang dibutuhkan, sekitar 3.500 telah dibangun oleh beberapa organisasi kemanusiaan di daerah-daerah yang dilanda gempa, yaitu di Kabupaten Donggala dan Sigi Biromaru," tulis Rayda.

Rayda juga menuliskan bagaimana pemerintah Indonesia sebenarnya juga menghadapi kendala dalam pencarian lahan yang benar-benar kosong dan nantinya bisa digunakan untuk pembangunan rumah permanen bagi para pengungsi.

“Kami telah menemukan lokasi yang cocok untuk (pembangunan) rumah permanen. Kami sekarang memeriksa status lahan untuk memastikan tidak ada klaim yang tumpang tindih dengan properti tersebut. Inilah satu-satunya yang menghentikan para pengungsi untuk mendapatkan rumah permanen. Setelah semuanya siap, kita akan mulai membangunnya," tulis Rayda mengutip penjelasan Lamakarate.[]