News

Setahun Lebih Warga Hanya Bisa Pandang Monas dari Luar Pagar

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih menutup Monumen Nasional (Monas) dari kunjungan wisatawan.


Setahun Lebih Warga Hanya Bisa Pandang Monas dari Luar Pagar
Penampakan Monas saat Pandemi (AKURAT.CO/Yohanes Antonius)

AKURAT.CO, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih menutup Monumen Nasional (Monas) dari kunjungan wisatawan. Destinasi wisata di tengah kota di kawasan Gambir, Jakarta Pusat ini telah lama mati suri, setelah ditutup Gubernur Anies Baswedan pada 2020 setelah Pandemi COVID-19 menyerang Jakarta.

Kawasan Monas dan seluruh tempat wisata di Jakarta ditutup serentak. Ketika destinasi wisata lain di Ibu Kota sudah ada yang dibuka, Monas tetap ditutup.

Kamis (10/6/2021) sore, penulis yang biasa meliput kegiatan Anies Baswedan dari Balai Kota DKI Jakarta menyempatkan waktu untuk memantau kawasan bersejarah di Jakarta itu.

Pintu-pintu Monas terkunci. Gembok menyantel dalam pagar dan terlihat beberapa petugas keamanan berjaga.

Cantik, tapi tidak bisa disentuh. Begitu kira-kira ungkapan penulis ketika melihat monas dari luar pagar.

Wajah Monas memang sedikit berubah setelah didandani Anies Baswedan beberapa tahun lalu. Proyek revitalisasi yang kontroversial itu sudah mulai tampak hasilnya dan tuntas dikerjakan baru-baru ini.

Gagahnya tugu setinggi 132 meter itu sudah bisa tampak dari kejauhan, terutama ketika melintas di Jalan Medan Merdeka Selatan. Monas tampak utuh terlihat dari atas hingga bawah dari depan Balai Kota DKI Jakarta. Sebelumnya, pemadandangan indah ini ditutup seng, tanda ada pekerja proyek.

Gundukan hutan kecil yang dulu menutup area Monas Selatan dan menghalangi pemandangan dari Jalan Medan Merdeka Selatan kini sudah berubah menjadi tanah lapang dibalut hiasan batu. Elegan.

Matahari mulai terbenam, lampu-lampu hias di Monas mulai menyala. Warnanya ramai menghiasi dinding tugu. Memikat setiap pasang mata yang melintas dari Jalan Medan Merdeka Selatan.

Air mancur yang menari-nari di sebelah tugu Monas juga terlihat dari luar pagar. Namun, lampu yang sebelumnya menghiasi, kini padam.

Kecantikan Monas dengan 'sejuta' sejarahnya kini menjadi spot untuk berswafoto. Biasanya, Monas ramai ketika akhir pekan.

Kusir Delman Sepi Penumpang, Harga Rumput Meroket

Penutupan Monas berdampak terhadap kusir delman. Delman merupakan kendaraan tradisional yang ditarik pakai kuda. Keberadaan delman sebagai angkutan untuk para wisatawan yang ingin keliling kawasan Monas.

Sebelum pandemi melanda Ibu Kota, pemandangan delman membelah jalur lalu lintas di kawasan Medan Merdeka adalah hal lazim. Kini hanya beberapa delman yang terlihat oleh penulis.

Ulil salah satu kusir yang penulis temui.  Ayah tiga anak itu memilih bertahan menarik delman walau pemasukannya kian tak jelas.

"Kadang-kadang seharian kosong sama sekali. Nggak ada yang naik. Kondisi kaya gini Monas sudah lama tutup," kata Ulil ketika ditemui AKURAT.CO.

Ulil harus berjuang menghidupi beberapa ekor kudanya. Penulis mendengar jelas keluhan Ulil tentang harga rumput yang naik. Rp50 ribu per karung dengan berat 50 kilogram. Sekarung rumput biasanya habis dalam dua hari.

"Dia (menunjuk kuda) makan tiga kali. Sehari habisin 10 kilo. Kondisi lagi kaya gini ya diirit-irtin," tuturnya.

Selama pandemi, rekor paling banyak Ulil mendapat penumpang adalah dua kali. Itupun ada yang hanya separuh jalan yang ongkos naiknya tidak penuh.

"Sehari paling banyak itu dua kali. Sekarang jarang ada yang naik sampai full muterin Monas. Kalau muterin Monas itu Rp70 ribu sekali jalan, tapi umpama hanya putar di pintu Utara atau Barat paling Rp50 ribu, kadang Rp30 juga saya kasih," tukasnya.[]

Arief Munandar

https://akurat.co