Lifestyle

Sering Minum Es Teh Manis, Itukah Penyebab Sapri Berhalusinasi dan Cemas?

Namun, apakah makanan dan minuman tinggi gula bisa menyebabkan orang menjadi halusinasi atau cemas berlebihan seperti yang dialami Sapri?


Sering Minum Es Teh Manis, Itukah Penyebab Sapri Berhalusinasi dan Cemas?
Bang Sapri 'Pesbuker' (kiri) buka warung soto karena sepi job akibat pandemi COVID-19 (Instagram/sapri_pantun)

AKURAT.CO, Adik kandung Sapri, Dolly, mengatakan bahwa sakit gula darah yang diderita Sapri, abangnya, membuat dirinya berhalusinasi seperti banyak orang yang datang menjemput. Padahal, Sapri sedang dirawat di ICU.

“Kata Bang Sapri tadi sebelum Dolly ke acara ini, dia biang, Dolly tadi banyak orang ngajak jemput. Terus Dolly suruh Bang Sapri tenang dan Dolly nanya ke Bang Sapri, tadi bilang apa. Terus dijawab, gue (Sapri) bilang mau ngurus anak istri dulu,” ucap Dolly, lewat konten di YouTube Trans TV Official, dikutip pada Senin, (9/5).

Dolly menambahkan, saat ini, dokter harus mengikat jari tangan Sapri. Sebab, Sapri selalu berusaha ingin melepas selang infus karena ingin pulang.

“Sekarang terikat jarinya. Kata dokter, kalau nggak gitu, narik selang. Dia kepikiran mau pulang, keinginan pulang karena halusinasinya banyak orang,” kata Dolly.

Pada kesempatan yang sama, rekan artis Sapri, Boiyen, mengatakan bahwa Sapri sering minum es teh manis, saat berbuka puasa di tempat syuting sebelum ia masuk ke ICU karena gula darahnya meninggi jauh.

“Bang Sapri tiap buka puasa di lokasi (tempat syuting) minumnya es teh manis terus. Padahal udah Boiyen peringatin, jangan minum itu (es the manis) nggak baik buat kesehatan,” kata Boiyen.

Namun, apakah makanan dan minuman tinggi gula bisa menyebabkan orang menjadi halusinasi atau cemas berlebihan seperti yang dialami Sapri?

Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang dirilis tahun 2017, menyebutkan bahwa ada lebih dari 300 juta orang yang menderita depresi dan 260 juta orang menderita gangguan kecemasan di dunia.

Tingginya angka kasus gangguan jiwa iitu tidak lepas dari beberapa faktor penyebab seperti genetik, trauma berat, tuntutan pekerjaan, kondisi sosial-ekonomi hingga perubahan gaya hidup termasuk pola makan yang tinggi gula dan lemak. Bahkan sudah banyak penelitian yang melaporkan bahwa orang yang makan banyak gula, garam, dan lemak cenderung mengalami depresi dan gangguan kecemasan.

Makanan dan minuman manis seperti es teh manis, memang bisa bikin hati senang. Namun, apabila porsi yang dikonsumsi berlebihan dan dilakukan terus menerus, maka gula bisa menimbulkan kecanduan yang efeknya sama seperti kecanduan narkoba atau miras.

Sebab, gula memicu otak memproduksi dopamin, senyawa yang bertanggung jawab menimbulkan suasana hati riang dan bahagia. Ketika kamu makan gula, tubuh akan menghasilkan hormon ini.

Saat kadar dopamin kembali surut, otak membacanya sebagai “ancaman” sehingga memberi sinyal ke tubuh supaya kamu makan gula lagi atau kita biasa membacanya ngidam makan atau minum mana, agar hormon bahagia tersebut dihasilkan kembali.

Ironis, sensasi ngidam itu memicu kamu mulai ketagihan sehingga harus makan dan minum manis setiap hari.

Semakin banyak gula yang kamu makan, maka hormon dopamin yang dihasilkan jadi di luar batas wajar. Ketika jumlah dopamin dalam tubuh sangat banyak, respon yang ditimbulkan malah justru sebaliknya. Kamu malah jadi lebih gampang bad mood dan suasana hati jadi mudah berubah.

Asupan gula berlebihan pun diketahui dapat memicu peradangan pada sel-sel di dalam tubuh kamu, terutama sel-sel otak. Gangguan otak seperti ketidakseimbangan hormon dopamin dan rusaknya sel otak adalah faktor risiko utama yang diduga memicu gejala gangguan jiwa, termasuk depresi dan gangguan kecemasan.

Tingginya kadar gula darah juga berhubungan dengan peningkatan risiko munculnya gangguan panik, gangguan bipolar dan masalah mental lainnya. Memang, tidak semua orang yang gemar makan manis pasti mengidap gangguan jiwa. Sebab, gangguan jiwa merupakan masalah kesehatan yang bisa disebabkan oleh banyak faktor lain.

Namun jika kamu selama ini memiliki pola makan tinggi gula, sekarang saatnya untuk mulai membatasi kebiasaan makan buruk ini. Kadar gula harus dikontrol dengan memulai makan sehat dan olahraga. Jangan lupa tes kadar gulah darah rutin, agar risiko timbulnya gangguan jiwa dapat diminimalisir.[]

Bonifasius Sedu Beribe

https://akurat.co