News

Serangan ke Jalur Gaza Makin Ganas, Joe Biden Blak-blakan Dukung Hak Israel

Israel mengerahkan 50 pesawat tempur untuk melancarkan serangan selama 20 menit di Jalur Gaza pada Senin (17/5)


Serangan ke Jalur Gaza Makin Ganas, Joe Biden Blak-blakan Dukung Hak Israel
Seorang pria Palestina menggendong mayat anak-anak yang tewas akibat serangan udara Israel yang menghancurkan bangunan pemukiman di Kota Gaza pada Minggu (16/5). (Foto: Associated Press)

AKURAT.CO, Israel kembali melancarkan puluhan serangan udara di Jalur Gaza pada Senin (17/5) untuk membalas rentetan roket yang ditembakkan militan Palestina ke kota-kota Israel selatan. Serangan menjelang fajar ini pun menjadi salah satu yang terberat sejak pertempuran meletus sepekan lalu.

Dilansir dari BBC, militer Israel membeberkan bahwa lebih dari 50 pesawat tempur melancarkan serangan selama 20 menit di Jalur Gaza sesaat sebelum fajar pada Senin (17/5). Mereka menyerang 35 'target teroris' dan menghancurkan lebih dari 15 km jaringan terowongan bawah tanah milik Hamas. Militer juga mengklaim telah menyerang rumah 9 komandan Hamas 'berpangkat tinggi'.

Meski belum ada laporan korban jiwa, otoritas Palestina di Gaza mengatakan kalau serangan itu telah menyebabkan pemadaman listrik yang luas dan merusak ratusan rumah serta bangunan lainnya.

Jumlah total korban tewas di Gaza kini mencapai 197 orang, termasuk 58 anak dan 34 wanita, menurut kementerian kesehatan yang dikelola Hamas. Sementara itu, 1.230 orang terluka. Israel pun mengklaim puluhan militan termasuk di antara korban tewas tersebut.

Associated Press

Serangan Israel ini merupakan balasan dari serangan roket Palestina yang menargetkan kota Beersheba dan Ashkelon di Israel selatan, tepat setelah tengah malam pada Senin (17/5). Sepuluh orang, termasuk 2 anak, tewas dalam serangan roket di Israel dalam sepekan terakhir.

Sementara itu, komunitas internasional terus mendesak gencatan senjata. Dewan Keamanan PBB (DK PBB) mengadakan rapat darurat pada Minggu (16/5). Sekretaris Jenderal Antonio Guterres pun memperingatkan kalau pertempuran lebih lanjut dapat menyebabkan krisis keamanan dan kemanusiaan yang tak terkendali. Ia lantas memohon agar kekerasan yang disebutnya sangat mengerikan ini segera diakhiri.

Presiden Mesir Abdul Fattah al-Sisi juga menggemakan seruan serupa.

"Mesir akan berusaha keras untuk mencapai gencatan senjata. Harapan itu masih ada," ungkapnya pada Senin (17/5).

Sayangnya, belum ada tanda-tanda gencatan senjata setelah konflik memasuki pekan kedua.

Associated Press

Pertempuran ini dimulai setelah ketegangan meningkat selama berminggu-minggu antara Israel dan Palestina di Yerusalem Timur yang diduduki. Puncaknya, terjadi bentrokan di situs suci yang dihormati oleh Muslim dan Yahudi. Kemudian, Hamas yang mengendalikan Gaza mulai menembakkan roket setelah memperingatkan Israel agar mundur dari situs tersebut. Serangan Hamas pun memancing serangan udara balasan oleh Israel.

Pertempuran yang belum mereda pada pekan kedua ini membuat PBB memperingatkan menipisnya bahan bakar di Gaza. Langkanya pasokan tersebut dapat menyebabkan rumah sakit dan fasilitas lainnya kehilangan daya.

Menurut Lynn Hastings, wakil koordinator khusus PBB untuk proses perdamaian Timur Tengah, mengatakan kalau ia telah mengimbau otoritas Israel agar mengizinkan PBB membawa masuk bahan bakar dan logistik. Namun, ia mendapat jawaban kalau itu tidak aman.

DK PBB pun masih belum mencapai kesepakatan dalam beberapa hari terakhir. Akibatnya, tidak ada pernyataan publik yang dirilis usai rapat pada Minggu (16/5).

Sementara itu, Amerika Serikat (AS), sekutu kuat Israel, yakin kalau upaya tersebut tak akan membantu dalam proses diplomatik. Presiden Joe Biden sendiri blak-blakan mendukung hak Israel untuk membela diri. Namun, ia berjanji pemerintahannya akan bekerja sama dengan semua pihak untuk meredamkan situasi.

"Saya berharap kita akan melihat kesimpulannya lebih cepat," tuturnya.[]

Anugrah Harist Rachmadi

https://akurat.co