News

Serangan Israel Tewaskan 103 Orang, Gaza 'Rayakan' Lebaran dengan Pemakaman dan Ketakutan

Setelah Hamas meluncurkan 1.800 roket, Israel membalasnya dengan serangan udara tanpa henti ke Gaza.


Serangan Israel Tewaskan 103 Orang, Gaza 'Rayakan' Lebaran dengan Pemakaman dan Ketakutan
Sebuah bangunan di Petah Tikva, Israel, hancur pada Kamis (13/5) akibat serangan roket yang ditembakkan dari Jalur Gaza. (Foto: The New York Times)

AKURAT.CO, Angkatan darat Israel menyerang Jalur Gaza pada Jumat (14/5) pagi ketika konflik dengan militan Palestina memanas. Namun, belum jelas apakah serangan ini merupakan awal dari invasi darat terhadap Hamas, kelompok militan yang menguasai Gaza.

Dilansir dari New York Times, seorang juru bicara militer Israel, Letnan Kolonel Jonathan Conricus, awalnya mengatakan bahwa ada pasukan darat yang menyerang di Gaza. Namun, ia kemudian mengklarifikasi kalau pasukan Israel belum memasuki Gaza dengan menunjukkan kemungkinan tembakan artileri dari luar.

Eskalasi pertempuran ini belum pernah dilakukan Israel sebelumnya dalam memerangi militan Palestina di sisi selatannya demi mencegah kerusuhan sipil terburuk dalam beberapa dekade. Pada waktu yang sama, massa Arab dan Yahudi bentrok di jalanan kota Israel, sehingga otoritas mengerahkan cadangan tentara dan mengirim bala bantuan polisi perbatasan bersenjata ke pusat kota Lod demi mencegah perang saudara.

Kedua kekacauan ini pun menunjukkan perubahan langkah dalam konflik antara Israel dan Palestina yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Biasanya, eskalasi kekerasan mengikuti jejak yang dapat diprediksi. Namun, pertempuran terbaru yang terburuk dalam 7 tahun ini berkembang dengan cepat menjadi jenis perang baru yang lebih cepat, lebih merusak, dan mampu berbalik ke arah yang tak dapat diprediksi.

Sementara itu, militan Palestina di Gaza secara mengejutkan menembakkan rentetan roket jarak jauh dengan jumlah sangat banyak, sekitar 1.800 dalam 3 hari. Roket ini menunjukkan jangkauan yang lebih jauh daripada yang ditembakkan dalam konflik sebelumnya. Senjata tersebut mampu mencapai Tel Aviv dan Yerusalem serta terbukti lebih efektif. Enam warga sipil dan seorang tentara tewas di wilayah Israel.

AFP

Jumlah korban tersebut menunjukkan kalau serangan ini mampu menggagalkan sistem pertahanan rudal Iron Dome (Kubah Besi) yang didanai Amerika Serikat (AS). Padahal, menurut otoritas Israel, sistem pertahanan ini 90 persen efektif untuk mencegat roket sebelum mendarat di dalam wilayah Israel. 

Israel pun membalasnya dengan meningkatkan serangan udara tanpa henti yang menyasar Hamas pada Kamis (13/5). Padahal, Gaza tidak memiliki sistem perlindungan seperti milik Israel. Akibatnya, 3 bangunan bertingkat hancur, menewaskan 103 orang termasuk 27 anak-anak, menurut otoritas kesehatan Gaza. Israel berdalih bangunan itu menampung operasi Hamas dan mereka sudah berusaha untuk membatasi korban sipil. Namun, banyak penduduk Gaza memandang serangan Israel sebagai bentuk hukuman bersama.

Associated Press

Kamis (13/5) seharusnya menjadi hari raya bagi warga Palestina yang menandai akhir bulan suci Ramadan. Umat Islam biasanya berkumpul untuk salat, mengenakan baju baru, dan makan bersama. 

Di Yerusalem, puluhan ribu jemaah berkumpul saat fajar di luar Masjid Al-Aqsa. Beberapa orang mengibarkan bendera Palestina dan spanduk yang menunjukkan menunjukkan gambar Ismail Haniyeh, pemimpin Hamas. Di sisi lain, hari itu menjadi hari yang suram di Gaza, dengan pemakaman, ketakutan, dan serangan rudal. Beberapa keluarga menguburkan jenazah, sementara yang lain menggelar sejadah di samping bangunan yang baru saja dihancurkan serangan udara Israel, dan yang lainnya terkena serangan dari pesawat tak berawak Israel yang melayang di atas kepala.

"Selamatkan saya," pinta Maysoun al-Hatu.

Perempuan 58 tahun ini terluka akibat serangan rudal di depan rumah putrinya di Gaza, menurut seorang saksi mata. Ambulans tiba beberapa saat kemudian, tetapi sudah terlambat. Ia telah mengembuskan napas terakhirnya.

REUTERS

Sementara itu, diplomat AS dan Mesir sedang menuju ke Israel untuk memulai perundingan peredaman situasi. Mediator Mesir sendiri memainkan peran kunci dalam mengakhiri perang 2014 di Gaza. Kali ini, ada sedikit optimisme mereka dapat mencapai hasil dengan cepat.

Menurut otoritas militer Israel, misi mereka adalah untuk menghentikan roket dari Gaza. Militer pun memindahkan tank dan pasukan ke sepanjang perbatasan dengan Gaza pada hari Kamis (13/5) untuk persiapan kemungkinan invasi darat.

Artinya, keputusan untuk memperpanjang operasi militer pada akhirnya bersifat politis. Menurut analis, operasi darat kemungkinan akan menimbulkan banyak korban. Selain itu, tidak jelas apakah pengerahan pasukan tersebut lebih dari sekadar ancaman.[]

Ahada Ramadhana

https://akurat.co