Olahraga

Sepakbola Indonesia, Jangan Gila Dong!

Sepakbola Indonesia, Jangan Gila Dong!
Sebuah mobil polisi berada di pinggir lapangan pascakerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Minggu (2/10). (ANTARA/Zabur Karuru)

AKURAT.CO, Minggu pagi 2 Oktober 2022 ternyata adalah minggu pagi yang sibuk, kecewa, konyol, dan tak habis pikir bagi publik yang peduli dengan “sepakbola” nasional. Atau barangkali juga bagi masyarakat Indonesia yang sebenarnya tak terlalu peduli dengan sepakbola.

Betapa tidak? Sejak dini hari kota dingin di timur Pulau Jawa, Malang, mengabarkan berita bahwa puluhan orang tewas dalam kericuhan pertandingan antara tuan rumah Arema FC dan Persebaya Surabaya, Sabtu (1/10) malam.

Menanjak siang, jumlah korban pada tragedi di Stadion Kanjuruhan itu mulai menggelisahkan karena naik ke angka 127, 129, 130, dan di sore hari Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak, seperti menyebut angka kesimpulan: 174 jiwa melayang dalam pertandingan sepakbola kasta tertinggi nasional tersebut.

baca juga:

Apakah sepakbola Indonesia segila itu? Di tahun 2022?

Sepakbola Indonesia, Jangan Gila Dong - Foto 1
Sejumlah penonton membawa rekannya yang pingsan akibat sesak nafas terkena gas air mata yang ditembakkan aparat keamanan saat kericuhan usai pertandingan sepak bola BRI Liga 1 antara Arema melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10). ANTARA/Ari Bowo Sucipto.
Biasa dan Kebablasan

Jika Anda mau sedikit melihat pola kematian suporter dalam sejarah sepakbola Indonesia, maka sebenarnya kematian seperti sesuatu yang tak pernah memberi pelajaran bagi semua pihak terkait. Baik itu suporter, panitia penyelenggara, PSSI, juga aparat keamanan dalam hal ini kepolisian.

Dihitung sejak kompetisi profesional pertama yang meleburkan kejuaraan amatir Galatama dan Perserikatan pada 1994 dengan nama Liga Indonesia, data Save Our Soccer menunjukkan bahwa korban tewas sehubungan dengan pertandingan sepakbola yang tercatat adalah 252 orang. Sebanyak 174 di antaranya terjadi dalam semalam tragedi Kanjuruhan.

Diawali oleh Suhermansyah yang merupakan suporter Persebaya pada Januari 1995 di laga PSIM kontra Persebaya di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, setiap tahun pasti ada suporter meninggal kecuali tahun 1997, 1998, 2004, 2019, serta dua tahun pandemi 2020-2021.

Sepakbola Indonesia, Jangan Gila Dong - Foto 2
Suporter Arema FC memasuki lapangan setelah tim yang didukungnya kalah dari Persebaya dalam pertandingan sepak bola BRI Liga 1 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10). ANTARA/Ari Bowo Sucipto.

Fakta tersebut juga menunjukkan bahwa dalam periode 2005-2018 setiap tahun selalu ada yang mati sehubungan sepakbola. Yang terbanyak terjadi pada 2018 dengan total 18 suporter ditandai kematian suporter Persija Jakarta, Haringga Sarila, di Bandung, pada 23 September 2018.

Catatan-catatan tersebut seperti menggambarkan bahwa kematian suporter adalah hal yang biasa dan mesti “ekstrem” dulu untuk bisa memberi pukulan kesadaran terhadap seluruh pihak.

Akhir pekan lalu, kematian yang sebenarnya sudah biasa itu harus mencapai angka 174 jiwa untuk menelanjangi betapa “terbelakangnya” kultur sepakbola Indonesia yang katanya sudah berusaha untuk menjadi modern.

Siapa Bertanggungjawab?
Panitia Penyelenggara

Jujur saja, dalam kasus di Kanjuruhan, tanggung jawab tidak bisa diarahkan terhadap satu pihak. Tetapi, setidaknya ada tiga posisi yang mesti diperhatikan dalam tragedi tersebut, yaitu panitia penyelenggara, aparat keamanan (polisi), dan suporter itu sendiri.

Dalam posisi panitia, sudah sepatutnya standar penyelenggaraan pertandingan yang sudah mereka lakukan bermusim-musim mempertimbangkan risiko paling buruk dengan masuknya penonton ke dalam lapangan.

Apalagi, bukan sekali suporter Arema merangsek masuk ke stadion. Kilas balik ke tahun 2008, aremania masuk ke Stasiun Brawijaya di Kediri membakar gawang karena kecewa atas kepemimpinan wasit ketika Arema kalah 1-2 kontra Persiwa Wamena di babak delapan besar Piala Indonesia.

Sepakbola Indonesia, Jangan Gila Dong - Foto 3
Pesepak bola Arema FC Jayus Hariono (kiri) dan pesepak bola Persebaya Surabaya Rizki Ridho (kanan) beradu cepat untuk menjangkau bola dalam pertandingan lanjutan BRI Liga 1 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Sabtu (1/10). ANTARA/Ari Bowo Sucipto.

Kultur longgar terhadap akses penonton masuk ke stadion agaknya harus ditinggalkan karena itu adalah standar lama yang tidak lagi cukup untuk menampung gairah suporter generasi terkini.

Dan soal ini bukan saja soal Arema, bahkan pertandingan sekelas Tim Nasional pun juga demikian (ingat insiden suporter masuk ke lapangan ketika Timnas menghadapi Malaysia di Kualifikasi Piala Dunia 2022 di Stadion GBK pada 2019).

Polisi

Polisi adalah pihak yang paling mudah dijadikan sebagai “bantalan tinju” dalam insiden ini. Terutama jika melihat penggunaan gas air mata yang jelas-jelas penggunaannya di dalam stadion dilarang oleh regulasi FIFA.

Dalam kasus di Kanjuruhan, polisi mesti menaikkan standar operasional untuk pertandingan dengan tensi sekelas Derbi Jawa Timur antara Arema dan Persebaya. Berharap suporter bisa mundur tanpa menelan kematian dengan mengusir dan menggunakan gas air mata sudah tidak lagi relevan.

Sepakbola Indonesia, Jangan Gila Dong - Foto 4
Aparat keamanan berusaha menghalau suporter yang masuk ke lapangan usai pertandingan BRI Liga 1 antara Arema melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Sabtu malam (1/10). ANTARA/Ari Bowo Sucipto.

Selain tegas terhadap usulan pencegahan seperti mengusulkan pertandingan digelar di sore hari, polisi sebenarnya adalah garda pengamanan terakhir di stadion setelah pengawas pertandingan (steward). Jadi sinergi dengan pengawas pertandingan yang berada di dekat tribun adalah menguatkan baris pertama untuk menjaga keamanan.

Suporter

Bagian tersulit dalam upaya untuk memikirkan bagaimana agar kejadian seperti yang terjadi di Kanjuruhan adalah suporter. Tetapi situasi juga terjadi tak terlepas dari bagaimana aparat–termasuk klub–tidak ketat “mendidik” suporter untuk tidak melepaskan kemarahan dengan masuk ke stadion dengan kecenderungan melakukan kekerasan.

Dengan catatan kematian yang cukup rutin sejak 1995, suporter adalah pihak yang paling “gila” karena agaknya mereka membutuhkan kematian massal untuk bisa menahan diri agar sisi liar yang bersifat naluriah dalam pertandingan sepakbola bisa dilepaskan secara kreatif.

Sepakbola Indonesia, Jangan Gila Dong - Foto 5
Tragedi kanjuruhan Ultras Garuda bersama gabungan suporter klub di Indonesia melakukan aksi 1000 lilin dan tabur bunga di depan Kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (2/10/2022). Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk solidaritas dan bentuk rasa duka cita atas tragedi tewasnya ratusan suporter Arema usai menonton pertandingan antara Arema Malang vs Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang. AKURAT.CO/Endra Prakoso Endra Prakoso

Hukuman dan sanksi dari klub serta federasi mungkin belum cukup untuk membuat para suporter rasional. Namun, jika 174 nyawa masih belum cukup untuk membuat suporter Indonesia bisa matang seperti penonton di negara-negara sepakbola maju, maka harus ada yang bisa membuat waras “kegilaan”.[]