News

KPK Telisik Aliran Suap Nurdin Abdullah Lewat Seorang Pengusaha

Pengusaha Kwan Sakti Rudy Moha dikonfirmasi terkait dengan dugaan aliran sejumlah uang yang diterima oleh tersangka NA


KPK Telisik Aliran Suap Nurdin Abdullah Lewat Seorang Pengusaha
Plt. Juru Bicara KPK Ali Fikri (Antara)

AKURAT.CO, Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa seorang pengusaha bernama Kwan Sakti Rudy Moha sebagai saksi dalam kasus dugaan suap perizinan dan pembangunan infrastruktur di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun Anggaran 2020-2021.

Kasus ini diketahui telah menjerat Gubernur nonaktif Sulsel Nurdin Abdullah yang statusnya kini telah menjadi tersangka di KPK.

“Kwan Sakti Rudy Moha (Wiraswasta) dan Syamsul Bahri (PNS) dikonfirmasi antara lain masih terkait dengan dugaan aliran sejumlah uang ke tersangka NA dari berbagai pihak,” kata pelaksana tugas (Plt) juru bicara KPK, Ali Fikri dalam keterangannya, Senin (21/6/201).

Dua saksi lain yang diperiksa penyidik KPK adalah pegawai negeri sipil (PNS) Pemerintah Provinsi Sulsel. Mereka adalah Andi Sahwan Mulia Rahman (PNS) dan H. Andi Ardin Tjatjo (PNS). 

"Mereka dikonfirmasi antara lain terkait dengan berbagai proyek di Pemprov Sulsel,” ucap Ali.

Sebelumnya pada tanggal 17 Juni 2021, Penyidik KPK telah memeriksa Kwan Sakti Rudy Moha. Penyidik mengonfirmasi dugaan aliran dana yang diberikan ke Nurdin Abdullah. 

"Kwan Sakti Rudy Moha yang bersangkutan dikonfirmasi terkait dengan dugaan aliran sejumlah uang yang diterima tersangka NA (Nurdin) melalui tersangka ER (Edy Rahmat)," imbuh Ali.

Dalam kasus ini, KPK menetapkan tiga orang sebagai tersangka. Mereka diantaranya, Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah, Sekdis PUTR Pemprov Sulsel Edy Rahmat dan Direktur PT Agung Perdana Bulukumba Agung Sucipto.

KPK menduga, Nurdin menerima suap dan gratifikasi total Rp 5,4 miliar. Suap dan gratifikasi diterima Nurdin melalui Edy Rahmat dari Agung Sucipto pada Jumat, 26 Februari 2021. 

Suap itu merupakan fee untuk penentuan masing-masing dari nilai proyek yang nantinya akan kerjakan oleh Agung.

Selain itu, Nurdin juga pada akhir 2020 lalu pernah menerima uang senilai Rp 200 juta. Penerimaan uang itu diduga diterima Nurdin dari kontraktor lain. 

Kemudian pada pertengahan Februari 2021, Nurdin Abdullah melalui Samsul Bahri (ajudan NA) menerima uang Rp 1 miliar dan pada awal Februari 2021, Nurdin Abdullah juga melalui Samsul Bahri menerima uang Rp 2,2 miliar. []