Ekonomi

Sentil Erick, Said Didu Sebut BUMN Dikorbankan Hingga Dugaan Sibuk Kampanye

Hal itupun membuat Said Didu bingung, dan memperkirakan bahwa selama ini Menteri BUMN Erick Thohir sibuk berkampanye. 


Sentil Erick, Said Didu Sebut BUMN Dikorbankan Hingga Dugaan Sibuk Kampanye
Mantan Sekretaris Kementrian BUMN, Muhammad Said Didu (Facebook/ Muhammad Said Didu)

AKURAT.CO, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan listrik mengalami defisit yang diperkirakan akan mencapai Rp71 triliun untuk PLN pada akhir tahun ini. Menurutnya hal tersebut terjadi akibat PLN juga tidak menaikan tarif listrik padahal harga komoditas mengalami kenaikan yang cukup tinggi.

Merespon hal itu, Mantan Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara Said Didu pun melayangkan komentar melalui akun twitter pribadinya. Said Didu bertanya mengapa Menteri BUMN Erick Thohir tidak memberi tahu secara gamblang soal defisit Pertamina dan PLN sehingga yang membongkarnya langsung Menteri Keuangan.

Hal itupun membuat dirinya bingung, dan memperkirakan bahwa selama ini orang nomer satu di BUMN itu sibuk berkampanye. 

baca juga:

“Bapak MenBUMN @erickthohir yth, mohon penjelasan hal – hal sebagai berikut: kenapa deficit cash pertamina dan PLN tahun 2022 diperkirakan sekitar Rp190 trilun dan sekitar Rp71 triliun tidak pernah bapak buka dan justru Menkeu yang buka? Bapak mungkin terlalu sibuk kampanye?,” tulis Mantan Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara, Said Didu, @msaid_didu seperti dipantau Akurat.com, Sabtu (21/5/22).

Dirinya sangat menyayangkan BUMN hanya dikorbankan demi untuk menekan inflasi agar tetap rendah dan menahan gejolak sosial dan ekonomi.

“BUMN dikorbankan demi untuk: menekan inflasi agar tetap rendah dan menahan gejolak sosial politik,” lanjut tulisan @msaid_didu, Sabtu (21/5/22).

Sebelumnya, Sri Mulyani menjelaskan PLN harus menambah pinjaman demi membiaya operasional perusahannya. Pinjaman yang dimaksud tercatat saat ini adalah sebesar Rp 24,7 triliun hingga bulan April 2022. Lanjutnya PLN akan menambah pinjamannya sebesar Rp 21,7 triliun hingga Rp 24,7 trilun sampai bulan Juni 2022.

“Ternyata realisasi harga keekonpmian listrik mengalami desifit ini diperkirakan akan mnecapai Rp71 triliun untuk PLN karena ini sudah bulan Mei menjelang Juni dengan adanya definisi operasional ini mereka meminjam dan ini menyebabkan cost of fund mereka juga dalam situasi meningkat,” tutur Menteri Keuangan Sri Mulyani, dalam Banggar raker dengan Kementerian Keuangan, Kamis (19/5/22) lalu.

Tak hanya listrik, Bendahara negara pun meramalkan bahwa arus kas PT Pertamina juga akan mengalami deficit mencapai 12,98 dollar USD atau setara Rp 190,8 triliun pada akhir tahun ini kerena mengalami kenaikan harga minyak dunia yang sangat meningkat.