News

Semprot Bank Penyalur PKH, Risma: Kalau Saya Nggak Kesini, Anda Nggak Ngapa-Ngapain

Menteri Sosial Tri Rismaharini marah besar kepada manajemen salah satu Bank penyalur bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) di Kabupaten Jember.


Semprot Bank Penyalur PKH, Risma: Kalau Saya Nggak Kesini, Anda Nggak Ngapa-Ngapain
Menteri Sosial Tri Rismaharini saat rapat kerja dengan Komisi VIII di Nusantara II, Kompleks Parlemen MPR/DPR-DPD, Senayan, Jakarta, Rabu (25/8/2021). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Menteri Sosial Tri Rismaharini marah besar kepada manajemen salah satu bank penyalur bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) di Kabupaten Jember, Jawab Timur, Sabtu (28/8/2021).

Dihadapan pejabat Kemensos, Bupati dan pihak-pihak lain, Risma menduga kasus gagal pencairan bantuan PKH di Jember disebabkan ada pembiaran dari bank penyalur. 

Risma yakin kasus pembiaran itu akan terus terjadi di Jember bila dirinya tidak datang menginspeksi langsung. Apalagi, kasus gagal pencairan itu dialami 8.000 penerima manfaat yang tercatat sejak Maret-Agustus 2021. 

"Kalau saya nggak datang, pasti kalian nggak ngapa-ngapain itu. Sudah, kalau nggak sanggup (urusi pencairan PKH), mundur. Saya carikan (bank penyalur) yang lain," ujarnya saat sidak ke Kabupaten Jember dan diunggah di channel Youtube Linjamsos Oke, Sabtu (28/8/2021). 

Risma mengungkapkan keinginannya sejak awal agar bank penyalur proaktif mendatangi keluarga penerima manfaat. Bukan pasif menunggu mereka datang. Dia mengatakan, tahu persis tentang kerja perbankan. Apalagi ia bersinggungan dengan bank sejak menjadi Walikota Surabaya. 

"Artinya kalau (gagal pencairan) itu sudah dimulai sejak Maret (3.000 KPM) sampai sekarang Agustus 5.000 KPM itu tidak transaksi terus anda nggak ngapa-ngapain. Itu namanya pembiaran," ujarnya. 

Risma berharap bank penyalur PKH di Jember menghargai usahanya untuk membantu rakyat miskin. Apalagi, proses pendataan dan penyisiran data penerima bansos dilakukan dengan sangat berat. Ia mengaku turun langsung ke daerah-daerah memimpin langsung upaya perbaikan data. 

"Saya ngumpulin data dari daerah, itu dapat perubahan/perbaikan data 100 orang aja senengnya setengah mati setiap hari. Saya harus perbaiki data, turun ke Papua di Puncak Jaya sana. Setiap hari kita sampai jam 2 pagi. Perbaiki data. Sabtu minggu kami masuk, mana suportingnya. Tolonglah. Saya berkali-kali ditegur. Saya dikira tidak mencairkan bansos," ujarnya.[]