News

Sempat Dikritik, Pfizer Kini Tak Mau Lagi Ambil Untung Jual Obatnya di Negara Miskin

Menurut Pfizer, langkah itu akan menguntungkan bagi lebih dari satu miliar orang.


Sempat Dikritik, Pfizer Kini Tak Mau Lagi Ambil Untung Jual Obatnya di Negara Miskin
Pfizer telah dikritik karena caranya meluncurkan vaksin Covid-19 dengan mengambil keuntungan selama pandemi (Reuters)

AKURAT.CO, Pfizer mengumumkan bahwa pihaknya tidak akan lagi mengambil untung dari penjualan obat-obatan yang dipatenkan ke-45 negara berpenghasilan rendah di dunia.

Rencanca dari Pfizer itu mencakup penjualan 23 obat-obatan dan vaksin yang telah dipatenkan, yang mengobati beberapa macam penyakit infeksi dan peradangan langka serta kanker tertentu.

Dikatakan pula bahwa obat-obatan dan vaksin baru akan dijual sesuai dengan biaya produksi alias tak ambil untung.

baca juga:

Raksasa farmasi AS itu sebelumnya telah dikritik karena menghasilkan keuntungan dari vaksin terkait virus corona.

Sementara diketahui, selama pandemi, perusahaan lain, seperti AstraZeneca dari Inggris, dan Johnson & Johnson milik AS, memilih untuk tidak mengambil untung dalam penjualan vaksin Covid-19.

Menurut BBC, wabah virus corona telah membuat untung Pfizer, dengan pendapatannnya tahun lalu sampai berlipat ganda menjadi USD81,3 miliar (Rp1,18 kudriliun). 

Dalam tiga bulan pertama ini, Pfizer juga menghasilkan pendapatan fantastis, mencapai hampir USD26 miliar (Rp380 triliun). Sebagian pendapatan itu pun diperoleh dari pil untuk Covid-19 dan vaksin virus corona yang dikembangkannya dengan perusahaan farmasi BioNTech Jerman.

Perusahaan itu juga telah menghadapi seruan dari para juru kampanye untuk membagikan teknologi pembuatan obatnya guna membantu negara-negara di belahan dunia selatan untuk memproduksi vaksin dan perawatan mereka sendiri.

Sebagai tanggapan, Pfizer mengatakan bahwa vaksinnya dan pengobatan anti-virus untuk virus corona akan ikut dimasukkan dalam rencana baru.

Menurut Pfizer, langkah itu akan menguntungkan bagi lebih dari satu miliar orang.

"Kami tahu ada sejumlah rintangan yang harus diatasi negara-negara untuk mendapatkan akses ke obat-obatan kami. Itulah sebabnya kami awalnya memilih lima negara percontohan untuk menghasilkan solusi operasional dan kemudian berbagi pembelajaran itu dengan negara-negara lain yang tersisa," kata Angela Hwang, presiden grup Grup Pfizer Biopharmaceuticals, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Bill Gates, co-chair dari Bill and Melinda Gates Foundation mengatakan dia berharap perusahaan lain akan mengikuti langkah mereka.

"Kami senang bekerja sama dengan Pfizer dan kami berbicara dengan seluruh industri farmasi tentang inisiatif semacam ini," kata Gates.

CEO Pfizer, Albert Bourla juga telah mengimbau Organisasi Kesehatan Dunia dan mitra lainnya untuk membantu logistik peresepan dan pendistribusian obat-obatan dari perusahaannya.

Sejauh ini, Rwanda, Ghana, Malawi, Uganda, dan Senegal telah berkomitmen untuk bergabung dengan agenda Pfizer tersebut, yang juga dikenal dengan 'Kesepakatan untuk Dunia yang Lebih Sehat'.

Presiden Malawi Lazarus Chakwera mengatakan bahwa perjanjian itu akan memudahkan beban produksi, dan akhirnya menyelamatkan jutaan nyawa.

"Kesepakatan ini memungkinkan negara-negara dan perusahaan untuk berbagi beban biaya dan tugas dalam memproduksi dan mengirimkan pasokan (obat-obatan) yang akan menyelamatkan jutaan nyawa," katanya dalam sebuah pernyataan.

Pendapat serupa juga diutarakan Presiden Rwanda, Paul Kagame, yang berharap perusahaan lain akan mengikuti jejak Pfizer.

"Komitmen Pfizer di bawah program Accord menetapkan standar baru dalam hal ini, yang kami harap dapat ditiru oleh yang lain," ucapnya. []