News

Semoga Sang Surya Selalu Istiqamah Bersinar untuk Indonesia Berkemajuan

Muhammadiyah telah menorehkan tinta emas dalam pencerdasan bangsa dan gerakan keilmuan melalui amal usaha bidang pendidikan


Semoga Sang Surya Selalu Istiqamah Bersinar untuk Indonesia Berkemajuan
Anggota Komisi II fraksi PAN, Guspardi Gaus di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (27/8/2020). (Oktaviani)

AKURAT.CO, Anggota DPR RI dari Fraksi PAN Guspardi Gaus mengucapkan selamat atas Milad Muhammadiyah yang ke-109.

Guspardi berharap Muhammadiyah tetap Istiqomah dengan melanjutkan kiprahnya demi kemaslahatan umat dan terus berkontribusi untuk tercapainya Indonesia yang berkemajuan.

"Semoga Sang Surya Selalu Bersinar untuk Indonesia Berkemajuan, Fastabiqul Khairat," ujar Guspardi, dalam keterangan tertulis, Senin  (22/11/2021).

Guspardi mengatakan, keberadaan persyarikatan Muhammadiyah semakin dirasakan manfaatnya oleh umat dan berbagai lapisan masyarakat serta tetap konsisten dalam berfastafiqul khairat, berkonstribusi besar untuk pembangunan bangsa dan negara.

Menurutnya, Muhammadiyah telah menorehkan tinta emas dalam pencerdasan bangsa dan gerakan keilmuan melalui amal usaha bidang pendidikan mulai dari tingkat paling bawah sampai perguruan tinggi.

"Persyarikatan Muhammadiyah mempunyai sekolah SD, SMP, dan SMA sederajat mencapai 5519. Belum lagi jumlah TK yang dimiliki oleh Aisyiyah, salah satu organisasi sayap Muhammadiyah, yang jumlahnya mencapai 4623. Serta 172 perguruan tinggi," katanya.

"Amal usaha di bidang pendidikan yang jumlahnya begitu besar tidak hanya terpusat di kota-kota besar atau di Pulau Jawa saja. Tetapi tersebar di seluruh pelosok negeri, bahkan di daerah yang umat Islam menjadi minoritas," sambungnya

Selain itu, dia menyebut lembaga pendidikan Muhammadiyah juga hadir di daerah Indonesia timur seperti Papua (Sorong, Manokwari dan Jayapura), NTT (Kupang dan Maumere) dengan mayoritas pelajar dan mahasiswa beragama Kristen.

Menariknya, lanjut Guspardi, seluruh amal usaha pendidikan Muhammadiyah di daerah mayoritas Kristen tidak pernah memaksa siswa atau mahasiswa untuk masuk agama Islam. Kendati di sebagian pendidikan mereka diwajibkan belajar Al-Islam dan Kemuhammadiyah (AIK), mereka tetap diberikan pelajaran agama sesuai agama masing-masing, oleh pengajar yang juga berasal dari agama yang dianutnya.

"Penerimaan masyarakat non muslim di berbagai lembaga pendidikannya, menjadi bukti kedewasaan berpikir dan rasa toleransi persyarikatan Muhammadiyah sebagai organisasi yang moderat," tutur Politisi PAN ini.

Legislator asal Sumatera Barat itupun menambahkan, dalam lintasan perjalanan Indonesia telah puluhan hingga ratusan ribu sumberdaya manusia terdidik dan berkarakter lahir dari gerakan ini, tanpa mengklaim dirinyan gerakan santri.

"Tanpa embel-embel santri, justru Muhammadiyah menjadi inklusif, membaur dengan segenap masyarakat dari beragam golongan secara egaliter sebagaimana watak gerakan Islam ini yang demokratis," ungkapnya.[]