Ekonomi

Semester I 2021, Bank Mandiri Rengkuh Laba Bersih Rp12,5 Triliun

Bank Mandiri membukukan laba bersih konsolidasi semester I 2021 sebesar Rp12,5 triliun atau tumbuh 21,45% (yoy)


Semester I 2021, Bank Mandiri Rengkuh Laba Bersih Rp12,5 Triliun
Kantor pusat Bank Mandiri di Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Kamis (19/7/2018). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk membukukan laba bersih konsolidasi semester I 2021 sebesar Rp12,5 triliun atau tumbuh 21,45% (yoy) dibandingkan dengan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp10,29 triliun.

"Pada triwulan II 2021 ini pertumbuhan bisnis dan profitabilitas terus menunjukkan kinerja yang membaik," tutur Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi, Kamis (29/7/2021).

Darmawan mengungkapkan bahwa membaiknya kinerja finansial Bank Mandiri melalui pencapaian laba bersih yang tumbuh 21,45%, terutama disokong oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 21,5% (yoy) menjadi Rp35,16 triliun.

Pencapaian tersebut turut didukung oleh adanya pertumbuhan pendapatan berbasis jasa atau fee based income sebesar 17,27% (yoy) menjadi Rp15,94 triliun.

Kemudian, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) Bank Mandiri secara konsolidasi hingga kuartal II 2021 tumbuh 19,73% (yoy) menjadi Rp1.169,2 triliun dengan komposisi dana murah 68,49% atau Rp800,8 triliun.

Dia menambahkan, kenaikan DPK secara signifikan dan kenaikan penyaluran kredit yang positif di paruh pertama tahun 2021 berkontribusi kepada pembentukan aset Bank Mandiri secara konsolidasi mencapai Rp1.580,5 triliun, meningkat 16,26% secara tahunan.

Pertumbuhan dana murah yang mencapai 68,49% itu terutama didorong oleh pertumbuhan giro atau bank only sebesar 40,9% (yoy) pada triwulan II 2021.

Darmawan menyatakan tren pertumbuhan dana murah yang terjaga ini ikut menekan biaya dana atau cost of fund (CoF) secara ytd atau bank only menjadi 1,71% turun dari level 2,53% pada akhir tahun lalu.

Sementara, dari aspek intermediasi perbankan, Bank Mandiri mencetak pertumbuhan kredit konsolidasi sebesar 16,4% (yoy) menjadi Rp1.014,3 triliun.