Ekonomi

Semarakan Hari UMKM Nasional 2022, ESB Luncurkan Kampanye Entrepreneur Saling Bantu

Menyambut Hari UMKM Nasional, PT ESB penyedia ekosistem teknologi khusus untuk bisnis F&B, meluncurkan kampanye bertajuk Entrepreneur Saling Bantu

Semarakan Hari UMKM Nasional 2022, ESB Luncurkan Kampanye Entrepreneur Saling Bantu
Gunawan Woen selaku CEO dan Founder dari ESB (dok. EBS)

AKURAT.CO Dalam rangka menyambut Hari UMKM Nasional, PT Esensi Solusi Buana (ESB), penyedia ekosistem berplatform teknologi khusus untuk bisnis F&B, meluncurkan kampanye terintegrasi bertajuk Entrepreneur Saling Bantu guna terus dukung optimalisasi pontensi dari UMKM kuliner nasional.

Dimana melalui kampanye tersebut digelontorkan dengan mempertimbangkan seluruh aspek kebutuhan operasional dalam bisnis F&B skala UMKM, sehingga dapat meningkatkan kapasitas serta daya saing dengan biaya yang efisien dan sangat terjangkau.

Menurut Gunawan Woen selaku CEO dan Founder dari ESB menyampaikan bahwasanya disrupsi digital telah membuka akses bagi banyak UMKM hingga di level warung tradisional.

baca juga:

"Karena itulah sebabnya ESB melihat setiap UMKM kuliner memiliki potensi yang sangat besar. Pemilik bisnis kuliner bisa mendapatkan banyak keuntungan dan peningkatan daya saing apabila mereka terbuka dengan digitalisasi," ucapnya melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (11/8/2022).

Lebih lanjut dirinya menjelaskan bahwa ekosistem ESB memberikan solusi bagi penggunanya untuk mencapai potensi optimal karena mereka bisa fokus sepenuhnya pada pengembangan bisnis dan produk tanpa dipusingkan dengan kendali operasional sehari-hari seperti kasir, pencatatan, laporan keuangan, pemesanan, dan sebagainya.

Seperti yang kita ketahui, lanjutnya, saat ini pemerintah melihat UMKM sebagai salah satu pilar terpenting dalam perekonomian Indonesia. Dikutip dari data Kementerian Koperasi dan UKM (Agustus, 2022), jumlah UMKM saat ini mencapai 64,2 juta dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 61,07% atau senilai 8.573,89 triliun rupiah. Kontribusi UMKM terhadap perekonomian Indonesia meliputi kemampuan menyerap 97% dari total tenaga kerja yang ada serta dapat menghimpun sampai 60,4% dari total investasi.

"Dengan tingginya jumlah UMKM di Indonesia juga tidak terlepas dari tantangan yang ada. Salah satunya adalah pandemi dimana Bank Indonesia mencatat sebanyak 87,5% UMKM terdampak pandemi Covid-19. Dari jumlah ini, sekitar 93,2% terdampak negatif di sisi penjualan. Di sisi lain pandemi juga telah mendorong akselerasi transformasi digital, pengaruh perubahan perilaku konsumen dari offline ke online.  Digitalisasi para pelaku UMKM terbukti mampu tingkatkan pemberdayaan kapasitas UMKM di tanah air, karena itu pemerintah mencanangkan program digitalisasi dengan target sebanyak 30 juta pelaku UMKM masuk dalam ekosistem digital pada tahun 2024," ucapnya.

Melalui hal tersebut lah kami sepenuhnya mendukung program pemerintah untuk digitalisasi UMKM, ESB menciptakan sebuah kampanye khusus bagi UMKM Kuliner di Indonesia yaitu Enterpreneur Saling Bantu.

"Sebab sedari awal berdiri ESB, kita emang fokus pada pengembangan teknologi kelola bisnis F&B yang kini telah menjadi sebuah ekosistem hulu ke hilir. Program-program yang ada pada kampanye Enterpreneur Saling Bantu ini antara lain mengajak sesama entrepreneur kuliner dan sosial media influencers untuk berkolaborasi dan saling bantu promosi bisnis, meluncurkan twibbon untuk awareness, hingga podcast #CurhatUMKM bagi pemilik bisnis kuliner berbagi cerita saling menyemangati," ucapnya.

Efisiensi itu penting bagi setiap bisnis, lanjutnya, melalui laporan keuangan yang mendetail, enterpeneur bisa melihat 3 beban terbesar pada proses bisnis mereka sehingga bisa fokus untuk mengurangi cost. Beban terbesar di bisnis F&B yang pertama adalah food cost. Kalau bisa mengatur inventori dengan benar, pemakaiannya dijaga dan membeli dengan jumlah benar, efisiensi akan dapat menaikkan profit.

"Beban terbesar kedua adalah employee cost, karena itu efisiensi jumlah karyawan dapat menghasilkan penghematan lebih banyak lagi. Beban terbesar ketiga adalah location cost. Kalo lokasi masih sewa, maka enterpreneur harus dapat memanfaatkan lokasi sewa secara maksimal untuk mengisi idle capacity. Dengan begini profit akan meningkat kira-kira 2 atau 3 kali lipat” tegasnya.

Senada dengan Gunawan, Ron Chua selaku Owner dari Kopi Seindonesia  mengatakan bahwa kami sudah merasakan efisiensi biaya serta peningkatan profit secara signifikan dengan menggunakan ESB POSLite.

“Jadi setelah merasakan langsung, saya memutuskan untuk menggunakan ESB dari pertemuan pertama. Semua sudah lengkap di sistem ESB sehingga tidak perlu ada tambahan aplikasi lain. Data dan laporan yang saya butuhkan sudah lengkap dan akurat membuat pengambilan keputusan bisnis menjadi jauh lebih mudah. Contohnya, salah satu kendala umum yang kami hadapi terdapat di jumlah stok. Sering kami tidak tahu stok barang tertentu sisa berapa di ruang penyimpanan. Dengan menggunakan ESB, mudah bagi kami untuk tracking data tersebut. Hasilnya adalah kami bisa memutuskan apakah harus lanjut dengan menu tertentu atau tidak. Hanya butuh 3 hingga 5 bulan untuk memantau hingga mengambil keputusan," ucapnya.